Gembar-gembor Vaksin & Herd Immunity Covid-19, Apa Sih Itu?

Tech - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
09 September 2020 12:02
Petugas medis melayani pasien di RS Universitas Indonesia, Jakarta, Senin (2/6/2020). (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, CNBC Indonesia - Akibat pandemi Covid-19, kehidupan di sepanjang tahun 2020 menjadi tak normal dengan adanya work from home berkepanjangan, penggunaan masker hingga jaga jarak dengan orang sekitar. 

Semua itu dilakukan untuk menekan penyebaran atau penularan Covid-19 selagi perlombaan pengembangan vaksin penangkal virus corona jenis baru (SARS-CoV-2) ini sedang berlangsung.

Agar kasus bisa ditekan dengan signifikan, maka suatu populasi haruslah kebal terhadap Covid-19. Konsep ini dikenal dengan herd immunity yang belakangan sering digembar-gemborkan.


Secara umum untuk mencapai kondisi tersebut, suatu populasi harus diimunisasi dengan vaksin yang aman dan efektif atau dibiarkan terjangkit Covid-19 secara natural, sehingga kekebalan dan antibodi akan terbentuk secara sendirinya. 

Langkah yang kedua memang terbilang ekstrem. Meski dalam kajian para matematikawan dari Stockholm University & Nottingham University menunjukkan bahwa imunitas akibat terjangkit Covid-19 akan lebih kuat dari vaksinasi.

Matematikawan yang terdiri dari Tom Britton, Frank Ball dan Pieter Trapman dalam studinya pemodelan matematis yang berjudul 'The disease-induced herd immunity level for Covid-19 is substantially lower than the classical herd immunity level' menunjukkan bahwa hanya butuh sedikit orang yang terinfeksi untuk memicu herd immunity.

Pada kasus Britton dkk (2020), herd immunity akan ambil alih dan memberikan perlindungan tak langsung bagi kelompok populasi yang rentan apabila 43% dari populasi tersebut memiliki kekebalan.

Hal ini berbeda dengan herd immunity klasik yang melibatkan penggunaan vaksin yang membutuhkan 60% - 70% populasi memiliki kekebalan agar fenomena kekebalan kawanan ini muncul.

Dua ilmuwan asal Chicago University yakni Randolph dan Barreiro menunjukkan bahwa herd immunity baru muncul ketika batas ambangnya tercapai. Batas ambang herd immunity ini akan sangat tergantung pada tingkat reproduksi dari si virus (R0).

Apabila R0 virus berada di angka 2,5 artinya satu orang bisa menginfeksi 2 atau 3 orang lain, maka harus ada 60% populasi yang kebal terhadap Covid-19 agar herd immunity muncul. Ketika herd immunity muncul, maka seharusnya kasus infeksi akan menurun dan pandemi akan musnah.

Namun hal tersebut terlalu teoritis dan matematis. Meski penting untuk memodelkan fenomena wabah guna mengambil keputusan yang tepat, kenyataan tetap lebih kompleks dari pada sekedar kalkulasi matematis.

Randolph dan Barreiro dalam artikelnya yang dimuat di jurnal ilmiah Elsevier Public Health Emergency Collection dengan judul Herd Immunity: Understanding COVID-19, menyebutkan ada banyak faktor yang harus dipertimbangkan untuk membuat populasi kebal (herd immunity).

Faktor-faktor tersebut di antaranya aspek epidemiologi dan imunologi, struktur populasi, variasi interaksi, penularan virus dalam dan antar populasi hingga durasi kekebalan itu sendiri.

Herd immunity memang efektif untuk menekan kasus campak. Namun untuk kasus penyakit menular lainnya seperti pertusis (batuk rejan) dan penyakit yang diakibatkan oleh rotavirus banyak penelitian yang menyebutkan imunitasnya menurun seiring dengan berjalannya waktu.

Hal tersebut mengindikasikan bahwa program imunisasi masal dengan vaksin yang efektif dan aman pun tak 100% menjamin kasus infeksi akan muncul lagi. Namun membiarkan herd immunity terbentuk secara alami juga bukan opsi yang bijak.

Bayangkan saya jika 43% populasi harus terinfeksi dulu dan sembuh agar herd immunity tercapai. Ini jelas terlalu berisiko, apalagi jika infeksi terjadi dalam satu waktu yang bersamaan. Konsekuensinya besar, sistem kesehatan tidak hanya kewalahan tapi bisa kolaps.

Untuk melindungi kelompok yang berisiko tinggi, selain vaksinasi juga dilakukan upaya pengendalian wabah yang lain yang dimulai dari tes atau deteksi secara masif mengingat banyaknya penderita Covid-19 yang tak menunjukkan gejala, tracing yang ketat serta penegakan protokol kesehatan.

TIM RISET CNBC INDONESIA


(twg/roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading