Internasional

BOJ: Proteksionisme Risiko Terbesar bagi Ekonomi Global

Market - Rehia Sebayang, CNBC Indonesia
16 April 2019 12:52
BOJ: Proteksionisme Risiko Terbesar bagi Ekonomi Global
Jakarta, CNBC Indonesia - Meningkatnya proteksionisme perdagangan di seluruh dunia adalah ancaman terbesar bagi pertumbuhan ekonomi global, menurut Gubernur Bank of Japan (BOJ) Haruhiko Kuroda.

"Ada semacam proteksionisme" di seputar perdagangan global, kata Kuroda kepada Sara Eisen dari CNBC dalam sebuah wawancara yang disiarkan Senin (15/4/2019). "Itulah saya pikir yang merupakan risiko paling serius bagi ekonomi global."



Komentar Kuroda disampaikan ketika China dan Amerika Serikat (AS) sedang mencoba untuk melahirkan kesepakatan dagang yang akan mengakhiri perang bea impor yang sedang berlangsung. Kedua belah pihak tampaknya hampir membuat kesepakatan.


China dikabarkan telah membuat proposal yang belum pernah terjadi sebelumnya tentang transfer teknologi paksa yang merupakan bahasan penting dalam negosiasi, Reuters melaporkan.

Menteri Keuangan Steven Mnuchin, Minggu, juga mengatakan AS terbuka untuk menerima hukuman jika tidak mematuhi perjanjian dagang yang telah disepakati. Namun, Mnuchin, Senin, juga mengatakan bahwa kedua pihak masih memiliki banyak hal untuk diselesaikan ke depannya.

Para investor mengkhawatirkan kemungkinan perang dagang yang berlarut-larut karena dapat menghambat keuntungan perusahaan di masa depan.

BOJ: Proteksionisme Risiko Terbesar bagi Ekonomi GlobalFoto: Gubernur Bank Japan, Haruhiko Kuroda (REUTERS/Issei Kato)

Dana Moneter Internasional (IMF) juga telah memangkas perkiraan pertumbuhan ekonomi untuk 2019 menjadi 3,3% dari 3,5%. Lembaga itu mengatakan proteksionisme dan perang dagang adalah salah satu risiko yang menjadi penyebab penurunan proyeksi.

"Omong-omong, skenario utama prospek ekonomi dunia IMF mengasumsikan konflik perdagangan AS-China tidak akan memburuk," kata Kuroda, melansir CNBC International. Jika memburuk, itu bisa mengarah pada perubahan dalam proyeksi untuk ekonomi global.



Meski demikian, Kuroda mengatakan ekonomi China "kemungkinan akan pulih pada paruh kedua" 2019, setelah ada "langkah-langkah stimulus fiskal besar yang telah diputuskan pemerintah."

Kuroda juga mengatakan mungkin akan ada lebih banyak ruang untuk bank sentral untuk melonggarkan kebijakannya, meskipun ia menambahkan bahwa kebijakan yang lebih longgar perlu diperhatikan saat ini. (prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading