Cara Ekstrem Ini Disebut Bikin Warga Kebal Corona, Sukseskah?

Tech - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
08 September 2020 17:02
Doctor Giovanni Passeri, top left, with his assistant doctor Mariaconcetta Terracina, has 82-year-old patient Mario read his note about his medical conditions during a routine examination as part of a night shift in his ward in the COVID-19 section of the Maggiore Hospital in Parma, northern Italy Wednesday, April 8, 2020. Mario has been under oxygen CPAP (continuous positive air pressure) headgear ventilation and he could only communicate in writing because the hissing sound of the oxygen made it difficult for him to hear the doctor's voice. Mario's health conditions have been worsening since after his admission on March 28. He died in the evening of April 14. (AP Photo/Domenico Stinellis)

Jakarta, CNBC Indonesia - Kunci utama seseorang bisa kebal terhadap Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) adalah diproduksinya antibodi serta aktifnya sistem kekebalan tubuh. Cara membentuk imunitas itu ada dua dari yang paling umum sampai yang paling ekstrem.

Konsep herd immunity banyak didengungkan saat pandemi Covid-19 merebak. herd immunity adalah suatu fenomena untuk membuat sebagian besar populasi kebal dari suatu penyakit.

Mencapai kondisi herd immunity terhadap Covid-19 adalah tujuan setiap negara di dunia ini. Salah satu caranya adalah dengan mengembangkan vaksin. Seperti yang diketahui bersama vaksin merupakan virus atau patogen utuh maupun komponennya yang tidak berbahaya tetapi masih bisa memicu respons imun.


Orang yang telah diimunisasi diharapkan bakal membentuk antibodi penangkal patogen. Namun keberhasilan vaksinasi ini akan sangat tergantung dari banyak faktor.

Studi yang dilakukan oleh Bartsch dkk dari City University of New York menyebutkan bahwa keberhasilan pengendalian pandemi dengan vaksin akan sangat tergantung pada tiga hal yaitu efektivitas vaksin, ukuran populasi yang divaksinasi hingga total kasus infeksi dalam suatu populasi.

Berbicara mengenai efektivitas vaksin, Makhoul dkk dari Cornell University dan Doha University menjabarkan efektivitas atau lebih tepatnya efficacy ini menjadi empat kelompok yaitu efficacy dalam menurunkan kerentanan, infeksi, durasi infeksi hingga keparahan penyakit.

Artinya efektivitas vaksin ini sangat tergantung pada kemampuan vaksin untuk memicu timbulnya respons imun pada manusia. Masalahnya setelah divaksinasi seberapa lama antibodi penangkal Covid-19 akan bertahan juga belum diketahui.

Jika mengacu pada kejadian SARS 17 tahun silam antibodi ini baru akan menurun 2-3 tahun pasca infeksi. Meski patogen penyebab penyakitnya masih satu golongan yakni virus corona, kita tetap tidak bisa mengambil kesimpulan bahwa hasilnya akan sama.

Beberapa studi terbaru menunjukkan bahwa antibodi penangkal Covid-19 hanya mampu bertahan dalam hitungan bulan. Bahkan WHO melaporkan orang yang sembuh dari Covid-19 pun memiliki jumlah (titer) antibodi yang rendah. Hal ini membuat vaksinasi harus dilakukan tidak hanya sekali tetapi berkali-kali.  

Sampai saat ini sudah ada lebih dari 170 kandidat vaksin dikembangkan. Sebanyak 33 kandidat berada di fase uji klinis dan beberapa di antaranya berada di uji klinis fase akhir. Belum ada satu vaksin pun yang bisa dibilang efektif dan aman menangkal Covid-19. Uji klinis masih berjalan dan kita haru sabar menunggu hasilnya.

Selain vaksinasi sebenarnya ada cara lain yang bisa digunakan untuk mewujudkan herd immunity. Cara ini terbilang ekstrem. Pendekatannya adalah natural infection. Sederhananya, biarkan suatu populasi terinfeksi oleh patogen dalam hal ini Covid-19 dan ketika mereka sembuh maka mereka bisa kebal.

Eitsss....tunggu dulu! Langkah ekstrem ini juga memiliki banyak mudharat dan ketidakpastian. Bisa dibilang ini semacam langkah 'bunuh diri'. Agar dapat kebal terhadap Covid-19, para ahli memperkirakan bahwa setidaknya 70% dari total populasi harus pernah terpapar terhadap virus dan sembuh.

Masalahnya dari 70% itu banyak juga kalangan yang rentan seperti lansia, anak-anak hingga kelompok yang memiliki penyakit bawaan dan komplikasi (komorbid). Membiarkan herd immunity  lewat cara ini memang mirip-mirip genosida!

Lagipula kalau itu diterapkan di suatu negara yang ukuran populasinya mirip dengan Indonesia, maka harus ada 188 juta orang yang terjangkit penyakit. Ketika orang sebanyak itu sakit dalam satu waktu, maka sistem kesehatan bukan kewalahan lagi tapi bisa collapse.

Kalau ini terjadi maka ongkos moral, material dan kesehatannya akan sangat mahal bagi suatu negara. Apalagi kalau melihat fakta di lapangan bahwa orang yang sembuh Covid-19 pun jumlah antibodinya masih rendah serta dapat terinfeksi lagi seperti kasus yang ditemukan di Hong Kong.

TIM RISET CNBC INDONESIA


[Gambas:Video CNBC]

(twg/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading