Sentimen Positif AS-China Merebak, Pasar SUN Malah Koreksi

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
08 October 2019 13:23
Sentimen Positif AS-China Merebak, Pasar SUN Malah Koreksi
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga obligasi rupiah pemerintah terkoreksi pada sesi awal perdagangan Selasa ini (8/10/2019) di tengah sentimen positif dari ekspektasi pelaku pasar global terkait dengan pertemuan damai dagang Amerika Serikat (AS) dan China pekan ini.

Turunnya harga surat utang negara (SUN) itu seiring dengan koreksi yang terjadi di pasar surat utang pemerintah negara lain. 

Data Refinitiv menunjukkan terkoreksinya harga SUN itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menaikkan tingkat imbal hasilnya (yield).

Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder, sehingga ketika harga naik maka akan menekan yield turun, begitupun sebaliknya. Yield yang menjadi acuan hasil investasi yang didapat investor juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.


SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum. Keempat seri yang menjadi acuan pasar adalah FR0077 bertenor 5 tahun, FR0078 bertenor 10 tahun, FR0068 bertenor 15 tahun, dan FR0079 bertenor 20 tahun.

Seri acuan yang paling melemah adalah FR0068 yang bertenor 15 tahun dengan kenaikan yield 1,8 basis poin (bps) menjadi 7,69%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.

  

Yield Obligasi Negara Acuan 8 Okt'19

Seri

Jatuh tempo

Yield 7 Okt'19 (%)

Yield 8 Okt'19 (%)

Selisih (basis poin)

Yield wajar IBPA 7 Okt'19 (%)

FR0077

5 tahun

6.649

6.641

-0.80

6.6029

FR0078

10 tahun

7.241

7.25

0.90

7.2215

FR0068

15 tahun

7.677

7.695

1.80

7.6681

FR0079

20 tahun

7.845

7.845

0.00

7.8279

Sumber: Refinitiv/IBPA

 


Pelemahan SBN hari ini juga membuat selisih (spread) yield obligasi rupiah pemerintah tenor 10 tahun dengan yield surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor serupa mencapai 566 bps, melebar dari posisi kemarin 566 bps. Yield US Treasury 10 tahun naik 0,2 bps hingga 1,584% dari posisi kemarin 1,582%.

Terkait dengan pasar US Treasury, saat ini masih terjadi inversi pada yield pasangan seri 3 bulan-5 tahun, 2 tahun-5 tahun, 3 tahun-5 tahun, dan 3 bulan-10 tahun, yang lumrah terjadi sejak perang dagang China-AS memanas pada April lalu.

Saat ini pelaku pasar global lebih menantikan inversi yang terjadi pada yield tenor 2 tahun-10 tahun yang mulai mereda jika terjadi lagi, karena menjadi indikator yang lebih menegaskan kembali bahwa potensi resesi AS semakin dekat dibanding inversi tenor lain. Inversi adalah kondisi lebih tingginya yield seri lebih pendek dibanding yield seri lebih panjang.

Inversi tersebut membentuk kurva yield terbalik (inverted yield curve), yang menjadi cerminan investor yang lebih meminati US Treasury seri panjang dibanding yang pendek karena menilai akan terjadi kontraksi jangka pendek, sekaligus indikator adanya potensi tekanan ekonomi bahkan hingga krisis.

 

Yield US Treasury Acuan 8 Okt'19

Seri

Benchmark

Yield 7 Okt'19 (%)

Yield 8 Okt'19 (%)

Selisih (Inversi)

Satuan Inversi

UST BILL 2019

3 Bulan

1.723

1.715

3 bulan-5 tahun

30

UST 2020

2 Tahun

1.464

1.49

2 tahun-5 tahun

7.5

UST 2021

3 Tahun

1.413

1.44

3 tahun-5 tahun

2.5

UST 2023

5 Tahun

1.384

1.415

3 bulan-10 tahun

13.1

UST 2028

10 Tahun

1.553

1.584

2 tahun-10 tahun

-9.4

Sumber: Refinitiv

 

Terkait dengan porsi investor di pasar SBN, data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu (DJPPR) terakhir menunjukkan investor asing menggenggam Rp 1.029,78 triliun SBN, atau 38,61% dari total beredar Rp 2.667 triliun berdasarkan data per 7 Oktober.

Angka kepemilikannya masih positif atau bertambah Rp 136,48 triliun dibanding posisi akhir Desember Rp 893,25 triliun, sehingga persentasenya masih naik dari 37,71% pada periode yang sama. Sejak akhir pekan lalu, investor asing tercatat keluar dari pasar SUN senilai Rp 1,05 triliun dan sejak awal bulan masih surplus Rp 340 miliar.

Koreksi di pasar surat utang hari ini tidak seperti yang terjadi di pasar ekuitas dan rupiah di pasar valas, yang masing-masingnya naik 0,37% dan 0,07%.


Dari pasar surat utang negara berkembang dan maju, mayoritas terkoreksi sehingga yield mayoritas obligasi negara naik.

Hal tersebut mencerminkan investor global sedang menghindari obligasi pemerintah karena sedang dibekap sentimen positif dari ekspektasi positif pertemuan AS-China, terkait dengan sifat instrumen utang yang dinilai lebih aman dibanding pasar ekuitas.

 

Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Negara Maju & Berkembang

Negara

Yield 7 Okt'19 (%)

Yield 8 Okt'19 (%)

Selisih (basis poin)

Brasil

7

7.02

2.00

China

3.116

3.13

1.40

Jerman

-0.574

-0.572

0.20

Prancis

-0.276

-0.271

0.50

Inggris

0.442

0.45

0.80

India

6.662

6.669

0.70

Jepang

-0.214

-0.207

0.70

Malaysia

3.388

3.419

3.10

Filipina

4.587

4.6

1.30

Rusia

6.81

6.84

3.00

Singapura

1.655

1.676

2.10

Thailand

1.435

1.495

6.00

Amerika Serikat

1.582

1.584

0.20

Afrika Selatan

8.185

8.215

3.00

Sumber: Refinitiv

 

TIM RISET CNBC INDONESIA


 

(irv/tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading