Prediksi Menakutkan Ancaman yang Lebih Ngeri dari Covid-19

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
30 August 2021 10:05
Aktivitas pedagang di Sentra Ikan Hias Jalan Sumenep, Menteng, Jakarta, Jumat (5/1/2018). Berbagai ikan hias air laut ditawarkan di tempat tersebut, seperti yang paling banyak digemari ialah Clown fish (ikan badut) atau yang terkenal dengan sebutab Nemo, serta Ikan Dori. Nemo dijual dengan harga Rp 15.000, sedang Dori dijual mulai dari Rp 35.000. Selain ikan, berbagai jenis koral juga dijual di pasar tersebut dengan kisaran harga Rp 10-50 ribu.
Selain eceran, pedagang juga menyediakan paket akuarium air laut lengkap, ukuran 100x60x60 dengan kisaran harga 20 juta rupiah.

Jakarta, CNBC Indonesia - Perubahan iklim atau climate change akibat emisi karbon akan berdampak buruk bagi Bumi dan manusia. Penelitian terbaru menyebutkan jika tidak ada perubahan 95% permukaan laut Bumi akan tak layak huni pada 2100.

Ini adalah hasil penelitian dari Peneliti Amerika Serikat (AS) yang dilakukan sejak abad ke-18. Mereka pun memprediksi bagaimana emisi karbon akan mempengaruhi dunia pada 2021.

Sebagian besar kehidupan laut didukung oleh permukaan laut yang dicirikan oleh suhu air permukaan, keasaman, dan konsentrasi mineral arogonit yang dibutuhkan mahkluk laut guna membuat tulang atau cangkang.


Namun dengan meningkatnya tingkat CO2 (karbon dioksida) di atmosfer setidaknya dalam tiga juta tahun, ada kekhawatiran suhu permukaan laut mungkin menjadi kurang bersahabat dengan spesies yang hidup di sana, seperti dikutip dari Nature World News, Senin (30/8/2021).

Laut yang lebih panas, lebih asam, dan memiliki lebih sedikit mineral yang dibutuhkan bagi kehidupan laut untuk berkembang menjadikan laut tidak layanan huni bagi mahkluk laut.

Menurut penulis utama dari penelitian ini Katie Lotterhos dari Pusat Ilmu Kelautan Universitas Northeastern, perubahan komposisi lautan sebagai akibat dari polusi karbon kemungkinan akan mempengaruhi semua spesies permukaan.

"Banyak hewan laut telah mengubah jangkauan mereka sebagai akibat dari air yang lebih hangat," ujar Katie Lotterhos. "Dalam beberapa dekade mendatang, komunitas spesies yang ditemukan di satu wilayah akan terus bergerak dan berubah dengan cepat."

Salah satu dampak perubahan iklim adalah matinya karang. Saat El Nino tahun 2016, air hangat mengancam terumbu karang di Great Barrier Reef (GBR).

Dia menyarankan pemerintah harus mengawasi perubahan perilaku spesies permukaan laut di masa depan dan emisi yang menyebabkan pemanasan global dan pengasaman harus dihentikan.

"Pada tahun 2100, iklim yang unik dan menghilang di permukaan laut akan terjadi di seluruh planet ini tanpa mitigasi (emisi)," kata Lotterhos.


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Ancaman Lebih Gawat dari Covid Makan Korban, Ini Buktinya


(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading