Internasional

Sedih, Corona di AS Terlalu Luas & Sulit Dikendalikan

Lifestyle - Lynda Hasibuan, CNBC Indonesia
30 June 2020 15:03
Ditengah Pandemi Covid-19, Warga AS Serbu Pantai di Florida. (AP/Wilfredo Lee) Foto: Ditengah Pandemi Covid-19, Warga AS Serbu Pantai di Florida. (AP/Wilfredo Lee)

Jakarta, CNBC Indonesia - Virus corona menyebar terlalu cepat dan terlalu luas di Amerika Serikat (AS). Hal ini membuat sulit bagi negara tersebut untuk mengendalikannya.

Hal ini terungkap dari pernyataan Dr. Anne Schuchat, Wakil Direktur Utama Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) AS, Senin (29/6/2020). "Ini hanya permulaan," tegas perempuan tersebut dikutip CNBC International.



Pernyataannya bukanlah main-main. AS telah mencatat rekor untuk infeksi baru setiap hari dalam beberapa hari terakhir karena wabah sebagian besar melonjak di negara bagian di selatan dan barat.

Lonjakan kasus baru telah melampaui infeksi harian pada bulan April, ketika virus mengguncang negara bagian Washington dan timur laut. Pada saat itu, pejabat publik berpikir wabah itu mencapai puncaknya di AS.

"Kami tidak berada dalam situasi Selandia Baru atau Singapura atau Korea di mana kasus baru dengan cepat diidentifikasi dan semua kontak dilacak, orang-orang yang yang sakit terisolasi, orang-orang yang terpapar dikarantina dan mereka dapat mengendalikan keadaan," ujarnya dalam wawancara khusus di The Journal of American Medical Association's Dr. Howard Bauchner.

"Kami memiliki terlalu banyak virus di seluruh negeri untuk itu saat ini, jadi ini sangat mengecewakan."



Wabah Selandia Baru misalnya memuncak pada awal April, ketika negara itu melaporkan 89 kasus baru dalam satu hari. Namun kini, pada 8 Juni, para pejabat menyatakan bahwa tidak ada lagi infeksi aktif di negara pulau yang berpenduduk hampir 5 juta.

Korea Selatan adalah salah satu negara pertama di luar China yang memerangi wabah virus corona. Tetapi pejabat kesehatan berhasil mengatasi epidemi melalui pengujian agresif, pelacakan kontak dan isolasi orang yang terinfeksi.



Wabah memuncak pada 851 infeksi baru yang dilaporkan pada 3 Maret, menurut data Hopkins. Namun negara itu melaporkan kurang dari 100 kasus baru per hari sejak 1 April.

Seperti Korea Selatan, Singapura juga menemukan keberhasilan awal dalam mencegah penyebaran virus melalui pengujian dan pelacakan yang agresif. Namun, pada bulan April virus itu mulai menyebar di antara komunitas pekerja migran.

Kasus memang melonjak tapi tidak ada penularan lokal. Singapura pun kini membuka pembatasan sosial yang dilakukan.

Dalam wawancaranya Schuchat mengatakan situasi ini sangat kontras. Ia mengaku akan khawatir dengan apa yang terjadi beberapa ke depan.

"Apa yang kita miliki di Amerika Serikat, sulit untuk dijelaskan karena begitu banyak wabah yang berbeda," katanya.

"Ada gelombang akselerasi luar biasa, intervensi intensif dan langkah-langkah kontrol yang telah membawa segalanya ke tingkat sirkulasi yang jauh lebih rendah ... ada lebih banyak virus yang beredar daripada sebelumnya."

AS menjadi negara dengan kasus terbanyak Covid-19. Di mana dari 10 juta kasus global, 2,6 juta kasus ada di AS, dengan angka kematian 128 ribu pasien.

Saksikan video terkait di bawah ini:

Disneyland Tokyo Kembali Buka dengan Protokol Kesehatan


(sef/sef)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading