Pengguna Booster Astra-Pfizer Boleh Happy, Ada Kabar Baik Nih

Tech - Tim, CNBC Indonesia
11 May 2022 14:35
Peserta mengikuti vaksinasi booster COVID-19 di Sentra Vaksinasi Booster, Pondok Indah Mall 3, Jakarta, Rabu (23/3/2022). Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus menggenjot program vaksinasi terutama booster. (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kementerian Kesehatan terus mendorong masyarakat yang sudah disuntik dua dosis vaksin Covid-19 untuk mendapatkan booster. Ini untuk meningkatkan kemampuan tubuh melawan virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan, China ini.

Vaksin booster diberikan kepada masyarakat yang berusia 18 tahun ke atas. Bagi mereka berusia 18 tahun hingga 58 tahun booster diberikan 6 bulan setelah suntikan dosis kedua. Sementara berusia 59 tahun ke atas booster diberikan setelah tiga bulan.

Di Indonesia vaksin terbanyak yang diberikan kepada masyarakat adalah vaksin Sinovac bernama CoronaVac. Lantas vaksin booster apa yang paling bagus untuk meningkatkan antibodi melawan Covid-19?


Belum lama ini, sebuah penelitian di Brasil menemukan penerima dua dosis Sinovac dengan booster vaksin dari platform vektor (Johnson & Johnson dan AstraZeneca) serta mRNA (Pfizer dan Moderna) dapat lebih kuat untuk melawan varian seperti Delta dan Omicron.

Penelitian yang dilakukan di Brasil dan Universitas Oxford ini mengamati efektivitas vaksin pada orang penerima dosis Sinovac yang mendapatkan booster dengan vaksin AstraZeneca, Pfizer-BioNTech atau Johnson & Johnson. Tim peneliti menggunakan 1.240 sukarelawan dari San Paulo dan Salvador Brasil.

Petugas menyuntikkan vaksin Covid-19 dosis ketiga (booster) di Lobby Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Rabu, 6 April 2022. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)Foto: Petugas menyuntikkan vaksin Covid-19 dosis ketiga (booster) di Lobby Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, Rabu, 6 April 2022. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

"Studi ini memberikan pilihan penting untuk pembuat kebijakan di banyak negara menggunakan vaksin tidak aktif (Sinovac dan Sinopharm) telah digunakan," kata pemimpin studi dan direktur Oxford Vaccine Group, Andrew Pollard, dikutip dari Reuters, Rabu (11/5/2022).

Vaksin vektor virus seperti pada AstraZeneca menggunakan versi lemah dari virus lain untuk mengirimkan instruksi genetik. Tujuannya adalah membuat protein pada virus yang perlindungannya dicari.

Di sisi lain, vaksin mRNA pada Pfizer akan mengirimkan transkrip genetik dengan instruksi membuat protein virus. Ini berguna untuk mengajari tubuh untuk bertahan saat melawan infeksi.

Riset ini sejalan dengan keputusan Kementerian Kesehatan untuk memberikan vaksin booster AstraZeneca dan Pfizer kepada pengguna Sinovac.

Berikut kombinasi vaksin booster yang ditetapkan oleh Kemenkes berdasarkan pertimbangan para peneliti dalam dan luar negeri serta sudah dikonfirmasi oleh Badan POM dan ITAGI, meliputi:

  • Untuk sasaran dengan vaksin primer Sinovac akan diberikan separuh dosis Astra Zeneca (0,25 ml), separuh dosis Pfizer(0,15 ml), atau dosis penuh Moderna (0,5 ml)
  • Untuk sasaran dengan vaksin primer Astra Zeneca akan diberikan dosis penuh Astra Zeneca (0,5 ml), separuh dosis Pfizer (0,15 ml),atau separuh dosis Moderna (0,25 ml)
  • Untuk sasaran dengan vaksin primer Pfizer akan diberikan dosis penuh Pfizer (0,3 ml), separuh dosis Moderna (0,25 ml), atau dosis penuh Astra Zeneca (0,5 ml)
  • Untuk sasaran dengan vaksin primer Moderna akan diberikan separuh dosis Moderna (0,25 ml)
  • Untuk sasaran dengan vaksin primer Janssen (J&) akan diberikan separuh dosis Moderna (0,25 ml)
  • Untuk sasaran dengan vaksin primer Sinopharm maka diberikan dosis penuh Sinopharm (0,5 ml).


[Gambas:Video CNBC]
Artikel Selanjutnya

Kabar Baik! Booster Vaksin Sinovac Ampuh Lawan Covid Omicron


(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading