Pakar WHO Ragukan Vaksin Sinopharm China di Lansia, Kenapa?

Tech - Tommy Sorongan, CNBC Indonesia
06 May 2021 10:20
FILE - In this Dec. 25, 2020, file photo, released by Xinhua News Agency, packages of COVID-19 inactivated vaccine products are seen at a production plant of the Beijing Biological Products Institute Co., Ltd, a unit of state-owned Sinopharm in Beijing. China has given conditional approval to a coronavirus vaccine developed by state-owned Sinopharm. The vaccine is the first one approved for general use in China.(Zhang Yuwei/Xinhua via AP, File)

Jakarta, CNBC Indonesia - Peneliti dari Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO menyatakan pihaknya memiliki "keyakinan yang sangat rendah" pada data yang diberikan oleh Sinopharm China mengenai risiko efek samping serius pada beberapa pasien, tetapi sepenuhnya yakin pada kemampuan vaksin itu untuk mencegah penyakit.

Pernyataan ini dimuat dalam dokumen 'bukti asesmen' yang disiapkan oleh Strategic Advisory Group of Experts (SAGE) WHO untuk evaluasi vaksin Sinopharm yang telah dipakai 45 negara pada orang dewasa, di mana 65 juta dosis vaksin sudah disuntikkan.

Para ahli meninjua bukti dan memberikan rekomendasi tentang kebijakan dan dosis yang terkait dengan vaksin. Dokumen itu mencakup ringkasan data dari uji klinis di China, Bahrain, Mesir, Yordania, dan Uni Emirat Arab.


"Kami sangat yakin 2 dosis BBIBP-CorV (nama vaksin Covid-19 Sinopharm) manjur mencegah infeksi Covid-19 yang dikonfirmasi tes PCR pada orang dewasa (berusia 18-59 tahun)," tulis dokumen itu, seperti dikutip dari Reuters, Kamis (6/5/2021).

"Tetapi analisis keamanan antara peserta dengan penyakit penyertaan dibatasi oleh rendahnya jumlah peserta yang memiliki penyakit penyertaan (selain obesitas) dalam uji klinis fase tiga."

Dalam dokumen itu dipaparkan celah bukti dengan mengutip data tentang perlindungan terhadap penyakit parah, durasi perlindungan, keamanan untuk digunakan pada wanita hamil dan para orang dewasa yang lebih tua (lansia), dan identifikasi atau evaluasi efek samping yang jarang terjadi melalui pemantauan keamanan pasca otorisasi.

"Kami memiliki keyakinan yang sangat rendah pada kualitas bukti bahwa efek samping serius setelah satu atau dua dosis BBIBP-CorV pada orang lansia adalah rendah," ungkap dokumen tersebut.

Dalam uji klinis tahap akhir di berbagai negara, vaksin Sinopharm memiliki kemanjuran 78% setelah dua suntikan, katan dokumen itu. Angka ini turun dari yang diumumkan di China sebelumnya 79,34%.

Analisis SAGE disiapkan ketika kelompok penasihat teknis WHO sedang meninjau vaksin itu untuk izin penggunaan darurat agar bisa digunakan untuk program COVAX, pemberian vaksin gratis pada negara berkembang dan miskin.

Seorang juru bicara WHO mengatakan dokumen tentang vaksin Sinopharm BBIBP-CorV adalah "salah satu dari banyak sumber" di mana rekomendasi dibuat. Rekomendasi ini dijadwalkan akan dikeluarkan akhir pekan ini.

Hingga berita ini diturunkan, Sinopharm tidak dapat dihubungi.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading