Jika OVO & DANA Merger, Mampu Jegal GoPay-Facebook-WhatsApp?

Tech - Tirta Citradi, CNBC Indonesia
15 June 2020 11:45
INFOGRAFIS, Dompet Digital Terpopuler di Indonesia

Jakarta, CNBC Indonesia -  Dua perusahaan rintisan teknologi keuangan (fintech) RI yakni OVO dan DANA dikabarkan akan merger untuk melawan hegemoni Gopay milik Gojek. Meski belum ada keterangan resmi dari kedua belah pihak, jika aksi korporasi ini dieksekusi, mampukah kekuatan keduanya tumbangkan keperkasaan Gopay di Tanah Air?

Isu merger OVO dan DANA sebenarnya sudah berhembus sejak tahun 2019 lalu. Kini kabar tersebut kembali santer terdengar. Kabar terbaru menyebutkan bahwa keduanya akan merger untuk mengurangi aksi bakar uang dan ingin menyaingi Gopay.

Hingga kabar ini berhembus, kedua belah pihak belum memberikan konfirmasinya. CEO sekaligus salah satu pendiri DANA, Iswara enggan memberikan komentarnya. "Saya tidak dapat memberikan komentar terhadap rumor di pasar (I can't comment on market rumor)," ujar Vincent kepada CNBC Indonesia, Sabtu (13/6/2020).


Melalui Presiden Direktur OVO Karaniya Dharmasaputra, CNBC Indonesia mencoba meminta konfirmasi. Namun hingga berita ini diturunkan belum ada jawaban darinya.

Sejauh ini persaingan e-wallet di Tanah Air masih didominasi oleh Gopay. Berdasarkan rilis data Bank Indonesia (BI), total nilai transaksi menggunakan e-wallet di Indonesia terus mengalami pertumbuhan. Pada 2018 total transaksinya hanya US$ 3,2 miliar dan di tahun selanjutnya tumbuh menjadi US$ 10,45 miliar. 

Tahun lalu nilai transaksi gross Gopay diperkirakan mencapai US$ 6,3 miliar. Itu artinya pangsa pasar Gopay di Tanah Air pada 2019 sudah mencapai 61% sendiri. Strategi promosi yang kerap melibatkan aksi 'cash burning' sering dilakukan oleh para pemain untuk menggerus pangsa pasar Gopay.

Meski pemain baru banyak bermunculan seperti OVO dan DANA (2017), dominansi Gopay masih tetap terasa sampai saat ini. Berbagai survei konsumen telah membuktikannya. 

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Ipsos terhadap 500 responden yang terdiri dari generasi milenial dan gen-Z awal tahun ini menunjukkan 54% dari responden masih akan menggunakan Gopay walaupun tanpa promo. Gopay juga menjadi e-wallet paling populer di dalam negeri. Menurut survei Ipsos, Gopay menguasai pangsa pasar hingga 60% dan menjadi e-wallet yang paling sering digunakan oleh konsumen (58%).

 

Survei lain yang dilakukan oleh perusahaan riset pemasaran yang berbasis di Singapura yakni M2insights juga mengkonfirmasi dominansi Gopay. Mengacu pada survei tersebut, Gopay menjadi e-wallet yang paling banyak digunakan konsumen pada paruh kedua 2019.

Ya, untuk saat ini Gopay memang masih sangatlah kuat. OVO saat ini merupakan pesaing ketat bagi Gopay dan mengklaim menjadi e-wallet yang terbesar di Indonesia. Sementara itu DANA yang menawarkan value proposition sebagai dompet digital masih memiliki tantangan besar terutama terkait nilai account balance penggunanya yang masih rendah. 

Mengutip M2insights, jumlah total dana pengguna DANA yang disetorkan ke platform pada tanggal 31 Desember 2019 adalah US$ 21,06 juta. Jumlah pengguna DANA pada 2019 telah meningkat dari 30 juta pada kuartal ketiga menjadi 35 juta pada kuartal keempat. Ini sama dengan saldo akun e-wallet DANA rata-rata US$ 0,60/pengguna pada akhir 2019. Nilai ini masih terbilang kecil.

DANA30-Sep-1931-Dec-19
Total users' fund (IDR)IDR234,431 millionIDR293,283 million
Total users' fund (USD)US$16.48 millionUS$21.06 million
Total no. of users30 million35 million
Average balance of each accountUS$0.55US$0.60

Sumber : M2insights

Persaingan Makin Sengit
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading