Saham Data Center Mendadak Tumbang Serentak, Ini Penyebabnya

Redaksi,  CNBC Indonesia
15 October 2026 21:00
Ilustrasi data center. (Dok. Pexels)
Foto: Ilustrasi data center. (Dok. Pexels)

Jakarta, CNBC Indonesia - Badai aksi jual melanda saham-saham emiten teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI) di Amerika Serikat yang memiliki tanggungan utang menggunung. Ketakutan pasar terhadap potensi lonjakan suku bunga acuan melonjak, memicu kekhawatiran atas tingginya biaya pembiayaan ekspansi megaproyek data center dan infrastruktur AI global.

Laporan Reuters mencatat, saham-saham emiten pengembang dan penyedia infrastruktur data center menjadi korban paling parah dalam kejatuhan bursa perdagangan Rabu (14/10) waktu setempat.

Saham Operator Data Center Dihantam Aksi Jual Masif

Sektor penyedia data center yang merupakan tulang punggung utama komputasi cloud dan kecerdasan buatan, mengalami koreksi paling tajam. Investor melakukan aksi lepas saham di tengah

prospek pembengkakan suku bunga pinjaman. Berikut perinciannya dikutip dari Reuters, Kamis (15/10/2026):

  • Applied Digital (APLD.O): Saham operator infrastruktur data center terkemuka ini ambles hingga 8,8%.

  • IREN (IREN.O): Penyedia data center dan layanan komputasi berkinerja tinggi turut terjerembap dengan koreksi 9,9%.

  • Nebius (NBIS.O): Saham emiten penyedia layanan komputasi neocloud anjlok 15,1%. Emiten ini diproyeksikan telah menguapkan hampir 20% nilainya sepanjang bulan ini.

  • CoreWeave (CRWV.O): Raksasa neocloud data center terperosok 9,5%, mengindikasikan penghapusan sekitar seperempat nilai pasarnya hanya dalam kurun waktu satu bulan.

  • Oracle (ORCL.N): Raksasa hyperscaler yang gencar mengekspansi jaringan data center global dengan beban utang besar tertekan 7,2%. Mayoritas obligasi berdenominasi dolar milik perusahaan turut terseret melemah.

Efek Suku Bunga dan Risiko Pembiayaan AI

Tekanan jual pada saham data center dipicu oleh lonjakan yield surat utang AS (US Treasury) setelah rilis data inflasi konsumen (CPI) yang panas. Imbal hasil Treasury 10-tahun naik 3,6 bps, sementara tenor 2-tahun melompat 7,2 bps. Kondisi ini memperbesar ekspektasi kenaikan suku bunga lanjutan oleh The Federal Reserve (The Fed).

Kenaikan suku bunga berdampak langsung pada emiten data center yang bergantung pada utang besar untuk membiayai fasilitas fisik, pengadaan server rack, serta pembelian chip pembuat AI.

"Investor mulai mempertanyakan apakah ekspansi masif AI dan pembentukan data center akan menghasilkan tingkat imbal hasil (return) sesuai harapan," tegas Kim Forrest, Chief Investment Officer di Bokeh Capital Partnersk, dikutip dari Reuters.

Dampak dari pengetatan biaya ini juga merembet ke pemasok perangkat server data center. Saham Dell (DELL.N) dan HPE (HPE.N) masing-masing ambrol 10,3% dan 6,4% setelah Barclays memangkas peringkat investasi kedua saham tersebut dari "overweight" menjadi "equal-weight".

Barclays menilai bahwa valuasi saham perangkat keras telah berjalan terlalu jauh sebelum terjadinya infleksi nyata dari monetisasi ekosistem AI.

Berdasarkan data S&P Global Market Intelligence, biaya asuransi utang terhadap risiko gagal bayar (Credit Default Swaps/CDS) bagi beberapa emiten pemilik jaringan data center, termasuk Oracle dan CoreWeave, kini telah melonjak ke rekor tertinggi.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Ledakan Data Center Bawa Petaka, Ini Daftar Pihak yang Diuntungkan


Most Popular
Features