Internasional

Pendapatan Meleset, Saham Induk Google Alphabet Tenggelam

Market - Ester Christine Natalia, CNBC Indonesia
26 October 2018 12:40
Pendapatan Meleset, Saham Induk Google Alphabet Tenggelam
Jakarta, CNBC Indonesia - Alphabet, perusahaan induk raksasa teknologi asal Amerika Serikat (AS) Google, menyampaikan laporan keuangan kuartal ketiganya, Kamis (25/10/2018).

Perusahaan itu berhasil melampaui proyeksi laba tetapi meleset dari ekspektasi pendapatan. Alhasil, saham perusahaan pun anjlok 5,3% dalam perdagangan pasca-penutupan.



Alphabet mencatatkan laba per saham US$13,06 (Rp 198.809), jauh di atas perkiraan pasar US$10,42. Sementara itu, pendapatannya tercatat US$33,7 miliar dibandingkan proyeksi US$34,04 miliar.


Meski pendapatan keseluruhan Alphabet naik 21% secara tahunan (year-on-year/yoy), Direktur Keuangan Ruth Porat mengatakan laporan keuangan perusahaan menunjukkan bahwa pendapatan mengalami dampak dari penguatan dolar Amerika Serikat (AS) di kuartal ketiga.

Seperti biasa, bisnis iklan Google menyumbang sebagian besar pendapatan, atau 85,8%, mencapai US$28,95 miliar (Rp 440,5 triliun) di kuartal ketiga, naik 20% yoy.

Kategori "pendapatan lainnya", termasuk bisnis cloud dan penjualan piranti keras (hardware) yang sangat penting bagi para investor untuk melihat masa depan Google di luar iklan, menyentuh US$4,64 miliar atau naik 29% yoy. Kenaikan itu tidak sedramatis kuartal lalu yang mengalami peningkatan 37%.

Dalam sebuah catatan analis setelah laporan keuangan, Brian Wieser dari Pivotal berkata kuartal dua menggambarkan laju pertumbuhan paling lambat untuk kategori ini sejak kuartal pertama tahun 2016.

CEO Alphabet Sundar Pinchai dalam paparan laporan keuangan mengatakan bisnis cloud telah mengalami "banyak kemenangan penting" belakangan ini. Namun, dia tidak memberi angka pendapatan baru untuk mendukung pendapatan US$1 miliar per kuartal yang dia umumkan di kuartal empat 2017.

Secara keseluruhan, pangsa pasar cloud Google dianggap tertinggal jauh di belakang Amazon dan Microsoft. Pichai juga berkata dia berpendapat perusahaan akan menginginkan lingkungan "multi-cloud" dan ruang itu bukanlah "permainan zero-sum".

Pendapatan Meleset, Saham Induk Google Alphabet TenggelamFoto: Arie Pratama
Alphabet juga menyampaikan pendapatan dan kerugian untuk "Other Bets" jangka panjang seperti perusahaan kesehatan jangka panjang Verily, penyedia layanan internet Fiber dan perusahaan mobil self-driving Waymo.

Kategori Other Bets mencatatkan pendapatan kuartal ketiga sebesar US$146 juta atau naik dari US$117 juta di kuartal yang sama tahun lalu. Kerugian operasional juga meningkat karena perusahaan melaporkan kerugian US$727 juta yang naik dari US$650 juta di tahun sebelumnya. Dalam laporan keuangan perusahaan, Porat menyampaikan bahwa pendapatan pada dasarnya dikumpulkan oleh Fiber dan Verily.

Ongkos trafik akuisisi (TAC) Google, termasuk uang yang dibayarkan ke manufaktur telepon seperti Apple untuk menggunakan layanan seperti pencarian, adalah US$6,58 juta atau 23% dari pendapatan iklan. Wall Street sudah memantau ketat kenaikan TAC Google karena membebani marjin iklan perusahaan. TAC kuartal tiga sebagai persentase pendapatan iklan setara dengan kuartal sebelumnya.

Pengeluaran terus naik. Belanja modal perusahaan yang masih harus dibayarkan adalah US$5,6 miliar yang, menurut Porat, sebagian besar terkait dengan proyek pembangunan pusat data dan mesin untuk meningkatkan komputasi perusahaan. Sementara itu, tingkat pajak perusahaan adalah 9% di kuartal ketiga atau turun dari 16% di kuartal yang sama tahun 2017.

Pengeluaran operasional Alphabet adalah US$11,1 miliar atau naik 26% yoy, pada dasarnya didorong oleh pengeluaran riset dan pengembangan.

Laporan keuangan itu keluar di saat perusahaan sedang mengalami masa yang sulit.

Sebelumnya di hari Kamis, New York Times memberitakan bahwa Google melindungi sejumlah eksekutif, termasuk pencipta Android Andy Rubin, dari dugaan pelecehan seksual dan menawarkan bayaran besar supaya mereka keluar dari perusahaan.

Sementara itu, Google menghadapi kritikan internal maupun eksternal setelah The Intercept pertama kali melaporkan di bulan Agustus bahwa perusahaan berencana merilis sebuah aplikasi pencarian bersensor di China.



Dalam laporan keuangan, Pichai menolak menjelaskan komentarnya dulu yang menyebut bahwa Google peduli pada pengguna China. Namun, perusahaan tidak meluncurkan aplikasi pencarian di sana.

Google belakangan ini juga harus merespons putusan denda antimonopoli Uni Eropa sebesar US$5 miliar dengan mengubah cara menggabungkan aplikasinya di dalam Android di kawasan itu. Ketika ditanya bagaimana dampak yang akan terjadi ke bisnis Google dari langkah itu, Pichai berkata masih "terlalu dini untuk berkomentar". (prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading