'Game' Ekonomi Global Sudah di Level Very Hard Nih...

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
29 August 2019 10:24
Jakarta, CNBC Indonesia - Tahun 2019 bagai permainan video game. Awalnya mudah dan menyenangkan, tetapi semakin lama kok tambah susah dan menantang ya.

Pada awal-awal 2019, dunia sedang larut dalam euforia setelah melalui 2018 yang begitu berat. Tahun lalu, hampir seluruh dunia kecuali Amerika Serikat (AS) mengalami perlambatan ekonomi, tidak terkecuali Indonesia.

Memasuki 2019, pelaku pasar seakan lega dan siap berlari sprint. Aset-aset berisiko di negara berkembang diburu sehingga mata uang negara emerging market seperti rupiah menguat.


Sepanjang Januari, rupiah menguat 2,82% di hadapan dolar AS. Sementara selama kuartal I-2019, penguatan mata uang Tanah Air tercatat 0,97%.

Namun semakin ke sini, situasi jadi tambah runyam. Tingkat kesulitan semakin tinggi, kondisi panas di mana-mana.

Pertama, perang dagang AS-China belum juga menemukan solusi yang berarti. Sebenarnya kedua negara sempat nyaris mencapai kesepakatan damai dagang pada Mei lalu. Namun (kalau menurut versi AS) China 'putar balik' dan ogah menyepakati hal-hal yang sudah disetujui bersama.

Baca: Tuduhan Baru Trump: China Ingkari Perjanjian Dagang!

Akibatnya, perang dagang pun memanas. Pelaku pasar kini menanti tanggal 1 September, karena itu menjadi momentum pengenaan bea masuk baru di AS dan China yang membuat api perang dagang semakin bergelora.


Perang dagang AS-China tidak hanya berdampak kepada perekonomian kedua negara, tetapi seluruh dunia. Sebab, AS dan China adalah dua kekuatan ekonomi terbesar di planet bumi.

 

Kala dua raksasa itu saling hambat, maka rantai pasok global akan terganggu. Kala rantai pasok bermasalah, arus perdagangan dan investasi pun melambat. Dampaknya adalah perlambatan ekonomi global, yang kalau terus memburuk bukan tidak mungkin berujung menjadi resesi.



(BERLANJUT KE HALAMAN 2)


(aji/aji)
1 dari 3 Halaman
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading