Analisis

Kemarin Naik Hari Ini Turun, Emas Mau ke Mana Sih?

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
11 September 2019 13:44
Foto: Emas Batangan dan Koin dalam brankas Pro Aurum di Munich, Jerman pada 14 Agustus 2019. (REUTERS/Michael Dalder)

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga emas dunia mencatat penurunan empat hari berturut-turut pada Selasa (11/9/19) kemarin. Total dalam empat hari tersebut, emas kehilangan nilai sebesar 4,38% hingga ke bawah US$ 1.490/troy ons.

Persepsi investor mengenai kondisi politik dan pasar finansial global yang terus membaik membuat aset-aset berisiko dan berimbal hasil tinggi terus menguat, dampaknya emas sebagai aset aman (safe haven) menjadi tertekan.

Setelah mencatat penurunan lebih 4% dalam empat hari terakhir, harga emas perlahan bergerak naik hingga perdagangan siang ini, Rabu (11/9/19). Pelemahan tajam dalam waktu empat hari tentunya membuat harga emas terlihat lebih murah dibandingkan rekor tertinggi tahun ini US$ 1.557/troy ons yang dicapai pada pekan lalu.  


Meski demikian, pergerakan emas yang sebenarnya masih belum terlihat. Pelaku pasar saat ini masih menanti pengumuman kebijakan moneter dari tiga bank sentral, European Central Bank (ECB), Federal Reserve AS (The Fed), dan Bank of Japan (BoJ).  

Tiga bank sentral tersebut diprediksi akan menggelontorkan stimulus moneter baik itu dengan pemangkasan suku bunga, maupun dengan program pembelian aset (obligasi dan surat berharga) atau yang dikenal dengan quantitative easing

Melansir laporan Reuters, para trader melihat adanya probabilitas sebesar 72% ECB akan memangkas suku bunga sebesar 20 basis poin (bps) Kamis nanti. Beberapa analis juga memprediksi bank sentral pimpinan Mario Draghi ini akan kembali mengaktifkan program pembelian aset (obligasi dan surat berharga) atau yang dikenal dengan quantitative easing.

Sementara itu, The Fed hampir pasti akan memangkas suku bunga menjadi 1,75%-2,00% pada pekan depan, dengan probabilitas 91,2%, berdasarkan piranti FedWacth milik CME Group pagi ini.

Pada krisis finansial 2008, stimulus moneter tersebut menjadi salah satu pemicu penguatan tajam harga emas dunia hingga mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada 6 September 2011.

Penyebabnya adalah status emas sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi. Stimulus moneter menyebabkan pasar dibanjiri likuiditas yang dapat menaikkan inflasi, sehingga daya tarik emas semakin meningkat. 

ECB yang akan mengumumkan kebijakan moneter pada Kamis (12/9/19) besok. Sepekan kemudian, Kamis (19/9/19) giliran The Fed dan BoJ yang mengumumkan kebijakannya. Sebelum adanya kejelasan bagaimana kebijakan bank sentral tersebut, harga emas masih akan bolak-balik naik turun.

(BERLANJUT KE HALAMAN 2)




(pap/pap)
1 dari 2 Halaman
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading