Belajar dari Kasus Jiwasraya, Ini Tips Mengecek Asuransi Jiwa

Investment - tahir saleh, CNBC Indonesia
22 January 2020 15:18
Belajar dari Kasus Jiwasraya, Ini Tips Mengecek Asuransi Jiwa

Jakarta, CNBC Indonesia - Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI), asosiasi perusahaan asuransi jiwa yang diakui berdasarkan Undang-Undang Nomor 40 tahun 2014 tentang Perasuransian, mengungkapkan sejumlah tips dan langkah bagi masyarakat agar bisa memilih produk asuransi jiwa yang tepat bagi kebutuhan.

Togar Pasaribu, Direktur Eksekutif AAJI, dalam siaran pesnya menyatakan sangat menyesalkan adanya kejadian gagal bayar manfaat asuransi jiwa yang terjadi belakangan ini.

Sebagai asosiasi resmi, AAJI memiliki kewenangan dalam penyusunan standar etika usaha dan tata perilaku (code of conduct), pembentukan profil risiko dan tabel mortalita serta pelaksanaan dan penetapan sertifikasi keagenan. Seluruh anggota AAJI terdaftar dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).


Terkait dengan kasus yang menimpa perusahaan asuransi belakangan ini, salah satunya PT Asuransi Jiwasraya (Persero), AAJI menjelaskan bahwa produk Saving Plan sebetulnya sudah dikenal di industri asuransi jiwa di Indonesia sejak pertengahan tahun 1990-an.


"Terkait produk yang banyak dibicarakan masyarakat saat ini (saving plan), perlu kami sampaikan bahwa produk saving plan sudah dikenal di industri asuransi jiwa di Indonesia sejak pertengahan tahun 90-an. Produk serupa juga ditemui di industri asuransi jiwa di banyak negara lain," kata Togar, dalam siaran pers, Rabu (22/1).

Dia menjelaskan, produk saving plan merupakan salah satu alternatif pilihan dari produk-produk asuransi jiwa seperti asuransi perlindungan kecelakaan (personal accident), asuransi jiwa berjangka (term life), asuransi jiwa seumur hidup (whole life), asuransi dwiguna (endowment), asuransi kesehatan (health insurance), asuransi penyakit kritis (critical illness), dan unit-link yang tersedia bagi masyarakat untuk melindungi diri dan keluarganya.


"Produk saving plan bermanfaat dengan memberikan perlindungan terhadap risiko jiwa sekaligus memberikan tambahan manfaat investasi saat akhir kontrak asuransi atau apabila terdapat penghentian pertanggungan," kata Togar.

Sebagai informasi, JS Saving Plan milik Jiwasraya terbebani gagal bayar produk tersebut senilai Rp 12,4 triliun yang jatuh tempo pada Oktober-Desember 2019. Ini produk asuransi jiwa milik Jiwasraya, berbalut investasi yang ditawarkan melalui bank (bancassurance).

Produk Saving Plan ini mengawinkan produk asuransi dengan investasi seperti halnya unit link. Mengacu data penyelamatan Jiwasraya yang diperoleh CNBC Indonesia, produk Saving Plan yang ditawarkan melalui bancassurance itu ternyata dijanjikan memiliki guaranted returnsebesar 9-13% per tahan selama 2013-2018 dengan periode pencairan setiap tahu.


Togar menjelaskan, a
suransi penting dimiliki oleh masyarakat Indonesia sebagai proteksi atas risiko yang mungkin terjadi di kemudian hari, dan sebagai bagian dari perencanaan keuangan masa depan.

"Apakah ada nilai investasi dari premi yang dibayarkan atau murni proteksi semua diserahkan kepada masyarakat untuk memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan," katanya.

Togar pun mengungkapkan beberapa tips dalam memilih produk asuransi yang tepat bagi masyarakat versi AAJI.

1. Berasuransilah pada perusahaan asuransi yang resmi terdaftar dan diawasi oleh otoritas atau regulator di Indonesia;

2. Kenalilah perusahaan asuransi yang akan dipilih melalui kinerja perusahaan asuransi yang dapat dilihat pada laporan kinerja keuangan yang bisa diakses secara luas;

3. Pahamilah produk yang akan dipilh, pastikan sesuai kebutuhan. Apabila produk asuransi menawarkan nilai investasi, kenalilah bahwa investasi yang menawarkan imbal balik tinggi juga memiliki risiko yang cukup tinggi.


Togar mengatakan dengan kasus ini, AAJI juga mendorong agar pemerintah dapat segera melaksanakan dan membentuk Lembaga Penjamin Pemegang Polis (LPPP) sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Perasuransian, mengingat manfaat dan peran industri asuransi jiwa dalam pertumbuhan ekonomi nasional dan kesejahteraan masyarakat.

"AAJI berharap agar pemerintah terus melaksanakan pengawasan berbasis risiko (risk-based supervision) secara intensif dan efektif sebagai upaya deteksi dini terhadap potensi kegagalan perusahaan dalam memenuhi kewajibannya kepada nasabah serta mengambil langkah-langkah yang diperlukan secara tepat," tulis Togar.

[Gambas:Video CNBC]

(tas/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading