Misteri Uji Klinis Fase III & Alasan RI Harus Pakai CoronaVac

Tech - Yuni Astutik, CNBC Indonesia
20 January 2021 09:32
Petugas kesehatan menyuntikan vaksin Covid-19 Sinovac ke tenaga kesehatan di Puskesmas Kecamatan Kebayoran Lama, Jumat (15/1/2021). Vaksinasi kepada para tenaga kesehatan tersebut sebagai upaya penanggulangan pandami Covid-19. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, CNBC Indonesia - Keamanan menjadi poin penting dalam pengembangan sebuah vaksin, baru setelah itu efektifitas serta berapa persen efikasi dari vaksin tersebut.

"Vaksin diutamakan keamanan. Kemudian efektifitas dan juga melihat efikasinya," ujar Koordinator Uji Klinis Vaksin Covid-19 dari Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran, yaitu Prof. Kusnadi Rusmil saat rapat dengar pendapat antara Komisi IX DPR dengan IDI, Ketua Tim Riset Uji Klinis Vaksin Covid-19 Universitas Padjadjaran, Komnas KIPI, dan pengurus ITAGI di Jakarta, Selasa (19/1/2021).

Dalam penelitian yang dilakukan di Bandung beberapa waktu lalu, setidaknya ada uji sampel sebanyak 1.620 orang. Mereka ini melalui proses cukup panjang, mulai dari pemeriksaan dengan cara mengambil sampel darah, hingga saat penyuntikan vaksin.


Dia menjelaskan, adapun komposisinya dari 1.620 itu adalah 810 diantaranya memperoleh suntikan vaksin dan ada yang plasebo sebanyak 810. Menurutnya, 810 dibagi 3 lot dengan maksud untuk melihat bad konsistensi, yaitu apakah konsisten atau tidak dari pembuatan vaksin.

Dia memastikan vaksin yang diuji tersebut, dalam hal ini Sinovac aman. Karena efek samping yang terjadi, yaitu menyebabkan badan panas tapi tak terlalu panas. Kemudian demam tak terlalu tinggi, akan hilang 2 hari. Kemudian dari yang sakit dengan dibandingkan dengan plasebo mempunyai efektifitas hasilnya 65,3%.

"Kesimpulan dari analisis, efikasi vaksin 65,3% dan ini sangat akan efektif mencegah penyakit ini dan dapat diterima keamananya," pungkasnya.

Lalu terkait mengapa Indonesia memakai vaksin buatan Sinovac, Ketua Indonesian Technical Advisory Group on Immunization (ITAGI) menjelaskannya. Menurut dia, karena vaksin CoronaVac tersebut merupakan inactivated vaccine atau virus mati.

"Sinovac salah satu platform yang dikenal baik oleh Bio Farma. Sinovac juga membuat vaksin hepatitis, rabies, polio, dia sudah paham betul," katanya.

Kerjasama yang terjalin antara keduanya sudah lama. Alasan lain, Sinovac juga siap dalam kondisi darurat seperti saat ini. Hal ini kemudian berdasarkan pada penelitian pengembangan vaksin fase 1-2 di China dengan hasilnya yang baik dan aman.

"Memang belum efikasi, untuk menilai vaksin baik, pertama harus aman. Tak bisa ditawar. Kedua bermanfaat, manfaat nilai dari titer antibodi naik minimal 4 kali dibanding sebelum, di sini 26 kali," jelasnya.

"Kemudian selanjutnya efikasi dan mutu. Dalam produksi vaksin, Bio Farma membuat CPOB, ini betul-betul-betul dimonitor BPOM. Ketiga kriteria ini Sinovac lulus. Ini kenapa, Sinovac bukan saya reklame, bukan sesuatu vaksin jelek," pungkasnya.


[Gambas:Video CNBC]

(hps/hps)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading