Hikayat Kertas Basuki Rachmat, Terluka tapi Asa Masih Ada!

Market - tahir saleh, CNBC Indonesia
23 April 2019 13:04
Hikayat Kertas Basuki Rachmat, Terluka tapi Asa Masih Ada!
Jakarta, CNBC Indonesia - Nasib buruk tengah menimpa PT Kertas Basuki Rachmat Indonesia Tbk (KBRI), perusahaan kertas asli Indonesia yang didirikan sejak tahun 1978.

Setelah melaporkan bahwa pabrik berhenti beroperasi, saham perusahaan akhirnya dihentikan sementara alias suspensi oleh Bursa Efek Indonesia (BEI) mulai Selasa 23 April 2019, di semua pasar.

"Dengan mempertimbangkan kondisi perusahaan tersebut [kegiatan produksi terhenti], maka dalam rangka menjaga pasar yang teratur, wajar dan efisien, BEI memutuskan untuk suspensi saham KBRI. Kami meminta kepada pihak yang berkepentingan untuk selalu memperhatikan keterbukaan informasi dari KBRI, kata Kadiv Penilaian Perusahaan BEI, Adi Pratomo Aryanto, dalam keterbukaan informasi, Selasa (23/4/2019).


Seberapa buruk kondisi Kertas Basuki Rachmat, adakah harapan bagi perusahaan untuk bangkit di tengah ketatnya persaingan?

Saham KBRI terakhir diperdagangkan di level Rp 50/saham dengan kapitalisasi pasar Rp 434,40 miliar. Sudah 5 tahun terakhir saham ini masuk saham tidur.


Perusahaan tercatat di BEI pada 11 Juli 2008 setelah pada 30 Juni tahun tersebut perseroan mengantongi pernyataan efektif dari otoritas pasar modal, ketika itu masih Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK, kini Otoritas Jasa Keuangan/OJK).

Pada saat initial public offering (IPO) atau penawaran saham perdana, pada 4,5,7 Juli 2008, Kertas Basuki berhasil meraih dana IPO Rp 353,60 miliar dengan jumlah saham yang dilepas sebanyak 1,36 miliar saham seri B dengan harga Rp 260/saham.

Semula semua baik-baik saja, tapi ketatnya persaingan di sektor kertas membuat perusahaan mulai mengalami penurunan kinerja. Laporan keuangan 2010 mencatat, perusahaan terus mencatatkan penurunan pendapatan.


Pada periode 2010 itu, pendapatan masih dibukukan sebesar Rp 76,28 miliar, kemudian turun di 2011 menjadi Rp 25,34 miliar. Bahkan pada 2010, rugi yang diderita mencapai Rp 486,26 miliar.

Akhir tahun 2018, p
enjualan bersih Kertas Basuki tinggal tersisa Rp 2,87 miliar dari tahun 2017 yang masih Rp 144,03 miliar. Rugi bersih yang dicatatkan mencapai Rp 123,37 miliar dari rugi 2017 sebesar Rp 126,09 miliar.

Aset perusahaan tinggal Rp 1,05 triliun turun dari aset 2017 sebesar Rp 1,17 triliun. Adapun kas perusahaan tersisa hanya Rp 911,98 juta dari tahun sebelumnya Rp 2,04 miliar, dengan jumlah liabilitas Rp 889,24 miliar. Dengan kinerja tersebut, data BEI, mencatat rasio pengembalian terhadap ekuitas (ROE) minus 73,52%, dan rasio pengembalian aset (ROA) minus 11,78%.

Bandingkan dengan dua raksasa kertas Indonesia dari Grup Sinar Mas. Laba bersih PT Indah Kiat Pulp & Paper Tbk (INKP) tahun lalu naik menjadi US$ 588,21 juta atau setara Rp 8,52 triliun (kurs Rp 14.481/US$) dan laba bersih PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) melesat menjadi US$ 254,71 miliar dari 2017 yakni US$ 32 juta.


Pelanggan penjualan kertas Basuki kini juga tinggal dua saja yang terbesar atau di atas 10% yakni CV Best Jaya Sukses dan PT Timur Nusantara.

Direktur Utama Kertas Basuki Rachmat, Henry Priyantoro menjelaskan latar belakang terhentinya operasional pabrik perusahaan.
Pada akhir tahun 2014, perseroan mendapatkan komitmen sindikasi perbankan sebesar US$ 70 juta, berupa kredit investasi senilai US$ 45 juta dan kredit modal kerja US$ 725 juta.

"Akan tetap salah satu bank anggota sindikasi menarik diri dari komitmen memberikan kredit US$ 10 juta. Dampak dari batalnya komitmen itu, perseroan tak mampu beroperasi pada level yang seharusnya, bahkan belum pernah melewati level break even point atau titik impas," katanya dalam surat penjelasan ke BEI, Senin (22/4/2019).

Pada akhirnya, katanya, kemampuan perusahaan untuk beroperasi terus menurun, terkait dengan kecukupan modal kerja perusahaan.

"Dengan demikian, dapat kami sampaikan, sejak kuartal I 2018, kegiatan yang terhenti berupa kegiatan produksi di pabrik, akan tetapi perusahaan tetap melakukan aktivitas penjualan."

Foto: Kertas Basuki Rachmat

Kertas Basuki Rachmat didirikan pada tahun 1978 dengan nama PT Petroneks yang awalnya berbisnis minyak bumi. Perusahaan berganti nama pada 9 April 1979 menjadi PT Indhasana.

Sejarah perusahaan mencatat, pada 2008 PT Indhasana berganti nama menjadi PT Kertas Basuki Rachmat Indonesia Tbk dan tahun tersebut menjadi perusahaan terbuka (emiten). Indhasana mengawali usaha kertas dengan mengakuisisi dua pabrik kertas berlokasi di Jawa Tengah dan Jawa Timur, yaitu Kertas Basuki Rahmat di Banyuwangi, dan PT Kertas Blabak (KBM) di Magelang .

Henry mengatakan sepanjang tahun lalu, aktivitas operasi perseroan hanya bertumpu kepada penjualan atas persediaan serta penerimaan dari piutang yang tersisa pada periode sebelumnya.

Namun arus kas masuk yang didapatkan dari kedua sumber tersebut tidak mencukupi sebagai modal kerja untuk mengoperasikan mesin-mesin pabrik perseroan. "Karena Kas Masuk tersebut hanya mencukupi sebagian beban operasional perseroan, gaji karyawan termasuk di dalamnya," ceritanya dalam surat tersebut.

Sebab itu, sejak kuartal I-2018, operasional pabrik terhenti. Padahal perseroan dan operator dalam kondisi siap untuk menjalankan produksi. "Pelanggan-pelanggan juga masih berharap mendapatkan produk perseroan. Akan tetapi, Modal Kerja belum didapatkan."

Henry dan tim bukan tak berusaha. Selama 2017, perseroan fokus berusaha mendapatkan modal kerja dari sektor perbankan. Akan tetapi sampai dengan akhir 2017, pendanaan dari perbankan belum didapatkan.

Tahun 2018, manajemen juga menjajaki potential investor maupun potential strategic partner. "Kedua skema tersebut secara paralel terus dijajaki, akan tetapi sampai dengan berakhirnya tahun 2018, belum mengerucut kepada satu pilihan ataupun sebuah keputusan."

Kondisi itu menjadikan perseroan masih harus menghadapi masalah kecukupan modal kerja, sehingga terpaksa menghentikan kegiatan produksi. "Untuk mempertahankan keberlangsungan usaha, salah satu yang ditempuh perseroan dengan jalan mengajukan pengembalian kelebihan pembayaran pajak kepada KPP Banyuwangi."

Selain itu, pemegang saham pengendali juga mendorong manajemen perseroan agar terus berupaya untuk mendapatkan modal kerja guna mengoperasikan pabrik.

Data laporan keuangan 2018 mengungkapkan saham perusahaan kini dimiliki oleh Suisse Charter Investment Ltd sebesar 34%, Wyoming International Limited 30,40%, Quest Corporation 10,60% dan investor publik 25%. Suisse adalah perusahaan yang berbasis di Virgin Island, sementara Wyoming ada di Republik Seychelles.

Di tengah ketatnya persaingan ini, tentu publik berharap perusahaan bisa memulihkan kinerja sehingga bisa terus bertumbuh ke depan.

(tas/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading