Saham Bliss Properti Roller Coaster, Ada yang Protes nih!

Market - Monica Wareza, CNBC Indonesia
16 July 2019 18:23
Saham Bliss Properti Roller Coaster, Ada yang Protes nih!
Jakarta, CNBC Indonesia - Saham emiten properti PT Bliss Properti Indonesia Tbk. (POSA) pada akhir perdagangan Selasa sore ini (16/7/2019) ditutup dengan pelemahan 24,77% ke harga Rp 322/saham, dari posisi penutupan perdagangan Senin kemarin di harga Rp 428/saham.

Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI), mencatat saham perusahaan yang dimiliki juga oleh Michael Riady, generasi ketiga konglomerasi bisnis Grup Lippo ini diperdagangkan sebanyak 43,53 juta saham, dengan nilai transaksi Rp 14,79 miliar dan frekuensi 4.444 kali.

Sebetulnya anjloknya harga saham POSA ini sudah terjadi sejak Selasa pagi, tak lama setelah dibukanya perdagangan. Di 5 menit perdagangan pertama saham ini sudah tertunduk ke harga Rp 380/saham dan terus melemah hingga akhirnya hampir menyentuh level auto reject bawah harian.



Dalam 6 hari perdagangan terakhir, saham POSA sudah minus 33,47%.

Saham yang mulai ditransaksikan sejak tercatat di BEI pada 10 Mei 2019 ini sudah mengalami penguatan 114,66% hingga Selasa ini dari harga IPO Rp 150/saham.

Namun, saham ini pernah mencapai harga tertingginya di Rp 755/saham atau naik 403,33% dari harga IPO tersebut. 

Hanya saja, pergerakan signifikan saham POSA sejak IPO ini mendapat protes dari pelaku pasar.

Di kalangan pelaku pasar beredar kabar bahwa pihak perusahaan dan penjamin emisi efek yakni PT NH Korindo Sekuritas Indonesia dianggap telah melakukan perdagangan semu atas saham POSA.

Apalagi waran perusahaan juga sempat 'terbang'. Pada 15 Mei lalu, waran POSA sempat mencatatkan nilai transaksi cukup fantastis yakni Rp 314,26 miliar. Nilai tersebut 33 kali lipat lebih tinggi dibandingkan transaksi harian saham POSA yang hanya Rp 9,37 miliar.

Fokus pelaku pasar soal POSA ditengarai karena saham ini terus-terusan mengalami pergerakan yang signifikan dan mengalami auto reject atas selama beberapa hari setelah listing. Kenaikan tersebut terjadi pada periode 10-15 Mei 2019.

Begitu juga dengan waran yang juga ditawarkan bersamaan dengan penawaran umum tersebut. Harga waran tersebut, menurut pelaku pasar, tiba-tiba mengalami penurunan drastis, dari Rp 490 menjadi Rp 15 sehingga telah menelan banyak korban.

Berdasarkan surat yang diterima CNBC Indonesia, kantor hukum Timotius & Partners Law Firm mengundang pihak-pihak terkait yakni manajemen POSA dan NH Korindo untuk melakukan mediasi.

Dalam surat tersebut, disebutkan kedua hal yang terjadi yakni pergerakan saham dan waran diduga kuat hanya dapat dilakukan oleh pihak-pihak tertentu atau pihak-pihak pengendali dengan menguasai POSA pada saat penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO). 

"Sebelum klien kami melakukan tindakan hukum untuk melaporkan berbagai dugaan pelanggaran hukum yaitu menyesatkan, manipulasi, dan atau turut serta menipu kepada Kepolisian, OJK, dan insitusi lain serta mengajukan class action dan pengumuman di media massa, maka demi menjaga nama baik perseroan [POSA] dan penamin emisi [NH] maupun para manajemennya, kami perlu merundingkan secara serius terlebih dahulu," tulis surat tersebut.

"Untuk itu kami mengundang dan memohon kesediaan Bliss dan NH untuk datang mediasi," tulis surat itu.

Bliss Properti Indonesia merupakan pengelola pusat perbelanjaan seperti Ambon City Center dan beberapa pusat perbelanjaan lainnya di Kota Ponorogo, Lombok, Tanjung Pinang dan Jambi.

Benny Tjokrosaputro tercatat sebagai salah satu pemegang saham, dengan kepemilikan 0,06%.

Hingga akhir Oktober 2018 perusahaan mencatatkan rugi bersih Rp 268,54 miliar. Jumlah tersebut naik signifikan dari rugi yang diderita akhir Oktober 2017 yang mencapai Rp 65,66 miliar.

Perseroan mengantongi pendapatan sebesar Rp 58,17 miliar pada akhir 2018, atau turun 21,69% dibandingkan periode Oktober 2017 yang mencapai Rp 74,29 miliar.

Direktur Bliss Properti Astried Damayanti mengatakan tahun ini diperkirakan perusahaan hanya akan menekan kerugiannya dari tahun lalu sebesar 5%.

Hingga akhir tahun lalu perusahaan masih mengantongi beban bunga dari pinjaman perbankan.
"Bottom line [laba bersih] itu karena kami properti jadi masih ada interest expenses jadi kami harapkan at least stabil saja atau turun 5% [kerugiannya]," kata Astrid di Gedung Bursa Efek Indonesia [BEI], Jakarta, Jumat (10/5) usai listing.
(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading