Bubble AI Pecah, Rp8.700 Triliun Hangus di China Dalam 4 Bulan

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
29 October 2026 18:05
A man wearing a face mask looks back as workers installing the nameplate of the Beijing Stock Exchange on the Financial Street in Beijing, Sunday, Nov. 14, 2021. According the local news report, the Beijing Stock Exchange will start trading on Monday
Foto: AP/Andy Wong

Jakarta, CNBC Indonesia - Gelembung saham kecerdasan buatan (AI) di China mulai pecah. Kekhawatiran terhadap permintaan teknologi AI dan pembatasan ekspor produk China memicu aksi jual besar-besaran yang menghapus sekitar US$480 miliar atau sekitar Rp8.700 triliun dari kapitalisasi pasar saham teknologi dan semikonduktor negara tersebut.

Indeks STAR 50 yang berisi saham-saham unggulan sektor AI dan semikonduktor China anjlok sekitar 40% dalam waktu kurang dari empat bulan. Indeks saham unggulan China, CSI 300, juga turun sekitar 20% dari level tertingginya pada Juni lalu.

"Pasar saham kemudian berkembang menjadi reli gila yang bersifat spekulatif. Dan sekarang kita melihat gelembung itu pecah," kata manajer investasi yang berbasis di Beijing, Dong Baozhen, dikutip dari Reuters, Kamis (29/10/2026).

Koreksi tersebut terjadi setelah saham-saham AI China melonjak tinggi, bahkan melampaui reli di Amerika Serikat (AS) dan sejumlah pasar Asia lainnya.

Sebaliknya, saham AI AS baru mengalami koreksi yang lebih terbatas, dengan indeks Nasdaq turun sekitar 6% dari rekor tertingginya tiga pekan sebelumnya.

Tidak ada satu pemicu utama yang secara jelas menyebabkan aksi jual di China. Namun, para pedagang menilai valuasi saham yang terlalu tinggi, kewajiban pajak, serta ancaman larangan penggunaan peralatan China di pusat data AS dan negara lain turut menekan pasar.

Goldman Sachs mencatat, saham AI menyumbang sekitar 42% dari kapitalisasi pasar China dan 57% dari total nilai transaksi saham A di bursa domestik serta saham H di Hong Kong. Besarnya porsi tersebut membuat gejolak saham AI berdampak luas, terutama bagi investor ritel yang mendominasi pasar.

Sejumlah saham yang sebelumnya menjadi favorit investor kini mengalami penurunan tajam. Saham pembuat robot Unitree, yang mengalami kelebihan permintaan hingga 8.000 kali saat penawaran saham perdana, telah kehilangan sekitar separuh nilainya sejak mulai diperdagangkan pada Agustus.

Sementara itu, saham produsen chip CXMT anjlok lebih dari 25% dalam sebulan terakhir. Saham perusahaan semikonduktor MetaX Integrated Circuits dan Moore Threads Technology juga masing-masing telah kehilangan sekitar separuh nilainya sejak Juli, setelah melonjak 700% dan 400% saat debut di pasar saham tahun lalu.

Chen Wensheng, pemilik usaha kecil sekaligus investor dari Hainan, China selatan, mengatakan dirinya ikut membeli saham ketika reli berlangsung. Ia terdorong oleh keyakinan bahwa pemerintah mendukung perusahaan seperti Unitree, yang memiliki investor dari dana-dana yang didukung negara.

Namun, Chen dan rekan-rekannya kini harus menanggung kerugian.

Tekanan juga melanda perusahaan pemasok komponen optik untuk pusat data. Saham Zhongji Innolight dan Eoptolink Technology masing-masing turun sekitar 60% dari level tertinggi pada Juni dan Juli. Penurunan ini antara lain terjadi di tengah langkah Washington yang mengarah pada pelarangan kedua perusahaan tersebut memasok produk ke pusat data AS.

Meski sudah terkoreksi tajam, valuasi saham-saham teknologi China dinilai masih tinggi. Indeks STAR 50 diperdagangkan pada sekitar 100 kali laba historis, turun dari puncaknya yang hampir mencapai 250 kali.

Angka tersebut jauh di atas valuasi indeks Nasdaq 100 yang berada di kisaran 30 kali laba. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa aksi jual saham teknologi China belum mencapai titik terendah.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Kejayaan AI Sudah Runtuh di China, Alarm Keras Buat Seluruh Dunia


Most Popular
Features