Internasional

Harga Minyak Jatuh, Arab: Pasar Bereaksi Berlebihan

Market - Wangi Sinintya Mangkuto, CNBC Indonesia
12 November 2018 13:10
Harga Minyak Jatuh, Arab: Pasar Bereaksi Berlebihan
Jakarta, CNBC Indonesia - Salah satu anggota Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) paling berpengaruh, Arab Saudi, yakin pasar energi telah terkoreksi terlalu dalam sepanjang beberapa pekan terakhir.

Komentar itu diungkapkan ketika eksportir minyak dunia terbesar ini berjuang menghadapi penurunan tajam harga minyak mentah saat kekhawatiran pasokan sebagai dampak sanksi AS terhadap Iran mereda.



Berbicara di pertemuan Joint Ministerial Monitoring Committee (JMMC) di Abu Dhabi, Minggu (11/11/18), Menteri Energi Arab Saudi Khalid al-Falih mengatakan kepada CNBC bahwa "Selama ini kami mengatakan pasar bereaksi berlebihan terhadap pengumuman sanksi didorong oleh rasa takut dan bukan oleh kekurangan pasokan yang nyata."


"Pasar kadang-kadang salah paham sebagaimana yang mereka lakukan beberapa minggu lalu dan mereka melakukannya lagi pada hari ini, tetapi akhirnya pendulum akan berayun ke tengah," tambahnya, dilansir dari CNBC International.

Menteri Energi Arab ini juga mengatakan aliansi OPEC dan non-OPEC yang lebih luas tidak akan menghindari putaran pemotongan produksi baru dalam beberapa minggu mendatang, jika kelompok itu memutuskan ada kebutuhan untuk tindakan tersebut.

Pertemuan OPEC penuh berikutnya, di mana keputusan kebijakan akan ditentukan, dijadwalkan akan berlangsung di Vienna, Austria, 6 Desember mendatang.



Sekitar 20an negara pengekspor minyak mulai membatasi produksi mereka di 2017, dalam upaya untuk mengatasi kelebihan minyak mentah global. Kelompok ini setuju pada bulan Juni lalu untuk kembali mengucurkan sebagian dari pembatasan tersebut, dan produsen dengan kapasitas cadangan berlebih telah memompa lebih banyak minyak sejak saat itu.

Komentar itu muncul setelah penurunan sekitar 20% atau lebih dari harga minyak dalam beberapa pekan terakhir.

Harga minyak mentah Brent ditutup pada US$70,18 pada hari Jumat, turun hampir 1%, sementara West Texas Intermediate (WTI) jatuh untuk hari ke-10 dan ditutup di US$59,87.

Jatuhnya harga merupakan pembalikan yang mengejutkan dari bulan lalu, ketika minyak mentah berjangka telah mencapai posisi tertingginya dalam hampir empat tahun terakhir karena para pelaku pasar bersiap menghadapi kekurangan pasokan setelah sanksi AS terhadap Iran kembali berlaku.

Al-Falih mengatakan telah menjadi jelas bahwa lonjakan harga minyak sebelumnya adalah "sebuah reaksi berlebihan yang emosional."

"Saya pikir keputusan yang keluar di Washington dengan pemberian keringanan, (dan) dengan volume yang mulai menunjukkan diri dan data inventaris mingguan, pasar berbalik dari reaksi berlebihan dari satu sisi ke sisi yang berlebihan di sisi lain."



Arab Saudi, Rusia, dan AS, tiga eksportir teratas dunia, telah mengompensasi potensi kekurangan pasokan dari Iran sejak awal bulan ini.

Faktanya, ketiga negara memompa pada atau mendekati rekor tertinggi, dengan anggota OPEC lain dan negara pengekspor juga melakukan hal serupa. (prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading