Analisis

Masih Banyak Tanda Tanya di Pasar, Rupiah Mundur Dulu

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
11 September 2019 12:19
Foto: CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

Jakarta, CNBC Indonesia - Kurs rupiah kembali melemah melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Rabu (11/9/19), aksi ambil untung (profit taking) kembali berlanjut setelah Mata Uang Garuda mencapai level terkuat sejak 31 Juli. 

Rupiah berhasil mendekati level "keramat" 14.000/US$ di awal pekan, Bank Indonesia (BI) sebelumnya sempat menyebut rupiah sulit untuk langsung menguat ke bawah level 14.000/US$. Meski kondisi finansial global sudah mulai stabil, tetapi tetap saja masih penuh ketidakpastian.

Pertanyaan besar masih mengemuka: Bagaimana kelanjutan perang dagang AS-China? Apakah akan terjadi resesi? Bagaimana kebijakan bank sentral global, khususnya bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed)?

Investor tentunya berhati-hati saat pasar dipenuhi ketidakpastian, yang membuat rupiah masih "enggan" untuk menguat lebih jauh.

Ketidakpastian merupakan musuh utama para investor, pertanyaan paling terakhir paling cepat bisa terjawab. European Central Bank (ECB) akan mengumumkan kebijakan moneter Kamis (12/9/19) besok, menyusul sepekan kemudian The Fed dan Bank of Japan (BoJ).

Melansir laporan Reuters, para trader melihat adanya probabilitas sebesar 72% ECB akan memangkas suku bunga sebesar 20 basis poin (bps) Kamis nanti. Beberapa analis juga memprediksi bank sentral pimpinan Mario Draghi ini akan kembali mengaktifkan program pembelian aset (obligasi dan surat berharga) atau yang dikenal dengan quantitative easing.

Sementara itu, The Fed hampir pasti akan memangkas suku bunga menjadi 1,75%-2,00% pada pekan depan, dengan probabilitas 91,2%, berdasarkan piranti FedWacth milik CME Group pagi ini.

Baik pemangkasan suku bunga maupun quantitative easing memberikan dampak positif ke pasar global. Pertumbuhan ekonomi dunia diharapkan terpacu lagi dan meredam pelambatan. Sentimen pelaku pasar tentunya akan semakin membaik yang mendorong minat atas aset berisiko (risk appetite). Kondisi tersebut tentunya menjadi berkah bagi rupiah.

Sebelum pertanyaan mengenai kebijakan bank sentral global terjawab, rupiah masih sulit untuk menguat lebih jauh, dan cenderung terkoreksi tipis-tipis. Apalagi perang dagang Jepang-Korsel kembali menyeruak sejak tengah tahun ini.

Kedua negara saling menghapus tetangganya dari daftar penerima fasilitas kemudahan ekspor. Jadi sekarang ekspor Korea Selatan ke Jepang diperlakukan secara normal tanpa keistimewaan dan terkena bea masuk. Begitu pula Jepang memperlakukan ekspor Korea Selatan.

Perkembangan terbaru, Korea Selatan berencana mengadukan Jepang ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Seoul menganggap kebijakan perdagangan Tokyo 'didasari motivasi politik' dan 'diskriminatif'.

"Kami telah memutuskan untuk mengajukan aduan tentang kebijakan Jepang kepada WTO. Tujuannya adalah mencegah kebijakan perdagangan dimanfaatkan untuk kepentingan politik," tegas Yoo Myung Hee, Menteri Perdagangan Korea Selatan, seperti diberitakan Reuters.

Menurut Yoo, korporasi di Negeri Ginseng terpukul akibat kebijakan Negeri Matahari Terbit. Tidak hanya itu, langkah Jepang juga dituding merusak rantai pasok global.

Meski perang dagang Jepang-Korsel tidak sebesar AS-China, tapi tetap saja mengirim sentimen negatif ke pasar finansial.

(BERLANJUT KE HALAMAN 2)




(pap/pap)
1 dari 2 Halaman
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading