Ngeri! Ancaman Selain Covid-19 Bikin Bumi Terus Meredup

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
07 October 2021 07:35
Sungai Nil, Laut Merah dan Laut Mediterania (10/6/2019) (Johnson/Nasa)


Sungai Nil, Laut Merah dan Laut Mediterania dipisahkan oleh berbagai negara bergurun sepreti Mesir, Arab Saudi, Israel dan Yordania seperti terlihat dari Stasiun Luar Angkasa Internasional yang mengorbit 254 mil di atas Afrika.

Jakarta, CNBC Indonesia - Perubahan iklim disebut sebagai ancaman besar selain Covid-19. Masalah ini juga telah membuat Bumi terus meredup.

Penelitian yang dipublikasikan di Geophysical Research Letters menunjukkan planet makin gelap karena perubahan iklim serta pergantian iklim secara natural.

Tim peneliti menggunakan data earthshine selama dua dekade yang dikumpulkan oleh Big Bear Solar Observartory dengan teleskop tipe spesial untuk melihat Bulan. Earthshine sendiri merupakan cahaya yang dipantulkan planet dan memancarkan cahaya redup di permukaan satelit Bumi tersebut.

Observatorium mampu menghitung akurat earthshine mencakup 40% dari Bumi, ini terdiri dari Pasifik dan Amerika Utara.

Peristiwa earthshine dapat dilihat terbaik adalah saat Bulan Sabit dan Bulan Sabit Akhir. Sebagai informasi, earthone dipantulkan melalui beberapa hal di Bumi yakni tanah, es, awan dan laut terbuka.

Melansir Gizmodo, tim peneliti menganalisa data 800 malam periode tahun 1998 hingga 2017. Mereka menemukan memang ada penurunan cahaya yang kecil namun cukup signifikan, dikutip Kamis (7/10/2021).

Ada pergantian dari tahun ke tahun, namun tim peneliti menemukan peristiwa itu 'cukup meredam dengan adanya penurunan jangka panjang mendominasi seri waktu'.

Untuk penelitian ini, mereka menggunakan data satelit melihat alasan mengapa Bumi menjadi lebih gelap. Tim peneliti menemukan awan yang menghilang di Pasifik jadi penyebab Bumi kehilangan cahayanya.

"Penurunan albedo (proporsi cahaya datang atau radiasi yang dipantulkan permukaan) sangat mengejutkan saat kami menganalisa data tiga tahun terakhir dari 17 tahun albedo hampir datar," sebut peneliti di New Jersey Institute of Technology dan pemimpin studi ini, Philip Goode.

Dalam data berusia 20 tahun itu ada juga siklus dua gerhana. Matahari telah melewati 11 tahun periode penurunan dan peningkatan aktivitas, peneliti juga menyangkal penjelasan iklim atas perubahan iklim.

Hasil penelitian juga menunjukkan yang meredup bukanlah Matahari namun Bumi. "Data kami tidak mendukung argumen untuk jejak terdeteksi mekanisme aktivitas pada pemantulan Bumi selama dua dekade terakhir," jelasnya.



[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading