Ngeri! Pria ini harus Direhabilitasi Gegara Kecanduan Kripto

Tech - Intan Rakhmayanti Dewi, CNBC Indonesia
08 February 2022 11:30
Ilustrasi Cryptocurrency (Photo by Art Rachen on Unsplash)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kehadiran mata uang kripto (cryptocurrency) membuat adiksi tersendiri baru sebagian orang. Bahkan tak sedikit dari mereka yang kecanduan sampai harus direhabilitasi.

Adalah Steven, salah satu pasien di pusat rehab Castle Craig di Skotlandia.

Castle Craig sendiri adalah sebuah pusat rehabilitasi yang menangani semua jenis kecanduan, trauma, gangguan makan, hingga mereka yang cenderung melakukan tindakan ingin menyakiti diri sendiri.


Namun, selama enam tahun terakhir, terapis melihat lebih dari 100 orang dengan masalah kecanduan mata uang kripto. Bahkan, mereka menilai, kecanduan kripto rupanya lebih kuat daripada narkoba.

"Itu tidak berarti bahwa setiap orang telah kecanduan crypto," jelas Anthony Marini, terapis spesialis senior di pusat rehabilitasi tersebut, dikutip dari laman Metro, Selasa (8/2/2022).

"Tapi tentu saja banyak dari mereka memiliki obsesi mental dengan cryptocurrency," sambungnya

Anthony yakin ini adalah tren yang akan terus berkembang. Sebab menurutnya, setiap kali orang mulai berinvestasi atau berdagang dalam cryptocurrency, sebenarnya mereka sedang berjudi.

Steven, sebagai salah satu pasien mengaku datang ke Castle Craig karena adiksi uang kripto dan juga diperparah dengan kegemarannya judi. Dia mengaku kehilangan banyak uang dan punya pikiran bunuh diri.

"Aku menghabiskan lebih dari 100 jam dalam seminggu dengan melihat Bitcoin. Pada 2019/2020 Aku mulai melihat uang kripto yang lain, namun tidak ada yang lebih menarik dari Bitcoin. Bitcoin hampir seperti anakku. Aku akan bicara padanya, memperdagangkannya, membelinya dan menjual dengan cepat," kisahnya.

Ia mengaku bahwa Castle Craig telah mengajarkan dengan sangat spesifik bahwa kecanduan judi teknologi modern ini yang tersedia 24/7 dan 365 hari dalam setahun, menghabiskan banyak waktu dan sangat berbahaya.

"Pada dasarnya, saya tidak pernah berinvestasi di crypto. Saya telah menggunakannya dengan tidak sehat," ungkap Steven.

Pria berusia 50 tahun itu awalnya terobsesi untuk menganalisis pasar saham pada tahun 2009, dan mulai menghasilkan uang setelah membaca berbagai buku.

Tapi obsesi dengan logika dan analisis ini perlahan tumbuh. "Saya melihat FTSE, saya melihat Nasdaq, saya melihat emas dan berbagai grafik lainnya, dan saya mulai membuat analisis saya sendiri," kenangnya.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Warning Wamendag: Kripto Bukan Mata Uang RI, Tapi Komoditas


(roy/roy)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading