Ekonom: AI Tak Berikan Manfaat Ekonomi Kecuali Bagi Pembuatnya
Jakarta, CNBC Indonesia - Raksasa teknologi meraup keuntungan besar dari kecerdasan buatan (AI), tetapi bagi perusahaan di sektor lain, manfaatnya belum terlihat sama sekali. Seorang ekonom ternama menyebutkan secara tegas. Di luar industri teknologi, AI belum memberikan keuntungan ekonomi apa pun.
Torsten Slok, Kepala Ekonom di Apollo Global Management, menegaskan hal ini dalam catatan resminya. Ia membandingkan kinerja tujuh perusahaan teknologi raksasa (dikenal sebagai Mag 7) dengan 493 perusahaan lain di indeks S&P 500.
Hasilnya adalah AI hanya memberikan manfaat bagi 7 perusahaan teknologi raksasa yaitu Alphabet, Amazon, Apple, Meta, Nvidia, Tesla, dan Microsoft. Ketujuh perusahaan merasakan kenaikan pendapatan per karyawan, kenaikan laba bersih, dan pertumbuhan produktivitas.
Di sisi lain, pendapatan per karyawan, laba bersih, dan produktivitas di 493 perusahaan lainnya tidak berubah.
"Intinya, kisah keberhasilan AI akan ditentukan oleh 493 perusahaan itu, bukan oleh tujuh raksasa teknologi. Dan sampai saat ini, belum ada bukti bahwa pertumbuhan pendapatan maupun laba meningkat di luar sektor teknologi," tulis Slok dalam tulisannya di website Apollo.
Banyak perusahaan kini mulai menyadari bahwa memakai model AI tingkat lanjut ternyata sangat mahal. Biaya langganan dan pengeluaran untuk komputasi justru menekan keuntungan, bukan membuatnya makin besar.
Dunia usaha mulai mengubah pandangan. Pengeluaran untuk AI tidak lagi dipandang sebagai investasi pertumbuhan, tetapi biaya operasional yang membebani neraca.
David Solomon, Direktur Utama Goldman Sachs, yang baru saja mengumumkan alokasi dana setengah miliar dolar untuk AI, mengakui hal serupa.
"Sangat sedikit pekerjaan kami yang benar-benar membutuhkan model tingkat tertinggi." Perusahaan cukup memakai alat dasar yang sudah ada.
Kekhawatiran makin memuncak setelah perusahaan AI ternama Anthropic dilaporkan menghabiskan US$ 80,7 miliar hanya dalam enam bulan pertama tahun ini sebelum meluncurkan penawaran saham ke publik. Belum ada kepastian kapan investasi raksasa itu akan kembali menguntungkan. Bahkan, Elon Musk memperingatkan bahwa berinvestasi di perusahaan penyedia cloud AI berisiko tinggi.
(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]