Ternyata Ini Penyebab Akuisisi Bank Permata Gagal Terus

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
10 October 2019 13:45
Ternyata Ini Penyebab Akuisisi Bank Permata Gagal Terus Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki
Jakarta, CNBC Indonesia - Ketidakcocokan harga tampaknya masih menjadi masalah utama tidak terjualnya saham PT Bank Permata Tbk (BNLI) yang dimiliki oleh Standard Chartered Bank dan PT Astra International Tbk (ASII). Meskipun banyak peminat, hingga saat ini belum ada kesepakatan harga dari para pembeli.

Hal tersebut disampaikan Equity Fund Manager PT Majoris Asset Managemen Halimas Tansil, yang menilai persoalan harga menjadi kendala utama tidak terwujudnya deal dari calon pembeli Bank Permata.

"Soal harga memang menjadi permasalahan antara calon pembeli saham Bank Permata dengan pemegang saham sekarang. Ini yang selalu membuat adanya tidak pernah deal," kata Halimas saat berbincang di CNBC Indonesia, Kamis (10/10/2019).



Ia menambahkan, banyak bank-bank besar luar yang tertarik membeli saham Bank Permata karena sudah susah tumbuh di negara asal. Ini membuat bank-bank di Indonesia banyak diminati investor luar negeri.

Selain itu, tambah Halimas, ada beberapa hal yang sedang menjadi perhatian pelaku pasar adalah apakah semua pemegang saham akan melepas.

"Yang sudah jelas, Standard Chartered Bank yang mau lepas, tapi Astra masih belum jelas apakah akan melepas atau tidak," katanya.

Astra kemungkinan akan ikut menjual kepemilikannya jika harga jual kompetitif. "Kalau mengacu pada transaksi akuisisi bank-bank sebelumnya, akuisisi terjadi pada PBV [price to book value] sekitar 1,7x," tambahnya.

Namun jika pada harga tersebut tidak terjual, maka harga ideal penjualan saham Bank Permata dengan PBV 1,5x.

PBV adalah penilaian harga saham dengan nilai buku perusahaan. Biasanya, saham yang memiliki rasio PBV besar, memiliki valuasi yang tinggi (overvalue) sedangkan saham yang memiliki PBV di bawah 1 memiliki valuasi yang rendah alias undervalue.

Rabu kemarin, rumor seputar rencana akuisisi Bank Permata kembali tersebar di para pelaku pasar dan industri perbankan. Kali ini, bank terbesar Singapura, DBS Bank, disebut-sebut akan meramaikan persaingan mendapatkan Bank Permata, bersama dengan Oversea-Chinese Banking Corp (OCBC) yang juga asal Singapura dan Sumitomo Mitsui Financial Group Inc (SMBC) asal Jepang.

DBS disebut-sebut siap membayar akuisisi Bank Permata dengan valuasi US$ 2,3 miliar atau setara Rp 32,55 triliun. Namun pihak perwakilan dari DBS belum bersedia memberikan komentar terkait rencana tersebut.

Sebelumnya, OCBC yang juga bank asal Singapura digadang-gadang akan membeli saham Bank Permata. Namun hingga saat ini kabar tersebut tidak kunjung terealisasi.

OCBC sudah lebih dulu memiliki bank domestik yaitu PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) yang berpotensi digabungkan dengan BNLI jika memenangkan persaingan, dan berpotensi menjadi bank dengan aset terbesar kelima di Indonesia.

Menurut sejumlah pelaku pasar, soal harga yang masih menjadi fokus antar pihak untuk bersepakat bertransaksi. Para pemegang saham Bank Permata kekeuh ingin menjual saham Bank Permata pada harga premium atau dengan PBV di atas 2x.

Hal yang sama juga ingin dilakukan oleh Sumitomo, perusahaan investasi asal Jepang, yang berminat membeli saham Bank Permata milik Astra International dan Standard Chartered Bank yang masing-masing mengantongi 44,56% saham atau 12,49 miliar unit saham Bank Permata. Sisa saham BNLI yaitu 3,04 miliar saham atau 10,88%-nya masih dimiliki investor publik.

Sebelumnya, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) adalah pihak pertama yang serius ingin membeli saham Bank Permata. Bank plat merah ini terang-terangan menyampaikan minatnya untuk membeli Bank Permata.

Namun sayang, proses negosiasi antara Bank Mandiri dengan pemegang saham Bank Permata mentok. Lagi-lagi masalah harga menjadi pertimbangan yang membuat rencana tersebut gagal.

Mulai dari kemarin, pemberitaan seputar rencana akuisisi DBS tersebut kembali ramai diperbincangkan pelaku pasar. Saat penutupan perdagangan sesi I, harga saham BNLI tercatat naik 0,83% ke level Rp 1.215/saham. Year to date saham BNLI melesat 94%. 

Berapa Harga Ideal Bank Permata
[Gambas:Video CNBC]

(hps/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading