Gagal Digantikan AI, Mantan Pegawai Diminta Kerja Lagi Tapi Turun Gaji
Jakarta, CNBC Indonesia - Sejak beberapa tahun terakhir, AI mendominasi percakapan bahkan keputusan yang ada dalam perusahaan. Beberapa perusahaan bahkan memutuskan merumahkan banyak karyawannya karena AI.
Namun penyesalan nampaknya mulai mendatangi perusahaan-perusahaan tersebut. Kebanyakan dari mereka diketahui telah memperkerjakan kembali karyawan yang diganti AI.
Laporan dari Forrester Research menemukan 55% menyesal memecat pekerjanya karena AI. Survei yang sama juga memperkirakan setengah dari PHK yang dilakukan karena AI akan dibatalkan secara diam-diam, dikutip dari The Next Web, Selasa (1/9/2026).
Meski begitu, tren yang berbalik ini tidak menguntungkan pekerja. Forrester melaporkan lapangan kerja itu menawarkan upah yang jauh lebih rendah.
Tren ketakutan manusia akan AI memang lebih banyak disuarakan belakangan ini. Misalnya jajak pendapat Reuters Ipsos menemukan 53% warga Amerika Serikat (AS) khawatir seseorang bisa kehilangan pekerjaan kerja.
Laporan Software Finder tahun ini juga menyebutkan 53% pekerja khawatir alat AI bisa membuat peranan mereka kurang penting.
Sementara itu, Jackie Swanson dari Gartner menyebutkan setiap perusahaan punya peta jalan untuk mengadopsi. Namun mereka tidak memiliki rencana jujur soal dampak AI pada perusahaan, termasuk karyawan.
"Setiap organisasi memiliki peta jalan AI. Hampir tidak satupun dari mereka punya rencana jujur soal apa yang dilakukan AI pada karyawan, kecepatan, dan jalur pengembangan masa depan mereka," dia melaporkan.
Banyak perusahaan yang memiliki beragam solusi soal perkembangan teknologi ini. Mulai dari memberikan pelatihan internal dari kepala bagian teknologi hingga membiarkan pekerja memilih alat sendiri.
(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]