Menakar Cuan Saham Sinarmas: INKP Termurah & BSIM Termahal

Market - dwa, CNBC Indonesia
08 April 2019 15:39
Menakar Cuan Saham Sinarmas: INKP Termurah & BSIM Termahal
Jakarta, CNBC Indonesia - Sepanjang tahun 2018, emiten asuhan Grup Sinarmas menghadapi suka dan duka karena menorehkan kinerja keuangan yang cukup bervariatif. Dari 11 perusahaan Grup Sinarmas yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI), 4 membukukan kenaikan laba bersih, sedangkan sisanya mencatat penurunan laba bersih.

Beberapa penyebab laba lima emiten melesat adalah peningkatan signifikan pada pos penjualan, keuntungan yang didapat dari selisih kurs, pendapatan dari entitas anak, dan lain-lain.

Sebagai contohnya, laba TKIM berhasil melejit 667,6% year-on-year (YoY) karena salah satu entitas anaknya, yaitu PT Oki Pulp & Paper Mills berhasil memberikan kontribusi pemasukan hingga US$ 230,19 juta, atau setara Rp 3,33 triliun (kurs Rp 14.481/US$). Padahal di tahun 2017, kontribusi pemasukan hanya US$ 49,46 juta.

Di lain pihak, penyebab laba tujuh emiten Grup Sinarmas anjlok bahkan ada yang rugi pos beban pembiayaan seperti beban usaha dan beban operasional meleset. Terlebih lagi, beberapa perusahaan juga mencatatkan kerugian yang lebih dalam atas selisih kurs.


Contoh laba yang paling anjlok adalah BSIM yang labanya terjun 84,17% YoY dari Rp 318,92 miliar di tahun 2017 menjadi hanya Rp 50,47 miliar tahun lalu. Laba perusahaan terkoreksi dalam karena beban operasional tahun 2018 naik hingga 33,87% YoY.

Nah, berdasarkan kinerja keuangan perusahaan, terutama bottom line (laba bersih), pelaku pasar sejatinya dapat memutuskan layakkah untuk terus berinvestasi pada suatu emiten tertentu. Atau malah sebaiknya melipir ke pesaingnya atau industri lain karena prospek bisnis kurang memuaskan.

Nah, untuk mengukur apakah harga saham suatu emiten memang cocok diapresiasi dengan harga saat ini, salah satu indikator yang dapat digunakan adalah price-earning-ratio/PER.

Sebagai informasi PER adalah salah satu bentuk analisis fundamental perusahaan dengan cara membagi harga saham saat ini dengan keuntungan tahunan per saham. Hasil perhitungan PER dapat diimplikasikan sebagai seberapa besar ekspektasi investor terhadap return (imbal hasil) emiten.

Emiten dikatakan relatif mahal (overvalued) ketika PER-nya lebih besar dibanding PER Industri. Sebaliknya emiten disebut relatif murah (undervalued) ketika nilai PER-nya lebih rendah dibanding PER industri. Perlu diingat, jika perusahaan mencatatkan kerugian, maka PER tidak dapat dihitung.

Berikut adalah kinerja keuangan Grup Sinarmas termasuk perhitungan PER masing-masing perusahaan. Harga saham yang digunakan adalah harga pada penutupan perdagangan sesi 1.

Kinera Grup Sinarmas, INKP Paling Termurah, BSIM TermahalFoto: CNBC Indonesia/Dwi Ayunintyas


Jika dibandingkan dengan PER industrinya, emiten Grup Sinarmas yang memiliki harga saham relatif murah adalah TKIM, DUTI, dan INKP. Pasalnya hasil PER ketiga emiten tersebut jauh lebih rendah dibanding perolehan PER Industri.

Alhasil berdasarkan analisis fundamental besar kemungkinan harga saham ketiganya akan terus tumbuh mengingat apresiasi dari investor masih terbilang rendah jika dibandingkan dengan kinerja perusahaan. Peluang kenaikan harga terutama sangat mungkin terjadi terutama pada emiten TKIM dan INKP.

Di lain sisi, anak usaha yang bisa dibilang memiliki harga yang relatif mahal adalah BSIM, SMAR, GEMS, dan DSSA. Dengan demikian, peluang untuk harga keempat emiten tersebut untuk terus tumbuh relatif kecil. Pasalnya capaian PER dari BSMI, SMAR, GEMS, dan DSSA lebih tinggi dibandingkan capaian PER industrinya.

Terlebih lagi untuk emiten BSIM yang perolehan PER-nya hampir 12 kali lipat dibandingkan PER industri perbankan.

Lebih lanjut, emiten Grup Sinarmas lainnya yang mencakup SMMA, DMAS, dan BSDE terbilang memiliki harga saham yang relatif wajar karena perolehan PER ketiga emiten tersebut tidak berbeda jauh dengan PER industrinya.

TIM RISET CNBC INDONESIA (dwa/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading