Internasional

Hampir 50% Bos Perusahaan AS Prediksi Resesi Terjadi di 2019

Market - Prima Wirayani, CNBC Indonesia
16 December 2018 10:32
Hampir 50% Bos Perusahaan AS Prediksi Resesi Terjadi di 2019
New York, CNBC Indonesia - Para direktur keuangan berbagai perusahaan Amerika Serikat (AS) mengkhawatirkan era pertumbuhan ekonomi saat ini akan segera berakhir.

Hampir separuh atau sekitar 48,6% chief financial officer (CFO) yakin AS akan mengalami resesi di akhir tahun depan, menurut survei Duke University/CFO Global Business Outlook yang dirilis Rabu pekan lalu.



Sebanyak 82% CFO yang disurvei Duke percaya resesi akan dimulai akhir 2020.


"Akhir dari letusan pertumbuhan ekonomi selama hampir satu dekade sudah dekat," kata profesor keuangan Duke, John Graham, dalam sebuah pernyataan yang dikutip dari CNN.com, Minggu (16/12/2018).

Sikap pesimistis para CFO ini mengenai proyeksi ekonomi di 2019 cukup mengherankan sebab banyak ekonom arus utama yang masih memprediksikan pertumbuhan yang stabil meski melambat tahun depan.

Wall Street juga mulai mencium aroma perlambatan ekonomi yang terlihat dari aksi jual besar-besaran yang memicu pergerakan liar indeks saham dalam beberapa hari terakhir. Dow Jones Industrial Average jatuh 2,02% ke level terendah sejak awal Mei di Jumat pekan lalu sementara S&P 500 turun 1,9% ke posisi terendahnya sejak April.

Hampir 50% Bos Perusahaan AS Prediksi Resesi Terjadi di 2019Foto: infografis/MENGINTIP Perkembangan POTENSI PASAR EKONOMI DAN MODAL Indonesia 2018/Aristya Rahadian krisabella

Survei Duke yang dilakukan 7 Desember lalu terhadap CFO dari 212 perusahaan AS memberi sinyal bahwa para direktur keuangan itu pesimistis akan capaian laba perusahaan. Mereka memperkirakan pertumbuhan laba 4,5% dalam 12 bulan ke depan, turun dibandingkan 13% yang dicapai hingga September.

Belanja modal, perekrutan tenaga kerja, dan pendapatan juga diperkirakan menurun.

Para CFO mencemaskan kondisi tenaga kerja AS. Persentase direktur keuangan yang melaporkan kesulitan mendapatkan tenaga kerja naik ke posisi tertinggi dalam sejarah survei tersebut yang dimulai di 1996.

Potensi resesi di AS telah menjadi topik panas pasar keuangan global dalam beberapa pekan terakhir.

Minggu lalu, S&P Global Ratings memperingatkan bahwa tanda-tanda perlambatan akan muncul di perekonomian Negeri Paman Sam. Lembaga pemeringkat internasional ini menaikkan peluang resesi dalam 12 bulan ke depan ke kisaran 15%-20% dari sebelumnya 10%-15% di Agustus.

Hampir 50% Bos Perusahaan AS Prediksi Resesi Terjadi di 2019Foto: Ekspresi Trader di lantai di New York Stock Exchange (NYSE) di New York City, AS, 12 November 2018. REUTERS / Brendan McDermid

JPMorgan Chase juga memperkirakan peluang resesi tahun 2019 menjadi 36% dari 25% di akhir September.

Kabar buruk datang dari pasar obligasi AS. Pada 4 Desember lalu, imbal hasil (yield) obligasi tenor panjang dan pendek AS terbalik atau inverted.

Akhir pekan ini, yield obligasi pemerintah AS tenor 2 tahun berada di 2,7372%, lebih tinggi ketimbang tenor 3 tahun yang sebesar 2,7262% dan 5 tahun yaitu 2,734%, dikutip dari analisis Tim Riset CNBC Indonesia.



Terjadinya inverted yield ini merupakan pertanda awal datangnya resesi, karena investor meminta 'jaminan' yang lebih tinggi dalam jangka pendek. Artinya, risiko dalam jangka pendek lebih tinggi ketimbang jangka panjang.

Jajak pendapat yang digelar Reuters menghasilkan bahwa yield obligasi pemerintah AS masih akan mengalami inversi pada tahun depan. Resesi kemungkinan akan datang setahun setelah itu, yaitu 2020.

Mantan gubernur bank sentral AS Federal Reserve, Janet Yellen, juga mengungkapkan risiko perekonomian Negeri Paman Sam yang dapat memperparah perlambatan tersebut.

Ia menyebut tingginya level utang korporasi sebagai bahaya bagi perekonomian terbesar di dunia itu.

"Level leverage korporasi yang tinggi dapat memperpanjang perlambatan tersebut dan menyebabkan terjadinya banyak kebangkrutan," kata Yellen, sebagaimana dikutip CNBC International.






(prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading