Poundsterling Lagi-Lagi Terjun Bebas, Dekati Level Disparitas

Market - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
30 July 2019 13:17
Poundsterling Lagi-Lagi Terjun Bebas, Dekati Level Disparitas
Jakarta, CNBC Indonesia - Mata uang poundsterling Inggris kembali terjun bebas pada Selasa (30/7/19) di semua pasar, dan bahkan di perdagangan sesi Asia yang secara mengejutkan terjadi depresiasi meski biasanya jarang terjadi pergerakan poundsterling secara signifikan di pasar ini.

Menguatnya kemungkinan Inggris keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan (no deal Brexit) menjadi penyebab jebloknya mata uang Inggris sejak Senin kemarin.

Pada pukul 12:40 WIB, poundsterling diperdagangkan pada kisaran US$ 1,2128 atau melemah 0,73% di pasar spot, melansir data Refinitiv. Pada Senin kemarin poundsterling jeblok 1,32%, dan kini masih berada di level terendah sejak Maret 2017.






Sebagaimana dilaporkan Reuters, pada hari Minggu kemarin pemerintahan Perdana Menteri Boris Johnson sedang mempersiapkan skenario no-deal Brexit pada 31 Oktober nanti, karena Uni Eropa hingga kini masih menolak untuk kembali mengatakan perundingan.

Jika melihat lebih lanjut ke belakang, poundsterling sudah tertekan sejak Boris Johnson resmi menjabat sebagai perdana menteri pada pekan lalu. Hingga hari ini poundsterling melemah empat hari beruntun, dengan total depresiasi sebesar 2,9%.

Lebih ke belakang lagi, poundsterling sudah turun sebanyak tujuh dari delapan hari terakhir dengan total koreksi 3,4%.


Tanda-tanda bakalan sulitnya Inggris meminta negosiasi ulang sudah terlihat pada pekan lalu. Presiden Komisi Eropa Jean-Claude Juncker memberitahu PM Johnson jika kesepakatan yang telah disetujui pendahulunya (Theresa May) adalah yang terbaik dan satu-satunya perjanjian Brexit.

Junkker juga mengatakan Uni Eropa akan menganalisis ide-ide yang diberikan Inggris, asalkan masih dalam satu koridor dengan perjanjian sebelumnya.

No-deal Brexit merupakan kejadian yang paling ditakuti pelaku pasar di tahun ini. Bank sentral Inggris (Bank of England/BOE) bahkan memprediksi Negeri Ratu Elizabeth ini akan mengalami resesi terburuk sejak perang dunia kedua.

Prediksi dari Morgan Stanley jika poundsterling akan mencapai level paritas (1 poundsterling = 1 dolar AS) kini semakin berpeluang terjadi. Bank investasi global ini mengatakan skenario kurs poundsterling mencapai US$1 sampai US$1,1 akan terjadi jika Inggris keluar dari Uni Eropa tanpa kesepakatan.

Senada dengan Morgan Stanley, HSBC juga memprediksi hal yang sama yakni poundsterling kemungkinan mencapai level terendah sepanjang masa US$ 1,0545 yang disentuh pada Maret 1985.

TIM RISET CNBC INDONESIA 


(pap/pap)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading