Data Center dan Sekolah Berebut Listrik, Korbannya Siswa Kepanasan

Redaksi,  CNBC Indonesia
03 July 2026 14:45
Ilustrasi Gedung Data Center. (Pexels)
Foto: Ilustrasi Gedung Data Center. (Pexels)

Jakarta, CNBC Indonesia - Di tengah teriknya gelombang panas yang melanda wilayah Pantai Timur Amerika Serikat, distrik Henrico, Virginia, justru mengeluarkan instruksi yang mengundang pertanyaan besar. saat 37 pusat data beroperasi tanpa henti menghabiskan listrik, sekolah-sekolah umum diminta untuk mematikan lampu dan menghemat daya agar tagihan tidak membengkak.

Kasus ini, yang dilaporkan media Futurism dan 404 Media awal Juli 2026, menjadi contoh nyata dari persaingan kebutuhan energi yang makin tajam antara industri digital dan kepentingan publik, sebuah isu yang juga mulai mengemuka di Indonesia seiring pesatnya pembangunan pusat data di tanah air.

Manajer distrik Henrico, John Vithoulkas, mengirim surat edaran yang menyatakan tarif listrik bagi seluruh fasilitas pemerintah dan sekolah akan naik 25 persen mulai 1 Juli 2026. Kenaikan ini diperkirakan menambah beban biaya sebesar US$5 juta dalam satu tahun anggaran, dengan potensi kenaikan lebih lanjut di masa mendatang.

Untuk memangkas biaya, ia meminta agar staf dan guru untuk mematikan lampu saat ruangan kosong, mematikan komputer di akhir hari kerja, mengatur tirai jendela agar panas matahari tidak masuk, dan menghindari penggunaan perangkat pemanas ruangan.

Instruksi ini muncul saat suhu udara melonjak tinggi di Amerika Serikat.

Di Amerika Serikat, tarif listrik dalam periode tertentu ditetapkan berdasarkan permintaan dan suplai listrik. Ketika permintaan listrik melonjak dan suplai tidak berubah, perusahaan transmisi menetapkan tarif per kWh lebih tinggi. Namun, tarif listrik juga bisa turun saat suplai jauh di atas permintaan.

Ironisnya, sekitar 37 data center lapar listrik yang sekarang beroperasi di distrik Henrico tidak diimbau untuk mengurangi pemakaian listrik mereka.

Data center adalah fasilitas yang membutuhkan pasokan listrik besar dan stabil 24 jam sehari, 365 hari setahun. Satu fasilitas berukuran besar bisa menyerap daya setara ratusan ribu rumah tangga, bahkan lebih terutama yang mendukung layanan kecerdasan buatan (AI) dan komputasi awan.

Di Henrico, beban tambahan ini membuat sistem jaringan listrik bekerja mendekati batas kemampuannya, terutama saat musim panas ketika kebutuhan pendingin ruangan melonjak.

Akibatnya, biaya investasi jaringan baru dan peningkatan kapasitas pembangkit sering kali dibebankan ke seluruh pelanggan, termasuk sekolah dan warga biasa.

"Banyak warga melaporkan tagihan listrik rumah mereka naik dua kali lipat meski tidak mengubah kebiasaan pakai daya. Bahkan yang sudah pakai panel surya dan pompa panas tetap merasakan dampaknya," tulis laporan Futurism.

Di Indonesia, pembangunan data center sedang melaju pesat. Wilayah sekitar Jakarta, Batam, dan Jawa Tengah menjadi lokasi favorit karena dekat dengan pusat pengguna dan jalur kabel serat optik.

Artinya, Indonesia bakal menghadapi tantangan serupa. Kebutuhan daya bakal melonjak cepat. Satu klaster pusat data bisa menyerap ratusan megawatt, melebihi kecepatan perluasan pembangkit listrik lokal

Selain listrik, data center juga butuh air dalam jumlah besar untuk sistem pendingin yang diproyeksikan mencapai 86,5 miliar liter per tahun pada 2030, bersaing dengan kebutuhan air bersih warga. Jika tidak diatur dengan tepat, biaya peningkatan infrastruktur kelistrikan bisa diteruskan ke pelanggan umum, termasuk sekolah, rumah sakit, dan warga berpenghasilan menengah ke bawah.

(dem/dem) Add logo_svg as a preferred
source on Google
[Gambas:Video CNBC]
Next Article Data Center Masuk Desa, Warga Menderita-Pengusaha Justru Untung Gede


Most Popular
Features