1 Tahun LinkAja: Masih Kalah dari OVO & Dana, Diancam Shopee!

Tech - Herdaru Purnomo, CNBC Indonesia
30 June 2020 12:24
dok.LinkAja

Jakarta, CNBC Indonesia - 30 Juni 2019 lalu, dompet digital milik BUMN yakni LinkAja mulai eksis di Indonesia. LinkAja di bawah PT Fintek Karya Nusantara (Finarya) dimiliki sahamnya oleh BUMN lain secara keroyokan.

Di awal pendiriannya, komposisi pemegang saham diantaranya : Telkomsel 25 persen, Bank Mandiri 19,71 persen, BRI 19,71 persen, BNI 19,71 persen, BTN 7,12 persen, Pertamina 7,12 persen, Jiwasraya 1 persen, dan Danareksa 0,63 persen.

Berdasarkan data yang dihimpun CNBC Indonesia melalui thetool.io, LinkAja sampai Mei 2020 ini sudah di-download sebanyak 14.729.762 kali. Dengan average daily download mencapai 11.014.

Sementara OVO yang merupakan PT Visonet Internasional Finance sendiri yang berdiri sejak 25 September 2017 sudah di-download 20.922.583 kali. Dengan average daily download mencapai 17.806.

Infografis: Ini Perbedaan LinkAja dengan KompetitorFoto: Infografis



Saingan berikutnya adalah DANA. Di bawah PT Espay Debit Indonesia Koe Finance, total downloadnya mencapai 16.481.414 kali dengan daily average download 10.932. DANA eksis sejak 5 Desember 2018.

Aplikasi sistem pembayaran lainnya adalah Gopay yang dimiliki Gojek. Namun sayangnya Gopay tidak berdiri sendiri dan tidak bisa dibandingkan dengan DANA, OVO dan LinkAja. Aplikasi Gopay berada di bawah Gojek yang merupakan aplikasi ride hailing.

Kalah di Jakarta?

Ternyata pengguna LinkAja didominasi di luar Jakarta. Dalam klaim perseroan, LinkAja telah dilengkapi dengan hampir 120 fitur dan dipercaya oleh hampir 50 juta pengguna yang tersebar di lebih dari 90% wilayah di seluruh Indonesia. Sebanyak 83% pengguna LinkAja tersebar di luar Jakarta, dengan 40% pengguna di antaranya berada di luar pulau Jawa.

LinkAja ternyata masuk ke pasar-pasar dalam ekspansinya. Beda dengan OVO dan DANA di mal besar. Hingga Juni 2020 LinkAja juga mengklaim telah mendigitalisasi pembayaran di 466 pasar tradisional seluruh Indonesia, bekerja sama dengan 234.000 merchant lokal dan menyediakan lebih dari 1 juta akses cash in kepada masyarakat, baik berupa bank channel, modern retail hingga layanan keuangan digital.

Infografis: Ini Perbedaan LinkAja dengan KompetitorFoto: Infografis/Ini Perbedaan LinkAja dengan Kompetitor/Arie Pratama
Infografis: Ini Perbedaan LinkAja dengan Kompetitor



Wakil Menteri II Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Kartika Wirjoatmodjo mengatakan Kementerian BUMN menyatakan untuk terus mendukung pengembangan LinkAja di umur satu tahun ini sebagai salah satu inisiatif layanan keuangan dengan tujuan meningkatkan literasi dan inklusi keuangan.

"Keberadaan LinkAja sebagai dompet elektronik terkemuka di Indonesia akan melengkapi ekosistem industri keuangan dalam menjangkau dan mengedukasi masyarakat, khususnya yang belum tersentuh oleh layanan perbankan," tegas Tiko, sapaan akrab Kartika.

Persaingan Makin Ketat

Persaingan dompet digital OVO, GoPay, DANA dan LinkAja untuk menguasai pasar pembayaran tergolong sengit. Namun mereka harus hati-hati dengan kehadiran pemain baru milik Shopee bernama ShopeePay.

Riset Goldman Sachs berjudul Indonesia Internet: The Fight to Unite The Verticals yang dipublikasikan pada 10 Maret 2020 mengatakan Shopeepay memiliki keunggulan karena bisa menggunakan ekosistem e-commerce Shopee.

"Untuk pembayaran, e-wallet akan sukses bila dikombinasikan dengan penggunaan internal yang powerful (terutama e-commerce), [kami] menjagokan OVO atau ShopeePay," jelas Goldman Sachs.

ShopeePay mulai bisa digunakan untuk bisnis e-commerce pada Juni 2019 dan sudah mendiversifikasi bisnis dengan memberikan pinjaman jangka pendek pada pengguna atau yang lazim disebut sebagai Pay Later.

ShopeePay dianggap bisa meningkatkan bisnis Shopee karena mengurangi transaksi tak terjadi. "Kami percaya bahwa platform e-commerce Shopee dapat menjadi use case yang kuat untuk mendapatkan pengguna dalam platform pembayaran dan pinjaman," terang Goldman Sachs.

Goldman Sachs memprediksi pasar sistem pembayaran Indonesia akan mencapai US$95,2 miliar pada 2025, yang didorong masifnya biaya promosi, meningkatnya penetrasi smartphone di Indonesia, peningkatan penerimaan internet dan penambahan penggunaan di offline.


Direktur Utama LinkAja Haryati Lawidjaja mengatakan PR LinkAja memang masih banyak. Intinya adalah akses layanan keuangan digital untuk masyarakat.

"Masih banyak pekerjaan rumah yang harus dilakukan dalam mencapai visi dan misi kami, namun kami berharap awal kecil ini dapat menjadi langkah besar dalam membawa perubahan berarti, memberikan kesetaraan akses layanan keuangan digital untuk seluruh lapisan masyarakat. Kami juga percaya, berbekal niat baik dan usaha terbaik yang dilakukan oleh segenap talenta terbaik bangsa, LinkAja dapat terus berkontribusi untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat luas, menjadi berkah bagi bangsa tercinta."

Selamat Ulang Tahun LinkAja, Panjang Umur (Semoga) !




[Gambas:Video CNBC]

(roy)
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading