Jokowi-Prabowo Kopdar, Maknanya Apa dari Sisi Ekonomi?

Market - Efrem Limsan Siregar, CNBC Indonesia
15 July 2019 09:22
Jokowi-Prabowo Kopdar, Maknanya Apa dari Sisi Ekonomi?
Jakarta, CNBC Indonesia - Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo Subianto bertemu untuk pertama kali pascapemilu di Mass Rapid Transit (MRT), Sabtu (13/7/2019). Pertemuan Jokowi dengan Ketua Umum Partai Gerindra itu dapat diamati dalam kacamata politik-ekonomi.

Didik J Rachbani, ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) adalah salah satu yang mengamatinya.

Dalam Diskusi Online Agenda Ekonomi 2019-2024 Pasca-Rekonsiliasi, Minggu (14/7/2019), Didik menilai pertemuan Jokowi dan Prabowo saat itu bersifat informal namun memiliki makna besar bagi rekonsiliasi politik.


"Secara ekonomi politik dan bagi saya pertemuan Jokowi dan Prabowo yang bersifat informal tetapi bermakna besar sebagai suatu rekonsiliasi politik, yang ada dampaknya terhadap ekonomi, kebijakan ekonomi dan masa depan ekonomi Indonesia," kata Didik.


Diskusi ini diikuti juga oleh ekonom INDEF lainnya, di antaranya Esther Sri Astuti, Berly Martawardaya dan Imadudin Abdullah.


Dari segi kepentingan ekonomi dan politik, pertemuan Jokowi dan Prabowo, tambah Didik, bersifat positif. Artinya, demokrasi menjadi lebih matang dan sehat sehingga dapat memberikan kepastian pada dunia usaha.

Ia pun mengakui bahwa sebagian orang kecewa pada pertemuan tersebut. Namun, hal ini dapat dilihat secara terpisah untuk perbaikan Pemilu selanjutnya. Secara garis besar, pertemuan Jokowi dan Prabowo dianggap mengedepankan kepentingan nasional.


Didik menilai momentum ini sangat penting. Sebab, Jokowi ke depan akan mempunyai landasan politik yang baik untuk bekerja.

Meski demikian, Didik mengingatkan bahwa masih ada evaluasi untuk periode pertama Jokowi. Ada pekerjaan rumah yang belum tuntas dan perlu diselesaikan di periode kedua.

Menurut Didik, dari banyak sasaran yang ada di dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), hanya satu yang berhasil dicapai, yakni kebijakan pengendalian inflasi berhasil baik.

Selama 4,5 tahun kepemimpinan Jokowi, sasaran pertumbuhan ekonomi yang ditarget 7-8% per tahun hanya merangkak di tingkat 5% setiap tahun.


Foto: Infografis/Dari ucapan selamat hingga Cebong dan Kampret, JOKOWI-PRABOWO Bersatu! /Aristya Rahadian Krisabella

Didik mengakui bahwa pertumbuhan ini memang relatif lebih tinggi dibandingkan negara-negara maju yang sudah mature dan tidak bisa tumbuh lebih tinggi lagi.

"Tetapi bagi Indonesia pertumbuhan ekonomi tinggi sangat diperlukan untuk menarik golongan muda yang masuk pasar kerja dan kelompok penganggur dan setengah pengangguran yang ada," ucapnya mengevaluasi.

Mantan anggota DPR dari Partai Amanat Nasional ini menilai kerja sama dan kepemimpinan ekonomi menjadi hal yang perlu diperhatikan pada periode mendatang.

Di sisi lain, kebijakan pemerintah juga diharapkan dapat memperkuat sektor-sektor utama yang berpengaruh besar terhadap ekonomi dan  sosial, seperti sektor industri, pertanian, dan pariwisata.


"Mendongkrak tingkat pertumbuhan dari 5% ke 6,5% atau 7% seperti janji kampanye sangat penting dan harus menjadi sasaran utama agar Indonesia lepas dari jebakan middle income," jelasnya.


Bikin adem, simak pertemuan Jokowi-Prabowo.

[Gambas:Video CNBC]



(tas)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading