Mau RI Jadi Negara Maju? Anak Harus Ngerti Bahasa Coding

Tech - Cantika Adinda Putri, CNBC Indonesia
19 July 2021 13:45
computer apple 1 Foto: REUTERS/File Photo

Jakarta, CNBC Indonesia - Indonesia mempunyai cita-cita bisa merayakan hari jadi ke-100 tahun dengan menyandang sebagai Negara Maju pada 2045. Salah satu cara tercepat untuk meraih itu, menurut pemerintah adalah dengan mengenalkan anak-anak sejak dini bahasa pemrograman atau coding.

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa mengatakan, cara paling cepat untuk bisa mencapai Indonesia menjadi negara maju adalah dengan mematangkan konsep pembangunan green economy dan tak kalah penting adalah menyiapkan sumber daya manusia (SDM)

Seiring majunya teknologi saat ini, SDM juga harus mengikuti, artinya masyarakat harus bisa memanfaatkan distribusi teknologi yang luar biasa oleh kemajuan di sektor information, communication, and technology (ICT).


Salah satu cara yang bisa dipupuk sejak dini, kata dia adalah dengan mengajarkan anak-anak sejak dini bahasa pemrograman atau coding.

"Saya setuju sekali misalnya Mendikbud (Nadiem Makarim) mengatakan, anak-anak sudah dari awal harus dikenalkan dengan bahasa coding. Coding language. Literasi-literasi coding language itu dikembangkan sehingga dia lebih cepat untuk beradaptasi dengan situasi yang baru ini," tuturnya.

Artinya kata dia, coding dan pemanfaatan teknologi menjadi penting dalam mewujudkan Indonesia bisa meraih jadi negara maju.

Suharso mengungkapkan, setiap negara dikategorikan menjadi negara maju dengan melihat tingkat pendapatan rata-rata penduduk yang tinggi atau dihitung dengan GNI (Gross National Income) per capita atau Gross Domestic Product (GDP) per capita dengan standar Purchasing Power Parity.

Nah, dengan perhitungan di atas, kata Suharso sebelum terjadinya pandemi, Indonesia pada 2045 bisa mencapai US$ 23.000 per capita dan bisa lepas dari middle income trap. Atau bisa mencapai tingkat pendapatan rata-rata penduduk itu sekitar US$ 12.000 pada tahun 2036.

"Dengan adanya pandemi ini tergeser. Kita yang tadinya sudah masuk upper middle income pada 2020. Ternyata kembali lagi ke lower middle income, karena kita turun lagi di bawah US$ 4.000," ujar Suharso dalam Economic Update dengan tema 'Green Economy Indonesia' pada CNBC Indonesia TV, Senin (19/7/2021).

Kendati demikian, Suharso optimistis, berdasarkan perhitungan Bappenas, pada 2022 Indonesia bisa kembali menjadi negara upper middle income atau negara berpendapatan menengah ke atas. Namun, untuk bisa menyentuh menjadi negara maju atau lolos dari middle income trap atau negara berpendapatan menengah bawah pada 2036 akan sulit tercapai.

"Kita akan bergeser 6-9 tahun. Nah pertanyaannya adalah berapa besar tingkat pertumbuhan ekonomi yang kita targetkan. Pada angka sebelum pandemi itu sekitar 5,7% kalau mau lolos middle income trap pada 2036. Dan (pendapatan per kapita) US$ 23.000 pada 2045," ujarnya.

"Kalau ingin cepat maka tingkat pertumbuhan ekonomi harus naik 7%. Kita melihat peluang itu," kata Suharso melanjutkan.

Peluang itu untuk bisa mendapatkan pertumbuhan ekonomi 7% tersebut kata Suharso, adalah dengan menggunakan melakukan ekonomi konvensional seperti saat ini. Atau dengan kata lain, pembangunan ekonomi di Indonesia tidak mengindahkan dengan aspek green economy, blue economy, dan blue energi.

"Tidak dengan tema-tema itu tentu kita akan semakin tertinggal," ujarnya.

Pasalnya saat ini semua negara di dunia memahami bahwa dalam melakukan bisnisnya harus mengedepankan hal-hal yang ramah lingkungan di bumi ini.

Agar Indonesia tidak tertinggal dengan negara lainnya dan bisa mewujudkan cita-cita berstatus negara maju, maka kata Suharso Indonesia harus menyusun perencanaan pembangunan ekonomi dengan ekonomi hijau.

"Dengan ekonomi hijau ini bukan berarti menghilangkan lapangan kerja, tidak sama sekali. Justru kita menciptakan lapangan kerja baru," tuturnya.

Untuk diketahui, Indonesia memiliki visi menjadi negara maju pada 2045, dengan proyeksi demografi penduduk Indonesia mencapai 319 juta jiwa dengan usia produktif sebesar 47%, kelompok kelas menengah sebesar 70%, serta 73% masyarakat tinggal di daerah perkotaan.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading