Punya Vaksin Sendiri, Benarkah China Mau Pakai Vaksin Pfizer?

Tech - Novina Putri Bestari, CNBC Indonesia
19 July 2021 14:10
System Pharmacy Clinical Manager at Hartford HealthCare Colleen Teevan administers the Pfizer-BioNTech vaccine for COVID-19 to a front line worker outside of Hartford Hospital, Monday, Dec. 14, 2020, in Hartford, Conn. (AP Photo/Jessica Hill)

Jakarta, CNBC Indonesia - China diketahui memiliki vaksin Covid-19 sendiri yakni Sinovac dan Sinopharm. Namun kabar terbaru negara itu membuka kesempatan untuk vaksin Pfizer yang bukan dikembangkan di dalam negeri, agar bisa digunakan dalam program vaksinasi di China.

Dalam laporan Caixin, dikatakan regulator China telah menyelesaikan tinjauan ahli pada vaksin mRNA yang dikembangkan BioNTech dan Fosun Pharma. Di Amerika Serikat, BioNTech bekerja sama dengan Pfizer membuat vaksin ini. Sementara itu untuk suntikan vaksinnya sedang dalam tahap tinjauan administrasi, demikian dikutip laman Reuters, Senin (19/7/2021).

BioNTech dan Fosun tidak segera membalas permintaan komentar dari Reuters. Namun pada April lalu, Kepala Eksekutif BioNTech, Ugur Sahin berharap vaksin yang dikembangkan pihaknya bisa dapat persetujuan dari otoritas China paling lambat pada Juni.


Vaksin telah ada di jalur memulai produksi uji coba di China pada akhir Agustus. Informasi ini dari Ketua Fosun Pharma, W Yifang pada pemegang saham Rabu lalu yang dikutip Caixin.

Melansir Fortune, Fosun memang masih menunggu persetujuan namun jika disetujui maka perusahaan bisa mendistribusikan 100 juta dosis yang didapatkan dari Biontech Desember lalu ke pasar China pada akhir tahun.

Selain itu, jika disetujui makan membuka kapasitas Fosun untuk memproduksi 1 miliar lebih suntikan vaksin dari Biontech per tahun. Ini jadi bagian kedua perusahaan pada Mei lalu.

Kabarnya vaksin akan digunakan sebagai suntikan booster bagi orang yang telah menerima vaksin dengan virus yang dimatikan. salah satu yang menggunakan platform itu adalah Sinovac.

Fortune menyebutkan penundaan persetujuan China pada vaksin ini kemungkinan sebagian karena pemerintah setempat ragu kegunaan vaksin mRNA. Keraguan ini diungkapkan pada awal tahun ini dan mempromosikan alternatif buatan dalam negeri.

Misalnya 15 Januari, tabloid nasionalistik Global Times mengkritik liputan soal suntikan vaksin dari China. Serta mengisyaratkan vaksin dengan platform mRNA berbahaya.

"Promosi vaksin Pfizer skala besar adalah proses berkalnjutan dari pengujian skala besar pada manusia," tulis Global Times.

Lalu, corong milik negara dari Partai Komunis China, People's Daily menuliskan cerita mengenai hubungan yang belum terbukti kematian di panti jompo Norwegia dan suntikan Pfizer.

Namun akhirnya gerakan anti vaksin mRNA mulai ditinggalkan, misalnya Direktur Jenderal Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China, Gao Fu menyebutkan harus mempertimbangkan manfaat dari mRNA.

"Setiap orang harus mempertimbangkan manfaat yang dapat diberikan vaksin mRNA bagi kemanusiaan," ungkapnya. Namun ucapan itu juga tak membalikkan keadaan sikap China pada vaksin mRNA.

Kemungkinan juga kebijakan baru pada Pfizer karena munculnya varian Delta dan membuat Beijing mengubah taktik. Di tengah wabah dengan adanya varian Delta, pemerintah asing nampaknya kehilangan kepercayaan pada vaksin China dibanding dengan vaksin platform mRNA.

Beijing kemungkinan juga sampai pada gagasan vaksin mRNA bisa meningkatkan respon pada pandemi nya sendiri, ungkap laman Fortune.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading