Ilmuwan Bercocok Tanam Pakai Tanah Bulan, Hasilnya?

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
16 May 2022 11:20
A full moon rises between clouds as a landing commercial jet approaches the airport before the start of a total lunar eclipse that is being called a 'Super Blood Wolf Moon' in San Diego, California, U.S., January 20, 2019.    REUTERS/Mike Blake

Jakarta, CNBC Indonesia - Sebuah penelitian terbaru berhasil menanam tanaman dengan tanah Bulan. Hasil dari tim peneliti di Universitas Florida dapat menjadi implikasi untuk misi antariksa secara jangka panjang, saat astronot membutuhkan sumber makanan sendiri.

Para peneliti meminta NASA untuk meminjamkan sampel regolith Bulan. Badan Antariksa Amerika Serikat (AS) mengumpulkan sampel itu dari lokasi berbeda di Bulan dalam tiga misi Apollo pada lima dekade lalu.

Setelahnya tim menempatkan benih Arabidopsis dalam sampel kecil tanah tersebut. Sampel tersebut disebut kurang nutrisi dan menunggu apa yang terjadi sesuatu.


Setelah dua hari, ternyata tunas hijau muncul ke permukaan. Namun berselang enam hari, tanaman tersebut terlihat tidak sehat seperti ditanam dengan tanah Bumi atau dalam budidaya dengan simulasi Bulan dari abu vulkanik.

Contohnya adalah tanaman di sampel Bulan itu tumbuh lebih lambat. Selain itu juga punya akar yang kecil dan daun kerdil, serta menunjukkan pigmentasi kemerahan, dikutip dari Digital Trends, Senin (16/5/2022).

Pada hari ke-20, sebelum tanaman mulai berbunga, tim peneliti memanennya. Berikutnya tanaman diperhalus dan mempelajari RNA (asam ribonukleat).

Hasilnya ternyata tanaman memang stres dan merespon. Mirip seperti Arabidopsis yang tumbuh di lingkungan keras misalnya di tanah dengan banyak garam atau logam berat.

Ternyata kualitas tanah di Bulan juga bervariasi. Karena dari penelitian satu sampel secara khusus menghasilkan pertumbuhan lebih buruk dari dua lainnya.

Lebih lanjut, tim peneliti akan menggunakan regolith yang sama untuk lebih banyak benih. Dengan begitu bisa mengetahui apakah tanaman asli memiliki efek dengan tanah di Bulan.

"Penelitian ini sangat penting untuk tujuan eksplorasi manusia jangka panjang NASA, sebab kita perlu menggunakan sumber daya yang ditemukan di Bulan dan Mars dalam pengembangan sumber makanan bagi astronot yang tinggal dan beroperasi di luar angkasa di masa depan," jelas kepala NASA, Bill Nelson.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Stasiun Luar Angkasa ISS Pensiun, Jatuh di Samudera Pasifik


(npb/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading