Newsletter

So Sweet, AS-China Sedang 'Lucu-lucunya'!

Market - Hidayat Setiaji, CNBC Indonesia
04 December 2018 05:24
Jakarta, CNBC Indonesia - Pasar keuangan Indonesia menutup perdagangan awal Desember dengan perkasa. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat, sementara imbal hasil (yield) obligasi pemerintah terus menurun.

Pada perdagangan kemarin, IHSG berakhir dengan penguatan signifikan yaitu 1,03%. Ini merupakan penguatan harian tertinggi sejak April silam.
eski menguat di kisaran 1%, tetapi IHSG sebenarnya tertinggal dibandingkan bursa saham Asia lainnya. Shanghai Composite melesat 2,57%, Hang Seng melejit 2,55%, Kospi melonjak 1,67%, dan Straits Times melompat 2,34%.


Sedangkan nilai tukar rupiah ditutup menguat 0,45% di hadapan greenback. Yuan China keluar sebagai juara Asia dengan penguatan 1,07%. Won Korea Selatan (+0,87%) menjadi runner-up, disusul baht Thailand (+0,61%) di peringkat ketiga.



Kemudian yield obligasi pemerintah seri acuan tenor 10 tahun turun 3,3 basis poin (bps). Yield untuk tenor 1 tahun pun turun 3,1 bps, tenor 5 tahun turun 1,3 bps, tenor 15 tahun turun 1,5 bps, tenor 25 tahun turun 9.5 bps, dan tenor 30 tahun turun 2,8 bps. Penurunan yield menandakan harga obligasi sedang naik karena tingginya permintaan pasar.


Situasi global dan regional memang mendukung penguatan pasar keuangan Indonesia. Dari sisi global, investor semringah karena AS dan China sepakat untuk menempuh gencatan senjata dan menghentikan perang dagang, setidaknya sampai 90 hari terhitung mulai 1 Januari 2019.

AS tidak akan menaikkan tarif bea masuk dari 10% menjadi 25% untuk importasi produk-produk made in China sebesar US$ 200 miliar yang seyogianya dilakukan pada 1 Januari 2019. Sedangkan China sepakat untuk mengimpor lebih banyak dari AS, mulai dari produk pertanian, energi, sampai manufaktur.

Washington dan Beijing juga sepakat untuk bernegosiasi seputar transfer teknologi, hak atas kekayaan intelektual, hambatan non-tarif, pencurian siber, dan pertanian. Apabila tidak ada perkembangan yang memuaskan selama 90 hari, maka kedua pihak sepakat tarif bea masuk bagi produk China ke AS akan naik dari 10% menjadi 25%.

Berita ini tentu sangat positif karena setidaknya selama 2,5 bulan ke depan yang namanya perang dagang AS vs China tidak lagi menjadi sentimen yang membuat pelaku pasar sport jantung. Damai dagang untuk sementara sudah tercipta, dan diharapkan tentu tidak hanya 90 hari tetapi selamanya.

Dari sisi regional, investor merespons positif data ekonomi terbaru di China. Purchasing Manager's Index (PMI) manufaktur versi Caixin pada November 2018 tercatat 50,2. Naik dibandingkan bulan sebelumnya yaitu 50,1 dan lebih tinggi ketimbang konsensus pasar yang dihimpun Reuters yang sebesar 50.

Indeks pemesanan baru (new orders) naik dari 50,4 pada Oktober menjadi 50,9 bulan lalu. Ada harapan permintaan domestik di Negeri Tirai Bambu masih tumbuh, sehingga walau ekonomi mungkin melambat tetapi tidak ada hard landing.

Situasi global dan regional yang kondusif membuat investor tidak lagi bermain aman. Instrumen safe haven seperti dolar AS ditanggalkan dan arus modal mengalir deras ke negara-negara berkembang Asia, termasuk Indonesia.


(BERLANJUT KE HALAMAN 2)


(aji/aji)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading