Habiskan Rp 66 T Buat Freeport, MIND ID Punya Duit Beli Vale?

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
08 October 2019 16:28
Pemerintah resmi menunjuk MIND ID untuk mengakuisisi 20% saham PT Vale Indonesia.

Jakarta, CNBC IndonesiaPemerintah resmi menunjuk MIND ID untuk mengakuisisi 20% saham PT Vale Indonesia Tbk (INCO). Divestasi sebesar 20% adalah salah satu kewajiban yang tertuang dalam Kontrak Karya (KK).

MIND ID merupakan brand baru yang resmi diperkenalkan untuk holding BUMN pertambangan yang sebelumnya bernama PT Indonesia Asahan Aluminium atau Inalum.

Nantinya jika akuisisi itu rampung, maka pemerintah Indonesia menjadi pemilik saham mayoritas Vale Indonesia, sebagaimana juga terjadi pada divestasi PT Freeport Indonesia (PTFI).

Pada Desember tahun lalu, MIND ID juga merogoh kocek sangat dalam, khususnya melalui penerbitan obligasi global (global bond) guna mengakuisisi saham mayoritas PTFI, salah satu tambang emas terbesar di dunia. Kepemilikan MIND ID di Freeport hingga Desember tahun lalu sebesar 51,25%.


Mengacu laporan keuangan audit Inalum 2018, nilai investasi pada Freeport Indonesia mencapai Rp 65,57 triliun, yang terdiri dari metode ekuitas (penyertaan modal) sebesar Rp19,50 triliun dan uang muka investasi senilai Rp 46,09 triliun.

Lalu berapa dana yang mesti disiapkan MIND ID untuk menyerap divestasi 20% saham Vale?

Mengacu data laporan keuangan Juni 2019, saham beredar milik Vale Indonesia total sebanyak 9.936.338.720 saham, maka porsi 20% saham divestasi yang mesti dibeli MIND ID adalah sebanyak 1.987.267.744 saham.

Dengan asumsi harga rata-rata saham INCO hari ini di level Rp 3.600/saham, maka nilai divestasi diperkirakan sebesar Rp 7,15 triliun. Dana ini mesti disiapkan oleh MIND ID, bisa lebih dari itu jika valuasinya naik, atau bisa juga di bawah itu.

Per Juni 2019, struktur kepemilikan saham Vale Indonesia adalah Vale Canada Limited (VCL) sebesar 58,73% (Penanaman modal asing/PMA), Sumitomo Metal Mining Co Ltd 20,09% (PMA), Vale Japan Limited 0,55% (PMA), Sumitomo Corporation 0,14% (PMA) dan publik 20,49%.

Duitnya MIND ID ada?

Mari kita lihat laporan keuangan Inalum 2018.

Tahun lalu, guna menambal dana untuk membeli Freeport dan biar tidak mengganggu arus kas, Inalum merilis obligasi global total senilai US$ 4 miliar (sekitar Rp 56,4 triliun, asumsi kurs Rp 14.100/US$) pada November 2018.

Ada empat seri, Seri A tenor 
3 tahun US$ 1 miliar, Seri B tenor 5 tahun US$ 1,25 miliar, Seri C tenor 10 tahun US$ 4 1 miliar dan Seri D tenor 30 tahun US$ 750 juta.

Obligasi ini jatuh tempo paling lama 15 November 2048, dengan masing-masing kupon yakni 5,23%, 5,71%, 6,53%, dan 6,75% per tahun.

Kas Inalum
Mengacu data ini, posisi kas dan setara kas Inalum termasuk di dalamnya deposito berjangka masih cukup besar kendati jauh dibandingkan dengan nilai akuisisi saham Freeport. Kas Inalum naik sebesar 27,64% pada tahun lalu menjadi Rp 23,42 triliun.

Kenaikan kas dan setara kas di tahun 2018 terutama disebabkan oleh kenaikan jumlah deposito jangka pendek dari Rp 13,01 triliun menjadi Rp 15,72 triliun. Sementara itu, untuk deposito berjangka, naik sebesar 42,88% menjadi Rp 3,15 triliun.

Adapun nilai aset tetap Inalum pada tahun 2018 mencapai Rp 39,66 triliun, lebih tinggi 23,50% dibandingkan posisi tahun sebelumnya sebesar Rp 32,11 triliun.

Peningkatan nilai aset tetap ini terutama dipengaruhi oleh kenaikan nilai pabrik, mesin dan peralatan pertambangan menjadi Rp 45,29 triliun di tahun 2018 dibandingkan senilai Rp 38,65 triliun. Selain itu, nilai aset dalam penyelesaian juga naik mencapai Rp 6,45 triliun di tahun 2018 dari Rp 4,31 triliun di tahun sebelumnya.

Nilai investasi pada Freeport Indonesia (PTFI) tahun lalu disebutkan mencapai Rp 65,57 triliun yang terdiri dari metode ekuitas Rp 19,50 triliun dan uang muka investasi senilai Rp46,09 triliun.

Pada awalnya, sebelum porsi sahamnya mayoritas, MIND IND terlebih dahulu membeli 100% saham PT Indocopper Investama (PTII) dari Freeport-McMoran Inc. (FCX) dan International Support LLC (International Support) dengan jumlah imbalan sebesar US$ 350 juta atau setara dengan Rp 5,06 triliun untuk mendapatkan 9,36% saham Freeport yang dimiliki oleh PTII.

"Perusahaan mempertimbangkan bisnis yang dimiliki oleh PTII dan mempertimbangkan bahwa pembelian 100% saham PTII adalah akuisisi aset dan bukan kombinasi bisnis. Perseroan mencatat perolehan 9,36% saham PTFI berdasarkan nilai wajar. Setelah itu, PTII berganti nama menjadi IPMM [PT Indonesia Papua Metal and Mineral] untuk laporan keuangan konsolidasian ini, nama PTII dan IPMM dirujuk secara bergantian," tulis manajemen Inalum.

Setelah itu, Grup Inalum melakukan penyertaan modal kepada Freeport Indonesia secara total sebesar US$ 3,5 miliar atau setara dengan Rp 50,68 triliun dan menominasikan Freeport Indonesia untuk membeli 100% saham PT Rio Tinto Indonesia (PTRTI).

Pada Desember 2018, MIND ID menuntaskan penyertaan saham kepada Freeport Indonesia untuk meningkatkan porsi kepemilikan partisipasi Pemerintah atas PTFI dari 9,36% menjadi 51,23%. "Hal ini membutuhkan proses yang panjang, rumit serta pendanaan yang sangat besar hingga US$ 3,85 miliar," tulis manajemen Inalum.

Freeport adalah perusahaan tambang yang bergerak di bidang eksplorasi, tambang dan pengolahan bijih tembaga, emas dan perak di Papua.

Rogoh Rp 66 T Buat Freeport, MIND IND Punya Dana Beli INCO?Foto: Smelter Freeport (CNBC Indonesia/Wahyu Daniel)

Freeport dan PTRTI juga telah menandatangani Perjanjian Partisipasi di mana antara lain, PTRTI memiliki hak pembagian hasil produksi dan kewajiban pembiayaan sebesar 40% Hak Partisipasi di Kontrak Karya PTFI.

Hak dan hasil produksi adalah sebesar 40% di atas "metal strip" sampai dengan batasan volume produksi dan penjualan tertentu dan setelahnya 40% atas semua produksi.

Kembali ke soal pembelian 20% saham Vale yang diestimasi sekitar Rp 7,15 triliun. Dari sisi kas dan aset masih mencukupi. Jika melihat dari rasio liabilitas per ekuitas (liability per equity ratio/total kewajiban dibagi ekuitas), ruang pinjaman bank juga terbuka karena rasio liabilitas per ekuitas Inalum masih rendah.

Total kewajiban atau liabilitas Inalum tahun lalu Rp 89,69 triliun, sementara total ekuitas Rp 75,99 triliun sehingga rasio liability per equity perseroan masih 1x.

Liabilitas terhadap ekuitas (liability to equity ratio) menjadi salah satu rasio solvabilitas keuangan yang dapat mengukur besaran modal perseroan yang didanai dengan utang, sehingga dapat menilik jumlah utang yang mampu ditanggung modal jika terjadi pembalikan arah bisnis.

Rasio solvabilitas lain yang lebih umum digunakan adalah utang terhadap ekuitas (debt to equity ratio/DER) tetapi lumrahnya hanya memasukkan utang yang memiliki beban bunga saja ke dalam hitungan tersebut, baik utang jangka pendek maupun utang jangka panjang. Dibanding DER, liability to equity ratio berarti lebih gross karena tidak mengecualikan utang yang tidak berbunga.

Semakin tinggi liability to equity ratio maka dianggap perseroan memiliki tanggungan utang yang lebih besar dibanding pesaing atau pembandingnya sehingga semakin rendah tingkat solvabilitas tersebut maka keuangan perseroan dianggap lebih baik.

Namun perlu diingat, jumlah liabilitas Inalum tahun lalu yang mencapai Rp 89,69 triliun itu membengkak 229,27% dibandingkan periode tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp 27,24 triliun.

Jangan lupa juga, Inalum juga mesti menyiapkan anggaran sebelum 15 November 2021 untuk membayar obligasi jatuh tempo global bond Seri A yakni sebesar US$ 1 miliar atau sekitar Rp 14 triliun. Global bond ini yang dipakai untuk menutup pendanaan akuisisi Freeport.

Dari sisi kinerja, tahun lalu, pendapatan Inalum masih naik 38% menjadi Rp 65,28 triliun dari tahun sebelumnya Rp 47,18 triliun dengan pendapatan terbesar dari batu bara dan emas. Laba bersih juga naik 68% menjadi Rp 8,28 triliun dari tahun sebelumnya R 4,94 triliun.



MIND ID ditunjuk akuisisi 20% saham INCO

[Gambas:Video CNBC]

 


(tas/gus)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading