Suku Bunga Turun, Yield SUN 10 Tahun Bisa Turun ke 6%

Market - Irvin Avriano Arief, CNBC Indonesia
20 February 2020 20:13
Harga obligasi rupiah pemerintah diprediksi menguat hingga menekan tingkat imbal hasil (yield) seri acuan 10 tahun ke 6% tahun ini.
Jakarta, CNBC Indonesia - Harga obligasi rupiah pemerintah diprediksi menguat hingga menekan tingkat imbal hasilnya (yield) seri acuan 10 tahun hingga ke 6% pada tahun ini.

Jennifer Kusuma, Senior Asia Rates Strategist ANZ, menilai penguatan harga masih dapat terjadi dan membuat yield turun dari kisaran 6,5% sekarang.  "Kami merekomendasikan [kepada nasabah] untuk memegang seri FR0082 bertenor 10 tahun, dengan target 6% (dari posisi sekarang 6,5%)," ujar Kusuma dalam riset tertanggal 20 Februari 2020.

Rekomendasi itu didasari penilaian bahwa kondisi keuangan global akan melonggar, yang dapat ditandai dengan adanya pemangkasan suku bunga 25 basis poin (bps) paling cepat pada Februari, serta kebijakan yang suportif pada likuiditas termasuk pembelian obligasi yang dimiliki Bank Indonesia.

Pergerakan harga dan yield obligasi saling bertolak belakang di pasar sekunder, sehingga ketika harga naik maka akan menekan yield turun, begitupun sebaliknya. Yield yang menjadi acuan keuntungan yang didapat investor juga lebih umum dijadikan acuan transaksi obligasi dibanding harga karena mencerminkan kupon, tenor, dan risiko dalam satu angka.

SUN adalah surat berharga negara (SBN) konvensional rupiah yang perdagangannya paling ramai di pasar domestik, sehingga dapat mencerminkan kondisi pasar obligasi secara umum. Keempat seri yang menjadi acuan pasar adalah FR0081 bertenor 5 tahun, FR0082 bertenor 10 tahun, FR0080 bertenor 15 tahun, dan FR0083 bertenor 20 tahun.

Posisi investor yang tenang, valuasi yang atraktif, dan kebijakan perkembangan pasar yang positif menambah faktor penilaian dari ANZ.

Risiko kunci terhadap penialain bank multinasional itu adalah jika sentimen risiko global memburuk secara drastis. Pembuat kebijakan juga memiliki risiko jika salah membuat kebijakan, terutama dalam memperkenalkan perangkat kebijakan baru dan jika pendekatan pasar tidak diikuti oleh perubahan struktural ekonomi yang luas.

Hari ini, pasar kembali menunjukkan penguatan harga yang bersambung dan belum putus sejak Senin hingga hari ini. Data Refinitiv menunjukkan menguatnya harga SUN itu tercermin dari empat seri acuan (benchmark) yang sekaligus menurunkan tingkat imbal hasilnya (yield).

Seri acuan yang harganya paling menguat adalah FR0083 yang bertenor 20 tahun dengan penurunan yield 1,6 basis poin (bps) menjadi 7,26%. Besaran 100 bps setara dengan 1%.

 

Yield Obligasi Negara Acuan 20 Feb'20

Seri


Jatuh tempo

Yield 19 Feb'20 (%)

Yield 20 Feb'20 (%)

Selisih (basis poin)

Yield wajar PHEI 20 Feb'21 (%)

FR0081

5 tahun

5.681

5.68

-0.10

5.6344

FR0082

10 tahun

6.527

6.516

-1.10

6.4803

FR0080

15 tahun

7.025

7.022

-0.30

6.9987

FR0083

20 tahun

7.277

7.261

-1.60

7.2349

Sumber: Refinitiv

 

 

Apresiasi pasar obligasi pemerintah hari ini tercermin pada harga obligasi wajarnya, di mana indeks INDOBeX Government Total Return milik PT Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI/IBPA) masih menguat. Indeks tersebut naik 0,11 poin (0,04%) menjadi 280,34 dari posisi kemarin 280,23.

Penguatan SBN hari ini juga membuat selisih (spread) yield obligasi rupiah pemerintah tenor 10 tahun dengan yield surat utang pemerintah AS (US Treasury) tenor serupa mencapai 497 bps, melebar dari posisi kemarin 495 bps. Yield US Treasury 10 tahun turun 2,6 bps hingga 1,54% dari posisi kemarin 1,57%.

Terkait dengan pasar US Treasury, saat ini masih terjadi inversi pada yield pasangan seri 3 bulan-5 tahun, 2 tahun-5 tahun, dan 3 bulan-10 tahun. Inversi adalah kondisi lebih tingginya yield seri lebih pendek dibanding yield seri lebih panjang.

Inversi tersebut membentuk kurva yield terbalik (inverted yield curve), yang menjadi cerminan investor yang lebih meminati US Treasury seri panjang dibanding yang pendek karena menilai akan terjadi kontraksi jangka pendek, sekaligus indikator adanya potensi tekanan ekonomi bahkan hingga krisis.

 

 

Yield US Treasury Acuan 20 Feb'20

Seri

Benchmark

Yield 19 Feb'20 (%)

Yield 20 Feb'20 (%)

Selisih (Inversi)

Satuan Inversi

UST BILL 2019

3 Bulan

1.579

1.582

3 bulan-5 tahun

18.7

UST 2020

2 Tahun

1.426

1.416

2 tahun-5 tahun

2.1

UST 2021

3 Tahun

1.396

1.383

3 tahun-5 tahun

-1.2

UST 2023

5 Tahun

1.409

1.395

3 bulan-10 tahun

3.1

UST 2028

10 Tahun

1.57

1.551

2 tahun-10 tahun

-13.5

Sumber: Refinitiv

 

Terkait dengan porsi investor di pasar SBN, data Ditjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu (DJPPR) terakhir menunjukkan investor asing menggenggam Rp 1.068,89 triliun SBN, atau 38,14% dari total beredar Rp 2.802,28 triliun berdasarkan data per 19 Februari.

Angka itu menunjukkan kepemilikan investor asing masih masuk ke pasar SUN senilai Rp 3,47 triliun sejak akhir pekan lalu, sedangkan sejak awal bulan masih defisit Rp 8,17 triliun.

Sejak awal tahun ini, posisi investor asing masih positif Rp 7,03 triliun dibanding posisi akhir Desember 2019 Rp 1.061,86 triliun, sehingga persentasenya masih turun dari 38,57% pada periode yang sama.

Dari pasar surat utang negara berkembang dan maju, penguatan harga terjadi secara luas hingga yield mayoritas obligasi negara turun.

Hal tersebut mencerminkan investor global sedang memburu obligasi pemerintah karena sedang dibekap sentimen negatif terkait dengan sifat instrumen utang yang dinilai lebih aman dibanding pasar ekuitas.

 

 

Yield Obligasi Tenor 10 Tahun Negara Maju & Berkembang

Negara

Yield 19 Feb'20 (%)

Yield 20 Feb'20 (%)

Selisih (basis poin)

Brasil (BB-)

6.49

6.49

0.00

China (A+)

2.929

2.938

0.90

Jerman (AAA)

-0.416

-0.426

-1.00

Prancis (AA)

-0.179

-0.195

-1.60

Inggris Raya (AA)

0.601

0.594

-0.70

India (BBB-)

6.384

6.408

2.40

Jepang (A)

-0.043

-0.038

0.50

Malaysia (A-)

2.928

2.944

1.60

Filipina (BBB)

4.409

4.403

-0.60

Rusia (BBB)

6

5.96

-4.00

Singapura (AAA)

1.654

1.659

0.50

Thailand (BBB+)

1.14

1.12

-2.00

Amerika Serikat (AAA)

1.57

1.544

-2.60

Afrika Selatan (BB+)

8.89

8.835

-5.50

Sumber: Refinitiv 

 

TIM RISET CNBC INDONESIA


(irv/irv)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading