SMGR Raja Semen Baru di ASEAN yang Bergulat dengan Oversupply

Market - Houtmand P Saragih, CNBC Indonesia
17 November 2018 07:27
SMGR Raja Semen Baru di ASEAN yang Bergulat dengan Oversupply
Jakarta, CNBC Indonesia - Langkah PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) mencaplok 80,6% saham PT Holcim Indonesia Tbk (SMCB) dari LafargeHolcim tampaknya mendapat respons positif dari pelaku pasar.

Dalam sepekan harga saham SMGR dalam melesat hingga 13,11% ke level Rp 11.000/saham. Pemodal asing juga ramai-ramai memborong saham ini, dengan total akumulasi beli bersih (net buy) dalam sepekan mencapai Rp 189,88 miliar.

Salah satu perusahaan efek asing Maybank Kim Eng menaikkan target harga saham ini menjadi Rp 12.400/saham. Menurut riset Maybank Kim Eng yang ditulis Isnaputra Iskandar dan dipublikasikan 15 November 2018, disebutkan langkah akuisisi tersebut merupakan hal positif untuk industri dan SMGR.

Pasalnya, industri semen saat ini sedangn berada di titik nadir karena kelebihan produksi dan diharapkan pada tahun depan situasi tersebut akan berubah.


"Kesepakatan tersebut akan berdampak positif bagi konsolidasi industri dan akan memperkuat posisi SMGR di pasar domestik," kata Isnaputra.

Setelah ini, ada tiga hal yang akan memperbaiki pendapatan Holcim, yaitu royalti hilang, biaya pembiayaan menjadi lebih rendah dan sinergi yang bisa diciptakan.
Pada Selasa (13/11/2018), SMGR resmi mengakuisisi 80,6% saham SMCB senilai US$ 917 juta atau setara Rp 13,47 triliun (kurs Rp 14.735/US$) dari LafargeHolcim.

Untuk membiayai akuisisi tersebut, SMGR menandatangani perjanjian fasilitas pinjaman dengan sejumlah bank asing senilai US$ 1,28 miliar (Rp 18,97 triliun, kurs Rp 14.800/US$). Berdasarkan keterbukaan informasi perusahaan, penandatanganan pinjaman ini ini dilakukan melalui anak usahanya PT Semen Indonesia Industri Bangunan (SIIB).

Fasilitas pinjaman tersebut diberikan oleh sejumlah bank, yakni Bank BNP Paribas, Deutsche Bank AG Singapore Branch, Maybank Kim Eng Securities Ltd, MUFG Bank dan Standard Chartered Bank.

Usai menyampaikan transaksi pembelian SMCB Direktur Utama Semen Indonesia Hendi Prio, mengatakan fokus pelayanan perusahaan ke depan untuk dalam negeri dengan melakukan diversi material bangunan karena sudah menjadi perusahan semen terbesar di Asia Tenggara.

"Kita sudah jadi yang terbesar di Asia Tenggara. Jadi kita fokus layani domestik dengan diversifikasi solusi material bangunan yang modern seperti mortar, prefab panel dan lain-lain," kata Hendi kepada CNBC Indonesia, Selasa (13/11).

Dua Pemain
Sementara itu, Analis Trimegah Sekuritas Christy Halim mengatakan setelah akuisisi pasar semen di Indonesia akan berfokus pada dua pemain besar saja, yakni Semen Indonesia dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP) dimana kedua perusahaan menguasai 80% penjualan di dalam negeri. Bagi konsumen, ini akan berdampak positif pada perang harga yang berkepanjangan.

"Kondisi ini akan memberikan kesempatan kepada kedua perusahaan bisa menjual dengan harga yang lebih tinggi dengan ruang yang lebih sempit untuk perang harga yang mungkin ditimbulkan oleh proodusen semen asing," tulis Christy.

Selain bisa memperbaiki harga pasar saat ini, akuisisi ini juga akan berdampak baik pada kinerja perusahaan jangka panjang. Lantaran penjualan akan meningkat karena mengkonsolidasikan penjualan Holcim ke usahanya.
Foto: Infografis/POTRET INDUSTRI SEMEN INDONESIA/Aristya Rahadian Krisabella

Kabar baiknya, Holcim memiliki kapasitas produksi sampai dengan 15 juta ton per tahun yang berlokasi Jawa dan Sumatera. Holcim memiliki 4 pabrik semen, 33 pabrik siap pakai dan 2 tambang agregat.

Dari sisi SMCB, Analis PT Danareksa Sekuritas Maria Renata memprediksi rugi bersih yang dialami perusahaan ini dalam dua tahun terakhir disebabkan tidak fokusnya Lafarge dalam menjalankan bisnisnya di Indonesia dan lebih memusatkan perhatian pada pelepasan asetnya tersebut. 

"Setelah diakuisisi, diharapkan SMGR dapat memperbaiki kinerja Holcim," jelas Renata dalam risetnya.  

Renata tidak menanggapi dugaan adanya kesengajaan untuk membukukan rugi demi tidak membayar pajak, dugaan transfer pricing, dugaan buruknya manajemen, dan dugaan kondisi industri yang terlalu ketat. 

Meskipun oversupply masih dapat terjadi 3-5 tahun ke depan, lanjut Maria, setelah akuisisi ini pemain utama di industri semen dapat lebih fokus dan memiliki daya tawar yang lebih kuat terutama dalam penentuan harga jual, tidak seperti beberapa tahun terakhir ketika harga semen turun. 

Dia optimistis krisis oversupply akan mampu dihadapi kedua raksasa semen dan tidak mengkhawatirkan tekanan dari produsen semen lain, khususnya yang berasal dari luar negeri seperti China (Semen Conch, Semen Jakarta, Semen Bima) dan Thailand (Siam Cement Group/SCG). 

"Kedua gajah ini (Semen Indonesia dan Indocement) tidak perlu takut dengan semut." Dengan konsolidasi ini, lanjutnya, fokus SMGR di Jawa dan Sumatra akan semakin ditopang oleh keberadaan Semen Andalas yang masuk di dalam portofolio SMCB. 

Foto: Infografis/Sepak Terjang Holcim/Arie Pratama
(hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading