Siapa SoftBank, Investor Grab & Tokopedia yang Rugi Rp 133 T?

Tech - Redaksi, CNBC Indonesia
26 May 2020 15:26
FILE PHOTO: Softbank CEO Masayoshi Son speaks to the press after meeting with U.S. President-elect Donald Trump at Trump Tower in Manhattan, New York City, U.S., December 6, 2016.  REUTERS/Brendan McDermid/File Photo
Jakarta, CNBC Inndonesia - SoftBank, Investor Grab dan Tokopedia, mencatatkan rugi bersih US$8,9 miliar atau Rp 133,5 triliun pada tahun fiskal 2019. Kerugian ini akibat pandemi Covid-19 dan kesalahan investasi pada startup WeWork.

Kerugian SofBank disumbang oleh Vision Fund, lengan investasi perusahaan yang menyuntikkan dana pada startup unicorn atau bervaluasi di atas US$1 miliar. Vision Fund mencatatkan rugi US$12,6 miliar.

Vision Fund telah menginvestasikan US$75 miliar dana investor yang dikumpulkannya ke 88 startup unicorn. Namun kini nilai investasi tersebut anjlok menjadi US$69,9 miliar. Penyebabnya anjloknya valuasi WeWork dari US$49 miliar pada awal 2018 menjadi US$2,9 miliar pada Maret 2020.


Ini memberikan tekanan pada Masayoshi Son, pendiri SoftBank, yang dikenal cukup royal menyuntikkan dana di startup unicorn padahal dia sering dikritik karena memberikan uang pada startup yang tak jelas model bisnisnya.

Lalu siapa sebenarnya SoftBank? SoftBank merupakan perusahaan investasi asal Jepang yang didirikan Masayoshi Son pada 1981. Ketika pertama didirikan, perseroan memasang target untuk menjadi distributor utama produk-produk software di Jepang. Kebetulan, pada saat itu beberapa perusahaan distributor komputer mulai menjajaki pembukaan toko PC untuk masyarakat kebanyakan (ritel).

Untuk mengembangkan perusahaannya, Son perlu dana. Namun apa daya, aset yang ada tak mencukupi untuk menjadi agunan (kolateral) kredit bank. Maka, jurus nekad pun dilancarkan. Dengan percaya diri, dia tetap memaparkan ide dan rencana bisnisnya ke Dai-Ichi Kangyo Bank.

Di luar dugaan, Son berhasil mendapat kucuran kredit dari bank ini - yang di era 1980 memang dikenal sangat agresif mengucurkan kredit hingga organisasi kontroversial Jepang seperti Yakuza masuk dalam daftar debitornya. Nilai kredit yang diterima Son mencapai US$750,000.

Usut punya usut, ternyata Wakil Direktur Utama Sharp pada masa itu, yakni Tadashi Sasaki, secara diam-diam bertindak sebagai penyedia jaminan (private guarantor) atas proposal bisnis Son. Ketika membeli karya perdana Son, yakni software penerjemah multibahasa, bos Sharp ini yakin dengan visi dan kemampuan bisnis Son.

"Pada saat itu, saya benar-benar tidak tahu bahwa Sasaki secara pribadi telah menjamin utang saya. Sejak saya mengetahui tentang dukungannya itu, saya memutuskan bahwa saya tidak akan melupakan kebaikan hatinya," tutur Son, dalam beberapa kesempatan di kemudian hari.

[Gambas:Video CNBC]





SoftBank Hadapi Tekanan Investor
BACA HALAMAN BERIKUTNYA
HALAMAN :
1 2
Terpopuler
    spinner loading
Features
    spinner loading