Bumi Terus Meredup, Ada Ancaman 'Mengerikan' di Depan Mata!

Tech - Monica Wareza, CNBC Indonesia
09 October 2021 14:35
Italia dan Pulau Sisilia (9/6/2019). (Johnson/Nasa)

Stasiun Luar Angkasa Internasional sedang mengorbit 255 mil di atas Laut Mediterania ketika seorang awak Ekspedisi 59 yang mencari di barat laut mengambil foto Italia dan pulau Sisilia ini.

Jakarta, CNBC Indonesia - Perubahan iklim (climate change) jadi ancaman nyata yang harus dihadapi manusia bila tidak segera mengurangi emisi karbon. Terbaru perubahan iklim telah membuat Bumi semakin redup.

Penelitian ini dipublikasikan di Geophysical Research Letters. Bumi yang redup disebut karena perubahan iklim serta pergantian iklim yang secara natural. Penelitian ini menganalisa data 800 malam periode 1998 hingga 2017.

Peneliti juga menggunakan data satelit melihat alasan mengapa Bumi menjadi lebih gelap. Tim peneliti menemukan awan yang menghilang di Pasifik jadi penyebab Bumi kehilangan cahayanya.


"Penurunan albedo (proporsi cahaya datang atau radiasi yang dipantulkan permukaan) sangat mengejutkan saat kami menganalisa data tiga tahun terakhir dari 17 tahun albedo hampir datar," sebut peneliti di New Jersey Institute of Technology dan pemimpin studi ini, Philip Goode, seperti dikutip dari Gizmodo, Sabtu (9/10/2021).

Perubahan iklim sendiri terjadi karena meningkatnya emisi karbon hasil pembakaran dari energi fosil seperti batu bara dan minyak bumi. Peningkatan emisi ini telah membuat suhu Bumi meningkat.

Penelitian terbaru dari Amerika Serikat (AS) menyebutkan jika tidak ada perubahan, maka 95% permukaan laut Bumi menjadi tak layak huni pada 2100. Laut yang lebih panas, lebih asam, dan memiliki lebih sedikit mineral yang dibutuhkan bagi kehidupan laut untuk berkembang menjadikan laut tidak layanan huni bagi mahkluk laut.

Menurut penulis utama dari penelitian ini Katie Lotterhos dari Pusat Ilmu Kelautan Universitas Northeastern, perubahan komposisi lautan sebagai akibat dari polusi karbon kemungkinan akan mempengaruhi semua spesies permukaan.

"Dalam beberapa dekade mendatang, komunitas spesies yang ditemukan di satu wilayah akan terus bergerak dan berubah dengan cepat," ujarnya.
Salah satu dampak perubahan iklim adalah matinya karang. Saat El Nino tahun 2016, air hangat mengancam terumbu karang di Great Barrier Reef (GBR), seperti dikutip dari Nature World News.

Penelitian lain datang dari Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) yang mencatat jumlah bencana, seperti banjir dan gelombang panas (heatwave), akibat perubahan iklim meningkat lima kali lipat selama 50 tahun terakhir. Deretan bencana ini juga menewaskan lebih dari 2 juta orang dan menelan kerugian total US$ 3,64 triliun atau sekitar Rp 51.981 triliun (asumsi Rp 14.200/US$).

Dalam laporan terbarunya, organisasi di bawah naungan PBB itu mengatakan mereka melakukan tinjauan paling komprehensif tentang kematian dan kerugian ekonomi akibat cuaca, air, dan iklim ekstrem yang pernah dihasilkan.

Ini mensurvei sekitar 11.000 bencana yang terjadi antara 1979-2019, termasuk bencana besar seperti kekeringan 1983 di Ethiopia, peristiwa paling fatal dengan 300.000 kematian, dan Badai Katrina di Amerika Serikat (AS) pada 2005 yang membuat kerugian US$ 163,61 miliar.

Laporan tersebut menunjukkan tren yang semakin cepat, dengan jumlah bencana meningkat hampir lima kali lipat dari tahun 1970-an hingga dekade terakhir. Ini menambah tanda-tanda bahwa peristiwa cuaca ekstrem menjadi lebih sering karena pemanasan global.

WMO mengaitkan frekuensi yang meningkat dengan perubahan iklim dan pelaporan bencana yang lebih baik. Biaya dari peristiwa tersebut juga melonjak dari US$ 175,4 miliar pada 1970-an menjadi US$ 1,38 triliun pada 2010-an ketika badai seperti Harvey, Maria dan Irma melanda AS.

"Kerugian ekonomi meningkat seiring meningkatnya eksposur," kata Sekretaris Jenderal WMO Petteri Taalas, dikutip dari Reuters.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading