Kejayaan AI Sudah Runtuh di China, Alarm Keras Buat Seluruh Dunia

Redaksi,  CNBC Indonesia
27 October 2026 14:20
Artificial Intelligence (AI). (REUTERS/Aly Song)
Foto: REUTERS/Aly Song

Jakarta, CNBC Indonesia - Kejayaan teknologi kecerdasan buatan (AI) kembali menunjukkan tanda-tanda keruntuhan. Setelah marak perlawanan dari akar rumput dan bos-bos teknologi untuk meredam pengembangan teknologi tersebut, kini saham-saham di sektor AI juga kembali terguncang.

Di saat bursa saham teknologi global mulai menunjukkan sinyal kerapuhan, pasar saham teknologi di China justru sudah lebih dulu ambruk. Penilaian valusi yang kelewat tinggi kini tertekan kekhawatiran melesunya permintaan AI serta ancaman sanksi ekspor dari negara-negara Barat.

Kepanikan di bursa (meltdown) tersebut memangkas indeks acuan saham AI dan semikonduktor di China, STAR50, hingga 40% hanya dalam kurun waktu kurang dari empat bulan. Tak tanggung-tanggung, nilai pasar senilai US$480 miliar atau setara Rp8.704 triliun mendadak lenyap (vaporized).

Fenomena ini menjadi sinyal bahaya bagi bursa global yang tengah bergejolak, sekaligus menahan ambisi Beijing yang sedang gencar menstimulasi masyarakat agar mengalihkan tabungan mereka ke pasar saham demi mendanai boom industri AI.

Kejatuhan ini sekaligus mengeram laju reli (rally) yang telah berlangsung selama dua tahun terakhir. Langkah Beijing untuk memutus pola naik-turun ekstrem (boom-bust) demi mendorong pasar bullish yang stabil (slow bull) pun terancam kandas. Indeks acuan blue-chip China (CSI300) tercatat sudah merosot sekitar 20% dari puncak tertingginya pada Juni lalu.

"Pasar saham pada akhirnya berubah menjadi speculative crazy bull," ujar Manajer Investasi Qianchuang Capital di Beijing, Dong Baozhen, dikutip dari Reuters, Selasa (27/10/2026). "Dan sekarang yang kita saksikan adalah pecahnya gelembung (bubble) tersebut," ia melanjutkan.

Kondisi berbalik arah ini mencerminkan tren reli di China yang sebelumnya melambung jauh melebihi bursa di Barat maupun kawasan Asia lainnya. Hal ini berbanding terbalik dengan koreksi tipis pada saham-saham AI di Amerika Serikat, di mana indeks Nasdaq hanya terkoreksi sekitar 6% dari rekor tertinggi yang sempat dicapai tiga pekan lalu.

Sejauh ini memang belum ada pemicu tunggal atas aksi jual masif (sell-off) di China. Namun, para pelaku pasar menunjuk pada tingginya harga saham, beban tagihan pajak, serta ancaman pembatasan dari AS dan negara lain terhadap penggunaan perangkat data center buatan China sebagai faktor utamanya.

Mengutip data Goldman Sachs, porsi saham berbasis AI saat ini mendominasi hingga 42% dari total kapitalisasi pasar di China, serta menyumbang 57% dari total nilai transaksi (turnover) di bursa saham daratan (A-share) dan Hong Kong (H-share). Alhasil, hampir tidak ada investor ritel yang luput dari guyuran kerugian.

Saham Ritel Favorit Berguguran

Saham produsen robotik Unitree, yang sempat mengalami oversubscribed hingga 8.000 kali oleh investor ritel saat IPO, harganya kini telah merosot hingga separuh sejak melantai di bursa pada Agustus lalu. Sementara itu, raksasa pembuat chip CXMT telah kehilangan lebih dari seperempat nilainya hanya dalam sebulan terakhir.

Produsen chip MetaX Integrated Circuits dan Moore Threads Technology, yang sempat terbang masing-masing 700% dan 400% saat debut pasar tahun lalu, nilainya juga sudah terpotong hingga 50% sejak Juli.

Chen Wensheng, seorang pemilik usaha kecil sekaligus investor asal Hainan, mengaku ikut memborong saham saat reli karena meyakini adanya dukungan penuh pemerintah terhadap perusahaan seperti Unitree yang disokong dana BUMN. Namun kini, Chen dan rekan-rekannya harus gigit jari menanggung kerugian besar.

Kekecewaan bahwa sektor investasi yang didukung penuh oleh Beijing berakhir buruk telah mendorong banyak investor beralih ke aset defensif. Hal ini diperkirakan bakal memperlambat penggalangan dana berbasis ekuitas oleh perusahaan-perusahaan teknologi.

Di sisi lain, saham pembuat komponen optik Zhongji Innolight dan Eoptolink Technology juga ambles sekitar 60% dari level tertingginya pada Juni dan Juli. Penurunan ini dipicu langkah tegas Washington yang mulai melarang kedua perusahaan tersebut untuk memasok kebutuhan data center di AS.

Dengan rasio harga terhadap pendapatan (price-to-earnings ratio) indeks STAR50 yang masih berada di kisaran 100 kali, meski sudah turun dari puncaknya yang mendekati 250 kali, para investor membandingkannya dengan Nasdaq 100 yang hanya berada di angka 30 kali. Tak heran jika pelaku pasar khawatir aksi jual masih akan berlanjut.

"Apa yang terjadi saat ini dipastikan bakal mengeram langkah banyak perusahaan yang sedang berencana mencatatkan sahamnya di bursa (IPO)," ungkap Managing Partner & CIO Lotus Asset Management Hong Kong, Hong Hao.

'Semua Gelembung Pasti Meletus'

Kepanikan dan dampak turunannya ini berbanding terbalik dengan upaya otoritas pasar dalam meningkatkan imbal hasil serta menekan volatilitas melalui penindakan terhadap transaksi leverage dan perdagangan frekuensi tinggi (high-frequency trading). Investor yang disokong negara bahkan sempat melakukan aksi jual saat pasar naik demi menjaga agar kenaikan harga tetap terkendali.

Regulator pasar modal China, China Securities Regulatory Commission (CSRC), belum memberikan tanggapan resmi atas pertanyaan yang dikirimkan Reuters. Namun, Ketua CSRC Wu Qing dilaporkan telah menggelar pertemuan dengan para pelaku pasar awal bulan ini untuk mendengar masukan terkait perbaikan struktur bursa modal.

Beberapa komunitas investasi menilai fokus berlebihan pada sektor teknologi telah merusak struktur pasar secara keseluruhan.

"Penekanan yang berlebihan pada 'konten teknologi', yaitu bobot perusahaan teknologi berdasarkan nilai pasar dalam indeks utama, menyebabkan penyimpangan, bahkan distorsi, pada perilaku modal," tegas Partner Qianchuang Capital, Leo Wang.

"Hal ini menciptakan gelembung (bubble) yang parah di sektor tertentu dan menyedot likuiditas secara mengkhawatirkan dari sektor lainnya," ia menambahkan.

Kendati demikian, beberapa investor global masih melihat peluang di tengah koreksi ini. Riset HSBC mencatat dana kelolaan (fund) di Asia secara umum masih menempatkan bobot investasi yang cukup besar (overweight) pada saham-saham China.

Goldman Sachs bahkan tetap memasukkan Innolight dan CXMT ke dalam daftar rekomendasi saham AI China terbaru mereka. Senada, Strategis BNP Paribas Securities, William Bratton, menyatakan bahwa pasar saat ini memberikan peluang beli (buying opportunity) yang menarik bagi investor jeli.

Namun di daratan China sendiri, mayoritas investor memilih melirik sektor lain atau menunggu valusi turun lebih jauh sebelum kembali melakukan pembelian.

"Sama seperti manufaktur China lainnya, produsen chip dan pemasok AI pada akhirnya akan terlibat dalam perang harga," pungkas Partner Shanghai Zhuozhu Investment Management, Wang Zhuo. "Tidak ada pengecualian. Semua gelembung pada akhirnya pasti meletus," ia menegaskan.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Telkom Ungkap Strategi Percepat Adopsi AI Nasional, Cek di Sini


Most Popular
Features