Duh! Mutasi Corona Bisa Bikin Vaksin Covid Tak Ampuh Lagi

Tech - roy, CNBC Indonesia
31 March 2021 15:35
Britain's Prime Minister Boris Johnson receives the first dose of the AstraZeneca vaccine administered by nurse and Clinical Pod Lead, Lily Harrington at St. Thomas' Hospital in London, Friday, March 19, 2021. Johnson is one of several politicians across Europe, including French Prime Minister Jean Castex, getting a shot of the AstraZeneca vaccine on Friday. (AP Photo/Frank Augstein, Pool)

Jakarta, CNBC Indonesia - Mutasi virus corona dapat membuat vaksin Covid-19 yang ada saat ini tidak efektif dalam satu tahun. Ini merupakan hasil survei dari People Vaccine Alliance terhadap epidemiologi, ahli virologi, dan spesialis penyakit menular.

Survei yang dilakukan terhadap 77 ahli dari beberapa institusi akademis terkemuka dunia di 28 negara mengungkapkan hampir sepertiga ahli menyebut vaksin hanya akan ampuh dalam sembilan bulan atau kurang. Hanya 1 dari 8 orang yang percaya mutasi tidak akan membuat vaksin saat ini tidak efektif.

Dua pertiga ahli yang disurvei berpendapat kita memiliki waktu "satu tahun atau kurang sebelum virus bermutasi dan sebagian besar vaksin generasi pertama dianggap menjadi tak efektif dan vaksin baru atau vaksin yang dimodifikasi diperlukan," ungkap survei tersebut seperti dihimpun dari CNBC International, Rabu (31/3/2021).


Peopel Vaccine Alliance merupakan koalisi yang terdiri dari lebih organisasi termasuk African Alliance, Oxfam dan UNAIDS, yang mengkampanyekan akses yang sama terhadap vaksin Covid-19 secara global.

Sebanyak 88% ahli mengatakan cakupan vaksin yang rendah secara terus menerus di banyak negara akan membuat kemungkinan munculnya mutasi Covid yang resisten terhadap vaksin.

Aliansi ini menyebutkan baru 10% masyarakat di negara miskin yang sudah divaksinasi, kemungkinan besar penyuntikkan vaksin akan dilakukan tahun depan. Padahal waktu sangat penting dalam hal imunisasi untuk menyelamatkan nyawa penduduk dunia.

Informasi saja, Covid-19 telah menginfeksi lebih dari 127 juta penduduk dunia di mana 2,7 orang meninggal karena virus yang pertama kali ditemukan di Wuhan (China) ini. AS, Brasil, India, Prancis, Rusia dan Inggris jadi negara yang paling terpukul, menurut data John Hopkins University.


[Gambas:Video CNBC]

(roy/miq)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading