Terungkap, di Balik Akusisi Bank Royal Rp 1 T oleh BCA

Market - Yanurisa Ananta, CNBC Indonesia
25 April 2019 18:59
Terungkap, di Balik Akusisi Bank Royal Rp 1 T oleh BCA
Jakarta, CNBC Indonesia - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) punya cerita panjang sampai akhirnya mengakuisisi PT Bank Royal Indonesia. Direktur Utama Bank BCA, Jahja Setiaatmadja berkisah aksi korporasi ini bermula dari kebijakan konsolidasi perbankan yang dikeluarkan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). 

Bak gayung bersambut, BCA kala itu merasa sebagai 'kapal induk besar' kesulitan bergerak. Di tengah banyaknya digital banking yang berkembang di luar negeri dan dalam negeri seperti SoftBank, Digibank, dan KakaoBank. Digempur pula oleh kehadiran financial technology (fintech). Bahkan fintech berkembang ke bidang pembayaran (payment). 

"Kita merasakan penting sekali buat digital bank. Itu awal ceritanya, jadi memang kebutuhan karena kita tahu ketentuan dalam Rencana Bisnis Bank (RBB) kalau kita mau lakukan akuisisi, pengembangan usaha harus kita cantumkan di dalam RBB. Maka itu kita cantumkan untuk dukung konsolidasi perbankan," kata Jahja dalam Paparan Kinerja Bank BCA Kuartal I 2019, Jakarta, Kamis (25/4/2019). 


Jahja mengungkapkan, dalam RBB tahun ini belum dicantumkan bahwa bank yang akan diakuisisi itu akan dijadikan bank digital meski saat itu pihaknya mantap menjadikan Bank Royal sebagai digital bank yang dikembangkan di luar BCA. Di sisi lain fintech juga berkembang cepat, BCA tidak bisa mengikuti arus tersebut karena berpotensi membuat konsumen kebingungan. 

Terungkap, di Balik Akusisi Bank Royal Rp 1 T oleh BCABank Royal (Foto: Bankoffices.Blogspot)

"Jadi kita berpikir bagaimana kita embrio itu di salah satu bank kita sebut digital bank. tetapi sebelum kita ambil keputusan, kita tahu tidak gampang cari bank yang secara valuasi reasonable untuk mau menjual banknya. Biar dia bank kecil mereka masih pede karena banyak asing yang masuk ke Indonesia dalam beberapa tahun ini," ungkap Jahja. 

BCA otomatis bersaing dengan bank-bank asing yang mengincar bank Indonesia. Tapi, di tengah keinginan konsolidasi, BCA juga tidak ingin harganya terlampau tinggi. Padahal, lanjut Jahja, posisi bank asing di Indonesia itu dari nothing to something. Bank asing juga harus mengurus izin dan networking yang terkena ketentuan bundling di mana jika ingin membuka cabang di satu kota harus buka juga di lokasi lain.

"Mau buka di Jakarta harus buka di luar Jawa juga misalnya. Sehingga buat mereka tidak bisa pilih-pilih. Kalau buat kita di seluruh pelosok [cabang] kita sebagian besar sudah punya. Untuk itu tidak ada value added. Itu kenapa bank asing lebih berani menawar harga dibanding kita," imbuh Jahja. 

Jahja melanjutkan, tim IT BCA kemudian mempelajari perkembangan teknologi. Sambil menunggu digital bank, tim IT melakukan pengujian jika digital bank itu diterapkan di dalam tubuh BCA sendiri. Hasilnya, kata Jahja, sangat baik. "Kita tahu teknologi itu kalau satu produk tercipta harus secara nasional. Bisa bikin segmen-segmen, model-model, itu sangat memudahkan bongkar pasang suatu sistem dan tidak mesti semua nasabah harus punya itu," kata Jahja.


Misalnya, BCA saat ini memiliki fitur OneKlik, Keyboard BCA dan QR payment. Setiap nasabah tidak harus menggunakan seluruh fitur tersebut. Seiring berjalannya waktu, tambah Jahja, BCA sadar bahwa digitalisasi tidak harus serta merta diaplikasikan di dalam platform baru, bisa juga diterapkan di platform lama. 

"Mungkin Digibank di India sukses, Digibank di sini susah juga. KakaoBank setahu saya masih merugi, walau secara group ekosistemnya masih baik. SoftBank meski gemanya hebat, tapi profitabilitasnya relatif beda dengan gemanya," lanjut Jahja. 

"Kalau gitu kita tidak cocok juga kalau harus bikin digital bank khusus sendiri. Waktu itu kita bicara dengan OJK, tapi karena RBB kita sudah pernah masuk jadi seperti orang punya utang tidak bisa mengelak. OJK juga tawarkan adanya bank fokus. Kan [kebijakan] single present ini akan ditinjau ulang, akan ada bank fokus," tuturnya. 

Jahja menyatakan saat ini pihaknya belum bisa menginformasikan ke arah mana Bank Royal yang dibeli seharga Rp 1 triliun itu akan dikembangkan. Pihaknya akan coba mencari fokus bisnis yang bisa memberikan value added kepada BCA. Terkonfirmasi bahwa Bank Royal tidak akan dijadikan bank digital.

"Ada yang bilang membeli 2,8 x [nilai bukunya] itu mahal. Itu relatif lah karena bank asing ada yang berani [menawar] 4 kali sampai 5 kali. Ini cukup reasonable karena ini betul-betul pasar yang masih banyak diminati bank asing." pungkasnya. 

BCA bersama dengan BCA Finance mengakuisisi 100% saham Bank Royal atau setara Rp 2,872 juta saham senilai Rp 1,007 triliun. Penandatanganan jual-beli saham secara bersyarat dilakukan pada 16 April 2019.

Mengutip publikasi laporan keuangan 2018, total ekuitas yang dimiliki oleh Bank Royal Rp 334,502 miliar. Artinya, dengan akuisisi ini BCA membeli Bank Royal secara premium sebesar 3x nilai bukunya. 

Simak video tentang BCA caplok Bank Royal Rp 1 triliun di bawah ini:
[Gambas:Video CNBC]


(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading