Sudah Siap Menuju RI Bebas Covid-19 Mulai November?

Tech - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
13 October 2020 10:32
A worker inspects vials of SARS CoV-2 Vaccine for COVID-19 produced by SinoVac at its factory in Beijing on Thursday, Sept. 24, 2020. A Chinese health official said Friday, Sept. 25, 2020, that the country's annual production capacity for coronavirus vaccines will top 1 billion doses next year, following an aggressive government support program for construction of new factories. (AP Photo/Ng Han Guan)

Jakarta, CNBC Indonesia - Sepertinya Indonesia akan melakukan vaksinasi lebih cepat dari perkiraan awal. Hal ini diungkapkan oleh pihak Kementerian Koordinator Bidang Maritim dan Investasi yang mengatakan program vaksinasi Covid-19 di Tanah Air akan dimulai pada November tahun ini. 

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa program vaksinasi akan dimulai awal tahun depan. Keterangan tersebut ia paparkan akhir September lalu. 

Dalam keterangannya tersebut Airlangga menjelaskan bahwa program vaksinasi akan melibatkan lebih dari 102 juta masyarakat Indonesia dengan prioritas utama kepada tenaga medis sebanyak 1,3 juta orang dan sisanya akan diberikan kepada orang-orang berisiko tinggi terpapar Covid-19 termasuk 92 juta masyarakat umum. 


Dengan asumsi total penduduk Indonesia yang mencapai 269 juta jiwa, maka total populasi yang divaksinasi menurut rencana pemerintah mulai tahun depan baru bisa tercapai 37,9% saja. Target pemerintah awal sebanyak 170 juta orang Indonesia bakal divaksinasi.

Vaksinasi masal memang tidak bisa dilakukan dalam jangka waktu yang pendek mengingat masalahnya kompleks. Mulai dari ketersediaan vaksin, faktor logistik dan infrastruktur hingga kesediaan masyarakat untuk berpartisipasi dalam program tersebut. 

Pemerintah pusat telah menganggarkan dana senilai Rp 3,8 triliun dari APBN tahun 2020 dan sebesar Rp 18 triliun dari APBN tahun anggaran 2021.

Percepatan pelaksanaan program vaksinasi Covid-19 di Tanah Air ini tak terlepas dari pemerintah yang sudah mengantongi komitmen dari pemasok vaksin asal China yakni CanSino Biologics, Sinopharm dan Sinovac.

Total vaksin yang sampai saat ini dikantongi RI dari ketiga perusahaan tersebut mencapai 18,1 juta dosis vaksin untuk tahun ini dan bisa mencapai 195 juta dosis vaksin tahun depan. 

Sebenarnya sampai dengan detik ini, vaksin yang sudah mendapat izin edar dan penggunaan dari otoritas kesehatan terkait memang belum ada. Ketiga vaksin buatan China di atas sebenarnya masih menyandang status sebagai 'kandidat'.

Saat ini ketiga kandidat vaksin tersebut masih berada di fase akhir uji klinis yakni tahap III. Jika mengacu pada hasil uji klinis tahap awalnya ketiga kandidat vaksin tersebut menunjukkan hasil positif yang tercermin dari kemampuannya menginduksi pembentukan antibodi serta tidak dilaporkannya dampak negatif signifikan yang bisa mengancam nyawa.

Kandidat vaksin China tersebut juga telah mendapat persetujuan untuk penggunaan secara darurat di beberapa negara seperti Uni Emirat Arab (UEA) untuk kandidat vaksin buatan Sinopharm.

Pandemi Covid-19 yang tak kunjung berakhir dan membuat perekonomian hancur lebur memaksa para pembuat kebijakan berlomba melakukan lobi-lobi serta menjajaki kerja sama untuk mendapatkan barang langka yang saat ini berstatus sebagai 'juru selamat', apalagi kalau bukan vaksin.

Indonesia termasuk salah satu dari sekian banyak negara yang juga melakukannya. Sebenarnya Indonesia juga mengembangkan vaksin untuk Covid-19 di dalam negeri. Vaksin tersebut dinamai vaksin Merah Putih yang saat ini dikembangkan oleh konsorsium LBM Eijkman. 

Namun kandidat vaksin Merah Putih buatan RI tersebut masih dalam tahap pra-klinis. Evaluasi klinis kandidat vaksin tersebut rencananya baru akan dilakukan tahun depan. Oleh karena itu RI masih mengandalkan vaksin dari luar negeri terutama dari China yang progres uji klinisnya terbilang cepat dan positif. 

Semakin cepat vaksinasi dilakukan maka akan semakin baik. Kurang lebih itulah yang ada di benak semua orang saat ini, tak terkecuali pemerintah. Semua orang tentu sudah mendambakan kehidupan normal seperti sebelum pandemi. 

Kendati keinginan untuk kembali hidup normal sangatlah menggebu-gebu, pada dasarnya jangan sampai membuat pengambilan kebijakan menjadi tergesa-gesa. Untuk mewujudkan program vaksinasi mulai November ini tentulah banyak hal yang harus dipikirkan matang-matang dan dipersiapkan.

Faktor yang perlu dipertimbangkan dengan matang sebenarnya adalah efektivitas dan tingkat keamanan vaksin itu sendiri. Vaksin dikatakan efektif ketika mampu menghasilkan respons kekebalan tubuh terhadap suatu infeksi patogen.

Efektivitas vaksin juga memiliki derajat. Vaksin dikatakan memiliki efektivitas 80% ketika dari 80 orang yang belum pernah terpapar patogen menjadi kebal setelah vaksinasi dilakukan pada 100 orang yang belum pernah terpapar patogen. 

Namun itu adalah definisi yang sangat sederhana. Sebenarnya efektivitas vaksin bisa diukur dengan berbagai indikator mulai dari respons kekebalan tubuh sebagai tujuan ultimat-nya tetapi juga bisa diukur dari kemampuannya untuk menurunkan risiko tingkat keparahan suatu penyakit, dalam hal ini Covid-19.

Oiya, lagipula sebenarnya angka efektivitas itu adalah angka lapangan. Sementara jika mengacu pada angka hasil uji klinis lebih sering disebut dengan istilah efficacy. Meski keduanya merujuk pada konsep yang mirip, tetapi pada umumnya efektivitas vaksin lebih rendah dari efficacy-nya yang diperoleh dari hasil uji klinis. 

Derajat efektivitas vaksin ini mempengaruhi setidaknya dua hal. Pertama adalah dampak ke pandemi itu sendiri. Terkait efektivitas vaksin, studi yang dilakukan oleh Sarah M. Bartsch, dkk dari City University of New York (CUNY) memiliki jawaban soal harus seberapa efektif vaksin bisa menekan pandemi Covid-19.

Menggunakan pemodelan komputasional dengan kasus di AS, studi tersebut menyimpulkan bahwa jika total populasi AS yang terjangkit Covid-19 mendekati nol persen, maka vaksin harus memiliki tingkat keampuhan 80% dan 3/4 dari total populasi harus mendapatkan vaksinasi jika pandemi Covid-19 ingin dieradikasi.

Vaksin dengan efektivitas rendah bukan berarti tak berguna. Hanya saja penanganan pandemi dengan penerapan protokol kesehatan serta social distancing masih perlu dilakukan untuk waktu yang lebih lama. 

Efektivitas vaksin juga berpengaruh terhadap persepsi dan kepercayaan publik. Sebuah studi yang dilakukan oleh peneliti lokal dan asing yang dipublikasikan di Jurnal Front Public Health 14 Juli 2020 dengan judul 'Acceptance of a COVID-19 Vaccine in Southeast Asia: A Cross-Sectional Study in Indonesia' menunjukkan bahwa 93,3% responden bersedia divaksinasi jika vaksinnya memiliki efektivitas sebesar 95%. 

Namun jika vaksinnya hanya memiliki efektivitas sebesar 50% saja keberterimaan program vaksinasi menurun drastis menjadi hanya 67%. Studi tersebut dilakukan terhadap 1.359 responden. 

Dari studi tersebut dapat disimpulkan bahwa publik dalam hal ini masyarakat Indonesia akan lebih susah menerima program vaksinasi jika vaksinnya memiliki efektivitas yang rendah. 

Apalagi sejak tahun 2015-2019, kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap vaksin cenderung drop. Studi yang dilakukan oleh de Figueiredo dkk yang dipublikasikan di jurnal the Lancet baru-baru ini menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat RI terhadap keamanan, urgensi dan efektivitas vaksin terus menurun. 

Hal ini dipicu oleh faktor keyakinan terutama aspek kehalalan dari vaksin. Soal kehalalan vaksin, tim inspeksi yang terdiri dari unsur BPOM, Kementerian Kesehatan, MUI, Bio Farma akan bertolak ke Tiongkok pada tanggal 14 Oktober 2020 untuk melihat kualitas fasilitas produksi dan kehalalan vaksin produksi Sinovac, dan Cansino.

Sementara data untuk vaksin G42/Sinopharm akan diambil dari data uji klinis di UAE karena diproduksi di sana. Kehalalan vaksin Sinovac dan Cansino akan dijamin melalui partisipasi MUI dalam proses pengujian data, begitu juga dengan kehalalan vaksin G42/Sinopharm.

Itu baru sekelumit tantangan yang harus dihadapi ketika program vaksinasi masal dimajukan. Sebenarnya masih banyak printilan lain yang juga tak kalah penting untuk mewujudkan program vaksinasi masal terutama kesiapan infrastruktur dan logistik serta tenaga medis. 

Pada akhirnya untuk bisa membuat RI bebas Covid-19 mulai tahun ini tetaplah bukan pekerjaan yang mudah.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading