AS Kembali 'Shutdown'

Bursa Global Abaikan Penutupan Pemerintahan AS, Dolar Anjlok

Market - Ester Christine Natalia, CNBC Indonesia
22 January 2018 19:20
Bursa Global Abaikan Penutupan Pemerintahan AS, Dolar Anjlok
London, CNBC Indonesia - Pasar saham dunia dan pasar obligasi Amerika Serikat (AS) Senin (22/1/2018) tidak menghiraukan penutupan pemerintahan di Washington, meskipun dolar menurun tajam sementara euro meneruskan penguatannya di awal tahun ini.

Imbal hasil obligasi AS (US Treasury), yang sempat jatuh di awal penghentian pemerintahan, menanjak karena investor melihat terbatasnya dampak ekonomi atas kebuntuan yang terjadi di ibu kota AS dan lebih fokus memonitor ekonomi global ke depan, dilansir dari Reuters.


Saham Eropa diperdagangkan dengan arah yang kurang jelas karena pasar fokus pada kebingungan tentang penggabungan dan akuisisi perusahaan, serta perkembangan menuju akhir kebuntuan politik di Jerman.


Indeks Eropa STOXX 600 bergerak datar pada pembukaan perdagangan hari Senin. Indeks DAX Jerman melemah 0,1%, sementara indeks CAC-40 Perancis turun 0,2% dan indeks FTSE Inggris tidak berubah.

Kontrak berjangka saham (futures) AS juga sedikit turun setelah Wall Street mencetak rekor tertinggi Jumat (19/1/2018).

Para investor nampak percaya diri bahwa konflik antara Presiden AS Donald Trump dan Partai Demokrat akan selesai dengan cepat dan AS akan terhindar dari penutupan pemerintahan berkepanjangan.

“Kami tidak khawatir karena kami pernah melihat ini sebelumnya. Mungkin, ini lebih kritis dan bisa jadi membutuhkan waktu lebih lama untuk diselesaikan, tetapi seharusnya tidak berdampak besar terhadap perekonomian,” kata Patrick O’Donnell, pengelola investasi di Aberdeen Asset Management.

Rencana yang diajukan oleh sekelompok senator untuk memperpanjang pendanaan pemerintah sampai 8 Februari dan penyelesaian perselisihan tentang imigrasi telah membantu meredakan kekhawatiran akan kebuntuan yang lebih serius di Washington.

Imbal hasil obligasi AS bertenor 10 tahun mendekati level tertingginya dalam lebih dari tiga tahun terakhir pada hari Senin.

Sementara itu, dolar tetap berada di dekat level terendahnya selama tiga tahun ini, terus melemah sejak awal tahun.


Euro naik 0,2% dan diperdagangkan pada kisaran  US$1,2250 (Rp 16.349) per euro. Volatilitas kurs euro-dolar lebih teredam daripada yang diperkirakan, mengingat gejolak yang terjadi di penghentian pemerintahan sebelumnya tahun 2013.
 
“Pasar terbiasa dengan apa yang terjadi dalam politik AS. Pasar tidak melihat terlalu jauh ke penghentian penutupan, yang lebih nampak seperti pertunjukkan politik,” kata Koji Fukaya, direktur utama FPG Securities di Tokyo. (prm)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading