Yield Obligasi AS Sentuh 3%, Bursa Eropa Ditutup Bervariasi

Market - Prima Wirayani, CNBC Indonesia
25 April 2018 06:37
Bursa London dan Paris ditutup menguat sementara bursa Frankfurt terkoreksi pada perdagangan hari Selasa (24/4/2018).
Jakarta, CNBC Indonesia - Bursa-bursa utama Eropa ditutup bervariasi pada perdagangan hari Selasa (24/4/2018) di saat para investor mencermati pergerakan imbal hasil obligasi negara Amerika Serikat (AS) yang menyentuh level tertingginya sejak 2014. Investor juga merespons laporan kinerja keuangan berbagai perusahaan tercatat.

Indeks FTSE 100 di London ditutup menguat 0,36% di level 7.425,4, sementara indeks DAX di Frankfurt terkoreksi 0,17% menjadi 12.550,82. Indeks CAC 40 di Paris naik tipis 0,1% menjadi 5.444,16, dilansir dari CNBC International.


Indeks Eropa Stoxx 600 ditutup stagnan dengan sebagian besar sektor dan bursa utama berada di zona negatif.


Saham-saham sektor perjalanan dan rekreasi yang turun 1,4% menjadi sektor dengan kinerja terburuk hari Selasa sedangkan sektor minyak dan gas memimpin pergerakan indeks dengan catatan penguatan sebesar 1% setelah Barclays mengumumkan daftar saham perusahaan minyak dan kilang Eropa yang disukainya. BP, Total, Royal Dutch Shell, dan OMV disebut sebagai saham pilihan Barclays dan membuat saham-saham itu menguat di sesi perdagangan hari Selasa.

Sementara itu, indeks-indeks acuan Wall Street ditutup di zona merah setelah yield obligasi negara AS menyentuh level 3%, tertinggi dalam lebih dari empat tahun terakhir.

Dow Jones Industrial Average ditutup lebih rendah 1,74% di level 24.024,13 setelah sebelumnya sempat menguat 131 poin di awal perdagangan. Indeks beranggotakan 30 saham ini anjlok 751,21 poin dari titik tertingginya pada perdagangan hari Selasa, dilansir dari CNBC International.

Indeks S&P 500 turun 1,3% menjadi 2.634,56. Sementara itu, Nasdaq Composite melemah 1,7% ke 7.007,35 karena saham-saham Facebook, Amazon, Alphabet, dan Netflix terperosok lebih dari 3,5%.


Yield obligasi negara AS bertenor 10 tahun, yang merupakan indikator pasar obligasi paling penting di dunia, menembus 3% untuk kali pertama sejak Januari 2014. Imbal hasil ini sempat menyentuh level 3,083% hari Selasa.

Investor ramai-ramai menjual obligasi negaranya bulan ini dan menyebabkan yield naik di tengah ekspektasi kenaikan inflasi yang dapat mendorong bank sentral AS, Federal Reserve/ The Fed, mengetatkan kebijakan moneternya lebih cepat.
Artikel Selanjutnya

Euro dan Poundsterling Kuat, Bursa Eropa Dibuka Hijau


(prm)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading