Tsunami Biru Ganti Rezim, Proyek Data Center Bisa Berhenti Total

Intan Rakhmayanti Dewi,  CNBC Indonesia
06 November 2026 17:10
Gedung Capitol AS diterangi pada malam ketika Senat meloloskan rancangan undang-undang pendanaan pemerintah jangka pendek, lebih dari sebulan setelah penutupan pemerintah AS terlama, di Capitol Hill di Washington, D.C., AS, 10 November 2025. (REUTERS
Foto: Gedung Capitol AS diterangi pada malam ketika Senat meloloskan rancangan undang-undang pendanaan pemerintah jangka pendek, lebih dari sebulan setelah penutupan pemerintah AS terlama, di Capitol Hill di Washington, D.C., AS, 10 November 2025. (REUTERS/Elizabeth Frantz)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pembangunan data center di Amerika Serikat (AS) mulai menghadapi tekanan politik setelah Partai Demokrat meraih kemenangan besar dalam pemilihan paruh waktu.

Sejumlah politikus Demokrat langsung menyerukan penghentian sementara pembangunan data center dan pengembangan kecerdasan buatan (AI). Mereka menilai ekspansi infrastruktur teknologi tersebut berisiko merusak lingkungan, menggerus lapangan kerja, hingga mengancam masa depan manusia.

Senator Bernie Sanders dari Vermont menjadi salah satu politikus yang menyuarakan desakan tersebut. Melalui unggahan di media sosial X, Sanders menyoroti hasil referendum di sejumlah wilayah AS pada Selasa yang menyetujui pembatasan pembangunan data center.

Sanders, yang berkoalisi dengan Partai Demokrat, menyebut hasil tersebut menjadi pesan jelas bagi para pemimpin politik.

"Moratorium nasional terhadap data center sekarang," tulis Sanders, dikutip dari CNBC Internasional, Jumat (6/11/2026).

"Rakyat Amerika tidak ingin oligarki Big Tech merusak lingkungan, menggerus pekerjaan, dan mengancam masa depan umat manusia," lanjutnya.

Desakan serupa datang dari anggota DPR AS Yassamin Ansari dari Arizona. Dalam unggahannya di X, Ansari menyebut penghentian sementara pengembangan AI harus menjadi salah satu prioritas utama mayoritas besar Demokrat di DPR sejak hari pertama.

Anggota DPR Greg Casar dari Texas, yang menjabat Ketua Congressional Progressive Caucus, turut menyebarkan unggahan tersebut dan menyatakan dukungan dengan menulis, "Ya!"

Isu AI dan data center juga menjadi salah satu faktor penting bagi pemilih dalam menentukan pilihan politik mereka. Berdasarkan CNBC Voter Poll, sebanyak 56% pemilih menyebut AI dan data center menjadi faktor penting atau sangat penting dalam keputusan mereka di bilik suara.

Dari kelompok pemilih tersebut, sebanyak 65% mengaku memberikan suara kepada kandidat Demokrat untuk Kongres.

Sentimen politik ini turut memengaruhi saham-saham perusahaan yang terkait dengan ekspansi AI. Saham sektor tersebut mengalami penurunan tipis pada Rabu setelah pemilu, sebelum tekanan jual semakin kuat pada Kamis karena investor khawatir kemenangan Demokrat dapat berdampak langsung terhadap pembangunan data center.

Saham semikonduktor memimpin pelemahan. ETF iShares Semiconductor (SOXX) anjlok hampir 9% pada Selasa. Saham Nvidia turun 8%, sementara Advanced Micro Devices (AMD) merosot lebih dari 14%.

Sejumlah politikus Demokrat yang berhasil memenangkan persaingan ketat juga secara terbuka mengkritik perusahaan teknologi besar dan pembangunan data center.

Annie Andrews, politikus Demokrat dari South Carolina yang berhasil merebut kursi Senat dalam pemilu Selasa, sebelumnya meluncurkan situs kampanye yang menjuluki lawannya, Senator Darline Graham, sebagai "data center Darline".

Dalam pidato kemenangannya pada Selasa, Andrews mengatakan pemilih menginginkan South Carolina yang keputusan terkait masyarakatnya ditentukan oleh warga setempat, bukan para miliarder atau perusahaan data center di Washington DC.

"Kami memilih South Carolina yang keputusan mengenai komunitasnya dibuat oleh orang-orang yang tinggal di komunitas tersebut, bukan oleh para miliarder atau perusahaan data center di Washington DC," kata Andrews.

Politikus Demokrat Sherrod Brown dari Ohio juga menyampaikan sikap serupa. Brown kembali ke Senat setelah mengalahkan petahana dari Partai Republik, Senator Jon Husted.

Dalam pidato kemenangannya, Brown menegaskan, "Saya tidak bekerja untuk data center."

Salah satu negara bagian yang menjadi sorotan dalam isu ini adalah Texas. Wilayah tersebut menampung 27% dari total kapasitas data center yang direncanakan di AS, berdasarkan data Wells Fargo.

Gina Hinojosa, politikus Demokrat yang berhasil mengalahkan petahana dari Partai Republik, Gubernur Greg Abbott, memang tidak secara langsung membahas data center dalam pidato kemenangannya. Namun, isu tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam kampanyenya.

Dalam video yang diunggah ke akun X pada akhir Oktober, Hinojosa secara terbuka berjanji akan menghentikan sementara persetujuan pembangunan data center jika terpilih menjadi gubernur.

"Ketika saya menjadi gubernur, saya akan mengeluarkan moratorium, larangan terhadap seluruh persetujuan data center sampai undang-undang dapat disahkan oleh legislatif untuk melindungi warga Texas," kata Hinojosa.

"Ini tentang satu pertarungan. Apakah Texas akan menjadi milik rakyat dan untuk rakyat, atau ini adalah dunia para miliarder dan kita hanya hidup di dalamnya? Data center adalah bagian dari pertarungan itu," lanjutnya.

(dem/dem) [Gambas:Video CNBC]
Next Article Rakyat Bersatu Tolak Proyek Data Center, Presiden Tak Berkutik


Most Popular
Features