Saham dan Rupiah Menguat tapi Pasar Obligasi Masih Koreksi

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
11 January 2019 12:36
Saham dan Rupiah Menguat tapi Pasar Obligasi Masih Koreksi
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga obligasi rupiah pemerintah terkoreksi pada sesi pertama perdagangan hari ini, Jumat (11/1/2019), di tengah positifnya data tenaga kerja Amerika Serikat (AS) dan tren kenaikan harga minyak. 

Turunnya harga surat utang negara (SUN) itu tidak senada dengan apresiasi yang terjadi di pasar surat utang pemerintah negara berkembang yang lain.  

Data Refinitiv menunjukkan terkoreksinya harga SUN itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menaikkan tingkat imbal hasilnya (yield).  


Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder. 


Yield
juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka. 

SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum. 

Keempat seri yang menjadi acuan itu adalah FR0077 bertenor 5 tahun, FR0078 bertenor 10 tahun, FR0068 bertenor 15 tahun, dan FR0079 bertenor 20 tahun. 

Seri yang paling terkoreksi adalah FR0077 bertenor 5 tahun dengan kenaikan yield 4,3 basis poin (bps) menjadi 7,89%. Besaran 100 bps setara dengan 1%. 

Seri acuan lain juga terkoreksi, yaitu seri 10 tahun, 15 tahun, dan 20 tahun dengan kenaikan yield menjadi 7,96%, 8,32%, dan 8,36%. 

Yield Obligasi Negara Acuan 11 Jan 2019
SeriJatuh tempoYield 10 Jan 2019 (%) Yield 11 Jan 2019 (%)Selisih (basis poin)Yield wajar IBPA 10 Jan'19
FR00775 tahun7.8567.8994.307.8016
FR007810 tahun7.9227.963.807.8814
FR006815 tahun8.2948.3283.408.2551
FR007920 tahun8.338.3643.408.3068
Avg movement3.73
Sumber: Refinitiv 


Koreksi SBN hari ini juga membuat selisih (spread) obligasi rupiah pemerintah tenor 10 tahun dengan surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor serupa mencapai 523 bps, melebar tipis dari posisi kemarin 522 bps.  

Yield US Treasury 10 tahun naik hingga 2,72% dari posisi kemarin 2,69%. 

Terkait dengan porsi investor di pasar SBN, saat ini investor asing menggenggam Rp 904,27 triliun SBN, atau 37,89% dari total beredar Rp 2.386 triliun berdasarkan data per 9 Januari.  

Angka kepemilikannya masih positif Rp 11,02 triliun dibanding posisi akhir Desember Rp 893,25 triliun, sehingga persentasenya masih naik dari 37,71% pada periode yang sama. 

Koreksi di pasar surat utang hari ini juga tidak seperti penguatan yang terjadi di pasar ekuitas dan pasar uang.   

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 0,19% menjadi 6.341 hingga siang ini, sedangkan nilai tukar rupiah menguat 0,18% menjadi Rp 14.025 di hadapan tiap dolar AS.



Pelemahan dolar AS seiring seiring dengan turunnya nilai mata uang dolar AS di depan mata uang utama negara lain, yaitu Dollar Index yang melemah 0,21% menjadi 95,34.
 

Dari pasar surat utang negara berkembang, penguatan dialami China, India, Malaysia, Thailand, dan Afsel. 

Di negara maju, pasar OAT di Perancis menguat, yang hanya beriringan dengan pasar JGB di Jepang. 

Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Negara Maju & Berkembang
NegaraYield 10 Jan 2019 (%) Yield 11 Jan 2019 (%)Selisih (basis poin)
Brasil9.0959.2111.50
China3.143.128-1.20
Jerman0.1970.1990.20
Perancis0.6750.671-0.40
Inggris 1.2761.280.40
India7.4767.47-0.60
Italia2.8942.9152.10
Jepang0.0250.017-0.80
Malaysia4.0774.07-0.70
Filipina6.7646.7640.00
Rusia8.418.410.00
Singapura2.2182.2240.60
Thailand2.5452.54-0.50
Turki16.2216.220.00
Amerika Serikat2.7312.726-0.50
Afrika Selatan8.7758.75-2.50
Sumber: Refinitiv  


TIM RISET CNBC INDONESIA



(irv/prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading