Cetak Rekor di Valentine, Harga Bitcoin Enteng ke US$100.000?

Tech - Putu Agus Pransuamitra, CNBC Indonesia
15 February 2021 17:19
A Bitcoin (virtual currency) coin is seen in an illustration picture taken at La Maison du Bitcoin in Paris, France, June 23, 2017. REUTERS/Benoit Tessier/Illustration

Jakarta, CNBC Indonesia - Harga mata uang kripto (cryptocurrency) bitcoin masih belum berhenti menanjak. Di hari Valentine, Minggu (14/2/2021) kemarin, bitcoin mencetak rekor tertinggi sepanjang masa US$ 49.756,44/BTC (Rp 695 juta, kurs Rp 13.970/US$). Apakah ini artinya bitcoin semakin disayang investor?

Berbeda dengan aset-aset investasi maupun trading lainnya, bitcoin diperdagangkan 24 jam sehari, 7 hari seminggu, alias tidak ada libur.


Sepanjang tahun ini hingga ke rekor yang dicapai di Hari Valentine, bitcoin sudah meroket 70% lebih. Pada perdagangan hari ini, Senin (15/4/2021), bitcoin diperdagangkan di level US$ 47.412,3/BTC, turun 2,54% pada pukul 16:39 WIB, berdasarkan data Refinitiv.

Level US$ 50.000 merupakan target harga bitcoin yang ditetapkan banyak analis di tahun ini, yang sudah nyaris dicapai. Mengingat tahun 2021 baru berjalan kurang dari 2 bulan, bitcoin tentunya bisa menanjak jauh ke atasnya.

"Bitcoin kemungkinan akan mencapai US$ 100.000, kemudian US$ 150.000, lalu menuju US$ 200.000/BTC. Kapan itu akan terjadi? Saya tidak tahu. Mungkin 5 atau 10 tahun mendatang," kata founder dan CEO Sosial Capital, sebagaimana dilansir CNBC International, pertengahan Januari lalu.

Dengan level US$ 50.000/US$ yang sedikit lagi dijebol, rasanya tidak perlu menunggu hingga 5 tahun untuk melihat bitcoin mencapai US$ 100.000/BTC. Apalagi saat ini semakin banyak institusi yang menerima bitcoin, sehingga hype-nya masih ada. 

Melesatnya bitcoin di tahun ini salah satunya terjadi setelah diborong oleh Tesla Inc, perusahaan pembuat mobil listrik milik orang terkaya di dunia Elon Musk.

Dalam laporan keuangan yang diserahkan ke Securities and Exchange Commission (SEC) Amerika Serikat, Senin (8/2/2021), disebutkan Tesla telah membeli bitcoin senilai US$ 1,5 miliar atau setara Rp 21 triliun.

Tesla juga mewacanakan akan mulai menerima pembayaran dalam bitcoin untuk pembelian kendaraan produksinya dengan tetap tunduk kepada regulasi di masing-masing negara, yang masih terbatas hingga saat ini.

Sebelum Tesla, beberapa perusahaan juga sudah berinvestasi di bitcoin, seperti Silvergate Capital (Bank Kanada), Mogo (fintech Kanada), Microstrategy (perusahaan IT), PayPal (pembayaran digital) Square (pembayaran digital) Galaxy Holdings (perusahaan investasi). Ada lagi provider kartu kredit, Visa serta Mastercard.

Investor legendaris seperti Paul Tudor Jones, dan Stanley Druckenmillier juga mulai berinvetsasi di bitcoin. Kemudian Larry Fink, CEO BlackRock, perusahaan asset management terbesar di dunia, pada Oktober 2017 lalu mengatakan bitcoin adalah "indeks pencucian uang". Namun, pendapatnya berubah, ia kini mengatakan bitcoin bisa berevolusi menjadi "pasar global"

Belum lagi banyak bank investasi ternama seperti Citi atau JP Morgan mulai membicarakan mata uang kripto ini. Terbaru, Bank of New York Mellon (BNY Mellon) salah satu bank tertua di AS dengan aset US$ 41 triliun, pada Kamis (11/2/2021) lalu mengumumkan akan menyediakan jasa Cripto Custody.

"BNY Mellon menjadi bank global pertama yang mengumumkan rencana untuk menyediakan layanan terintegrasi untuk aset digital," kata Roman Regelman, CEO layanan aset dan kepala digital di BNY Mellon.

Melansir FX Street, sejak 25 Januari hingga investor yang memiliki bitcoin antara 100 ribu hingga 1 juta koin mengalami peningkatan 2 kali lipat. Artinya investor besar maupun institusional masih mengakumulasi kepemilikan bitcoin.

Selain itu, para baik investor besar maupun ritel masih belum melakukan aksi jual meski harga bitcoin sudah meroket. Hal tersebut tercermin dari sirkulasi bitcoin di bursa yang jumlahnya menurun secara persentase. Melansir FX Street, pada 11 Januari, jumlah sirkulasi bitcoin di bursa sebesar 10,5% dari total bitcoin yang ada saat ini, persentase tersebut kemudian menurun menjadi ke 10,06%.

Dua hal tersebut diprediksi menjadi indikasi harga bitcoin masih akan terus melesat, secara teknikal jika melesat US$ 50.000/BTC, target kenaikan selanjutnya ke US$ 61.227/BTC, kemudian US$ 76.907/BTC dan selanjutnya di US$ 94.163/BTC. 

TIM RISET CNBC INDONESIA 


[Gambas:Video CNBC]

(pap/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading