Geger Data Center Raksasa Telan Anggaran Sampai Rp 18.000 Triliun

Intan Rakhmayanti,  CNBC Indonesia
06 August 2026 14:45
Gedung data center Meta di Mansfield AS. (Dok. Grant Blankenship / Georgia Public Broadcasting)
Foto: Gedung data center Meta di Mansfield AS. (Dok. Grant Blankenship / Georgia Public Broadcasting)

Jakarta, CNBC Indonesia - Lima raksasa teknologi dunia, yakni Microsoft, Meta Platforms, Oracle, Amazon, dan Alphabet, telah mengunci komitmen anggaran sewa masa depan senilai sekitar US$1,09 triliun atau setara dengan Rp18.000 triliun. Sebagian besar dana tersebut dialokasikan untuk pembangunan serta penyewaan data center guna menopang lonjakan kebutuhan komputasi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI).

Berdasarkan laporan Reuters yang mengutip dokumen perusahaan, komitmen jumbo ini menunjukkan bahwa mayoritas anggaran belanja AI dari Big Tech telah terkunci dalam kontrak sewa jangka panjang. Kendati demikian, kewajiban finansial tersebut belum sepenuhnya tercatat sebagai liabilitas sewa di dalam neraca keuangan perusahaan.

Risiko Besar

Apabila permintaan komputasi AI terus meroket, fasilitas data center ini akan menjadi fondasi utama bagi fase pertumbuhan berikutnya di sektor cloud. Namun sebaliknya, jika permintaan AI mengalami pelemahan, perusahaan-perusahaan tersebut tetap berkewajiban membayar kapasitas data center yang sangat besar, berbiaya tinggi, serta sulit untuk dihentikan di tengah jalan.

Reuters mencatat bahwa nilai komitmen sewa yang belum dimulai tersebut hampir empat kali lipat lebih besar jika dibandingkan dengan sekitar US$285 miliar liabilitas sewa yang telah diakui dalam laporan keuangan kelima perusahaan.

Perbedaan angka ini terjadi akibat faktor perlakuan akuntansi. Kontrak sewa yang telah diteken umumnya belum dicatat sebagai liabilitas hingga fasilitas fisik tersebut benar-benar siap untuk digunakan. Sebelum tahap itu tercapai, perusahaan hanya diwajibkan mengungkapkan rencana pembayaran di masa depan melalui catatan atas laporan keuangan.

Meski bukan informasi yang ditutup-tutupi, skala komitmen tersebut memperlihatkan betapa masifnya pembangunan infrastruktur AI yang saat ini belum sepenuhnya tercermin dalam liabilitas sewa, beban tetap, maupun metrik leverage yang dilaporkan perusahaan.

Kendati demikian, Reuters menegaskan bahwa angka US$1,09 triliun tersebut tidak bisa serta-merta dianggap sebagai utang murni. Komitmen sewa yang belum dimulai merupakan akumulasi pembayaran yang tersebar selama bertahun-tahun, sementara liabilitas sewa yang telah diakui mencerminkan nilai kini (present value) dari pembayaran tersebut.

Perincian Komitmen Sewa Lima Raksasa Teknologi

Di antara kelima perusahaan tersebut, Oracle memegang tingkat risiko terbesar. Perusahaan ini mengungkapkan komitmen sewa yang belum dimulai sebesar US$260 miliar, atau hampir tujuh kali lipat dibanding liabilitas sewa yang telah diakui sebesar US$37,89 miliar.

Sebagian besar komitmen Oracle berkaitan dengan data center yang diperkirakan mulai beroperasi antara tahun fiskal 2027 hingga 2029, dengan durasi kontrak jangka panjang berkisar antara 15 hingga 19 tahun.

Berdasarkan analisis Reuters terhadap data LSEG dan dokumen perusahaan, rasio utang Oracle mencapai sekitar 4,4 kali dari EBITDA pada akhir Mei. Apabila liabilitas sewa operasi dan pembiayaan yang telah diakui turut diperhitungkan, rasio tersebut melonjak hingga menyentuh angka sekitar 5,7 kali.

Sementara itu, lembaga pemeringkat S&P Global Ratings menyatakan telah memasukkan komitmen sewa Oracle senilai US$260 miliar ke dalam proyeksi utang yang disesuaikan, dan memperkirakan leverage perusahaan berada di kisaran 4,4 kali pada tahun fiskal 2027.

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Data Center dan Sekolah Berebut Listrik, Korbannya Siswa Kepanasan


Most Popular
Features